Berebut Tabung Subsidi

RAMAI: Warga Desa Hilir Tengah, Kecamatan Ngabang mengantre untuk mendapat gas elpiji 3 kilogram pada kegiatan operasi pasar, Senin (3/8) lalu. ISTIMEWA

Wacana Pemerintah tidak lagi mensubsidi gas elpiji isi 3 kilogram, membuat kelabakan warga kelas bawah. Masyarakat kategori ekonomi lemah dan terdampak pandemi global Covid-19, sudah merasakannya. Sutijah, pekerja penyusun atap daun pohon sagu dan pembuat panganan kue tradisional, bercerita ?

Deny Hamdani, Kubu Raya.

Keriput di wajah Mak Ijah (61) sapaan karib Sutijah terlihat mengkerut. Namun senyum simpul di bibirnya tetap terbuka, saat menyapa siapapun. Sudah jadi kebiasaannya menegur, meski belum terlalu dikenal. Dia menegur awal karena perilaku tersebut memang diajarkan almarhum orang tuanya, sejak kecil hingga berumur ini.

Karena kebiasaan tersebut, wanita tua ini cukup dikenal tetangga lingkungannya. Sikap ramahnya juga diperlihatkan ke pelanggan yang biasa membeli dagangannya.

Kebetulan sore menjelang magrib pada pertengahan Juli 2020 lalu, Mak Ijah tengah duduk di dekat bibir pinggiran Sungai Kapuas di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Mak Ijah, rupanya sedang berehat sebentar di beranda rumah seusai membenahi pekerjaan menyusun daun atap sagunya.

Dia tengah menikmati temaram senja cahaya matahari sore, yang akan segera masuk ke peraduan. Pemandangan tersebut memiliki nilai keindahan baginya.

“Suasana sore asik sekali. Hampir setiap hari, Mak suka duduk di beranda rumah apabila pekerjaan dapur dan lain sudah selesai. Begitu masuk waktu magrib, Mak berbegas mengambil wudhu bersiap menuju musholla dekat rumah,” kata dia dengan logatnya saat menyapa media harian ini.

Mak Ijah sebenarnya tidak ada beban soal hidup. Ketiga anaknya, baik perempuan dan lelaki sudah berkeluarga semua. Rata-rata sudah punya rumah tangga dan pekerjaan.

Sudah sering kali anak atau menantunya mengajak untuk tinggal bersama. Namun, dia lebih senang memilih tinggal sendiri di pemukiman padat penduduk tersebut.

Sebab, bangunan rumah sederhana tersebut punya kenangan perjalanan hidup keluarganya. Rumah berlantai kayu, berdinding semen kawat simpai tersebut terlihat nyaman dan asri. Konsepnya lebih mirip rumah panggung model lama, meski sudah banyak dipugar sana-sini.

“Rumah ini banyak sejarahnya, meski sederhana tetapi bersih dan nyaman. Letaknya di pinggir sungai. Itu yang membuat Mak betah,” katanya bercerita.

Aktivitas Mak Ijah, selain menjadi buruh penyusun atap daun juga pembuat kue panganan tradisional. Namun tidak sering. Dia hanya menyalurkan bakat membuat kue, warisan dari almarhum mamanya. Biasanya kue-kue tersebut dijual titip ke toko tetangga atau dikonsumsi sendiri.

Sejak berusia 10 tahun, tepatnya 51 tahun lalu, almarhum mamanya sudah mengajarkan cara membuat kue. Ilmu tersebut masih diingatnya sampai sekarang. Tidak heran dapurnya sering mengepul, selain karena masakan di dapur.

“Mak suka membuat kue bolu, kue sagu dan kue lain. Sekali-kali nanti dicoba ya nak. Kebetulan hari ini, Mak tidak buat,” ucapnya menawarkan kepada media harian ini untuk kembali lagi.

Di usia senjanya, Mak Ijah sebenarnya tak gusar. Namun dia sering berkeluh kesah susahnya mencari gas elpiji bersubsidi. Padahal tabung gas melon isi 3 kilogram tersebut, dipergunakan buat memasak atau sesekali membuat kue.

Apalagi anaknya bercerita, ada wacana pemerintah ke depan menghilangkannya, menjadi tabung gas isi 5 kilogram. Harganya bakalan mahal dibandingkan gas bersubsidi.

Dulunya Mak Ijah adalah pemakai kompor berbahan bakar minyak tanah (koresene). Lama juga memakai kayu bakar. Hanya kayu bakar, susah dicari seiring tidak ranting-ranting atau bekas kayu tebangan orang.

Sawmil-sawmil di pinggiran Sungai Kapuas, dekat rumah yang biasa menyisakan kayu potong tak terpakai banyak kolaps sejak tahun 1990-an. Jadinya, kebutuhan memasak mengandalkan tabung gas elpiji.

“Itupun tabung kecil. Dulu, ada 3 tabung. Sekarang hanya tersisa 2 tabung saja,” katanya.

Memperebutkan tabung gas subsidi 3 kilogram di lingkungannya bukan perkara mudah. Bagi perempuan berusia senja ini, butuh perjuangan.

Sebagai konsumen, dia harus berjalan sendirian membawa 1 atau 2 tabung kosong sekaligus. Jaraknya, lumayan jauh dari bibir sungai kapuas ke pangkalan di pinggir jalan Adisucipto, Desa Arang Limbung.

Jelas rasa keberatan dan kelelahan, akibat jarak rumahnya dengan pangkalan penyalur tabung gas elpiji bersubsidi lumayan jauh. Namun demi membeli harga gas melon hijau seharga Rp16.500, Mak Ijah rela melakukan.

Sebab, jika tidak ikut antri, dia harus membeli dengan harga sedikit mahal di toko tetangga, dekat rumahnya. Harga jualnya berkisar Rp22.000-23.000 per tabung.

“Bedanya bisa sampai Rp9.000, dari harga agen penyalur,” kata dia.

Mengantri dan memperebutkan 1 tabung gas elpiji subsidi isi 3 kilogram juga tak mudah. Pangkalan biasanya meminta fotokopi KTP, untuk mengetahui warga sekitar agen atau bukan.

Syarat tersebut terkadang membuat Mak Ijah memilih tak mengantri, apabila kecapean. Dia lebih memilih membeli dengan harga keekonomian, dari tetangga dekat rumah. Itupun kalau stoknya masih tersedia.

Di pangkalan, sudah biasa Mak Ijah melihat kiri-kanan tetangganya membawa tabung kosong. Biasanya di tempat antrian sambil membunuh waktu, dia bercengkrama dengan tetangganya. Antrian lama menunggu tabung melon hijau sudah menjadi ajang silaturahmi.

“Kami biasa bersenda gurau akibat jarang bertemu saja. Di situ sukanya antri,” ucapnya.

Antrian membeli tabung gas subsidi pernah memunculkan keributan. Pertengahan Juli, Mak Ijah melihat warga antri panjang sampai mengular. Stok terbatas dan habis, sebagian warga tak mendapatkan gas elpiji subsidi. Emosi memuncak.

Akhirnya kalimat pedas dan saling menyindir antara pangkalan dan pengantri terdengar keras. Belum lagi ditambah suara emak-emak yang protes habis.

“Hampir ribut. Untung ada warga dan pengamanan kepolisian,” katanya bercerita.

Bagi warga yang beruntung mendapatkan si melon hijau, jelas ada rasa kegembiraan. Rasa lelah menunggu lama, terbayarkan jika tabung gas elpiji isi 3 kilogram berhasil dibawa pulang.

Bagi Mak Ijah sendiri, 2 tabung melon hijau diartikan 2-3 minggu ke depan bahkan lebih, urusan dapur mengepul tetap aman.

Nun jauh di sana, di Sambas sebuah Kabupaten berjarak 276,8 kilometer atau persisnya 6 jam dan 56 menit perjalanan, dari Kabupaten Kubu Raya, Aminah (46) seorang ibu rumah tangga sering mengalami antri panjang memperebutkan si melon hijau.

Sama seperti pengantri lain, memperoleh tabungan subsidi isi 3 kilogram waktu itu, susahnya luar biasa. Seperti membeli barang langka. Label hukum ekonomi pun berlaku.

“Barang susah dicari harga mahal dong bang. Saya sering beli meski harga mahal untuk kebutuhan masak dari toko tetangga,” ujarnya.

“Bagaimanapun tabungan gas elpiji isi 3 kilogram tetap harus didapat, agar dapur kami tetap berasap,” sambung dia,

Aminah memang mengibaratkan tabung gas isi 3 kilogram sama dengan beras, sayur mayur, minyak goreng, gula dan kopi. Si melon hijau sudah menjadi kebutuhan dasar dan tidak boleh hilang.

“Tak ada gas. Beras tidak bisa jadi nasi. Sayur akan tetap mentah. Gula dan kopi suami tidak akan bisa diaduk. Gas elpiji = kebutuhan pokok kami,” ucapnya waktu itu.

Dua warga beda kabupaten dan terpaut jarak ratusan kilometer ini hanya berharap pembeli tabung subsidi isi 3 kilogram masih tetap ada dan tersedia banyak di pangkalan juga agen. Pun wacana tabung gas 5 kilogram harga keekonomian terwujud, tetapi si melon hijau tetap tidak boleh dihilangkan.

Di sisi lain, di daerah Aminah yang sekarang melihat pemandangan antri panjang dan mengular bersama tabung gas kosong sudah tak terlihat banyak lagi.

Meski ada, namun jarang karena stok sudah cukup banyak. Aminah melihat tata niaga dari agen-pangkalan-penyalur dan ke masyarakat relatif sudah lebih baik. “Stoknya banyak. Di toko-toko tetangga rumahnya juga sering tersedia,” kata wanita tamatan SLTA ini.

Akhir Juni 2020, memang Pemprov Kalbar pernah bereaksi keras memantau kelangkaan elpiji terjadi dalam beberapa pekan sebelumnya. Antrian tak hanya terlihat di Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, dan Kabupaten Sambas. Gubernur Kalbar, Sutarmidji mewanti-wanti Pertamina segera mengatasi kelangkaan elpiji bersubsidi di wilayahnya. Sebab hampir semua masyarakat di Kalbar saat itu, sulit mendapatkan elpiji bersubsidi.

“Ini harus segara diselesaikan,” kata Sutarmidji di kantor Gubernur, akhir Juli 2020.

Mantan Walikota Pontianak dua periode ini bahkan menurunkan Satpol PP Kalbar, untuk melakukan razia ke agen-agen dan pangkalan penjual elpiji bersubsidi. Dia menduga ada persoalan tata niaga penjualan si melon hijau sehingga terjadi kelangkaan di Kalbar.

“Urusan tata niaga semua bisa diatur. Dari agen ke pangkalan lalu ke pengecer. Kalau terjadi kelangkaan, agen yang harus bertanggung jawab,” tuturnya waktu itu.

Midji sapaan karibnya menambahkan data terpadu Pemprov Kalbar merinci bahwa jumlah keluarga sejahtera atau orang miskin di Kalbar ada 462.000.

Dengan pasokan elpiji bersubsidi yang disediakan Pertamina selama ini, dirinya meyakini stok elpiji tabung 3 kilogram seharusnya mencukupi dan tidak terjadi kelangkaan.

“Andai ada agen dan pangkalan nakal, berhentikan saja dan ganti,” katanya dengan nada keras waktu itu.

Respon keras juga disampaikan Ketua Komisi IV DPRD Kalbar, Edy R. Yacoeb. Komisi membidangi kesejahteraan masyarakat ini melayangkan protesnya karena masyarakat dibuat antri panjang untuk membeli si melon hijau.

“Kasihan masyarakat. Hampir seluruh kabupaten/kota terjadi antrian. Susah sekali membeli tabung gas elpiji isi 3 kilogram ini,” kata Mantan Wakil Walikota Singkawang ini.

Dia meminta Pertamina wilayah Kalbar menambah stok tabung gas 3 kilogram hingga 2-3 kali lipat. Tujuannya juga memutus mata rantai antrian mengular, sehingga tidak terlihat Kalbar sedang krisis energi elpiji.

“Malu kita. Persoalannya mudah. Tambah stoknya. Lihat tata niaganya. Ada yang curang, segera amankan,” ujar dia waktu itu.

Region Manager Communication Relation and CSR Kalimantan, Roberth MV Dumatubun langsung merespon dengan menyebutkan bahwa Pertamina Marketing Operation Region VI Kalimantan menambah jumlah tabung gas elpiji karena ada kenaikan permintaan menjelang dan sesudah Idul Adha.

Persediaan tabung gas elpiji isi 3 kilogram di Kalimantan Barat ditambah menjadi 149.160 buah. Tujuannya mengatasi kelangkaan yang terjadi beberapa pekan terakhir. Penyaluran tabung gas dilakukan bertahap dari 30 Juli hingga 5 Agustus 2020.

Roberth menambahkan bahwa penambahan cadangan mengacu pada rata-rata konsumsi harian bulan Juli 2020 yang meningkat 5,7 persen atau 133.966 tabung per hari, dari rata-rata konsumsi harian 126.769 tabung per hari. Pada bulan Agustus, 2020 diprediksi pemakaian elpiji tabung tiga kilogram di Kalbar meningkat 3,6 persen dari rata-rata harian normal. Peningkatan ini setara dari 127.025 menjadi 131.574 tabung per hari.

Guna meratakan saluran distribusi BBM dan Elpiji, Pertamina juga membangun Pertashop di pinggiran desa. Pertamina tetap berkomitmen memenuhi kebutuhan akan elpiji subsidi di tengah masyarakat.

“Namun juga harus didukung seluruh komponen masyarakat,” tukasnya.

Dia berharap, penggunaan gas elpiji bersubsidi benar-benar diterima bagi yang berhak. Sementara keluarga kategori mampu, diminta beralih ke gas elpiji non subsidi berupa produk Bright Gas dengan varian 220 gram, 5,5 kilogram, atau elpiji tabung 12 kilogram**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!