Berharap Muda-Jiwo Rujuk

HUT PGRI: Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan dan Wabup Kubu Raya, Sujiwo menghadiri Upacara HUT PGRI di halaman kantor bupati. Ashri/Pontianak Post

Banyak PR Pembangunan Menanti

SUNGAI RAYA – Konflik antara Bupati dan Wakil Bupati Kubu Raya dinilai berdampak pada jalannya roda pemerintahan dan pembangunan. Sejumlah pihak berharap masalah kedua pemimpin ini bisa diselesaikan secara damai. Terlebih lagi masih banyak pekerjaan rumah (PR) atau permasalahan daerah yang harus dituntaskan.

Harapan ini antara lain disampaikan Zamroni, tokoh agama Kubu Raya. Ia mengaku tidak mengetahui detail permasalahan yang terjadi sehingga membuat Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo memutuskan mundur dari jabatannya. Kendati demikian, Zamroni berharap masalah itu segera berakhir agar proses pembangunan bisa berjalan baik.

“Pembangunan yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat itu kan berangkat dari  pemimpinnya sehingga dibutuhkan ada harmonisasi antara bupati dan wakil bupatinya. Bagaimana bisa menjalankan roda pemerintahan dengan maksimal jika tidak ada suasana yang kondusif di internal pemerintahan,” kata Zamroni.

Ia berharap permasalahan yang ada segera diakhiri agar harmoni tercipta kembali. Dengan demikian, pembangunan bisa berjalan baik, janji-janji politik yang sudah diutarakan bisa terealisasi maksimal dan kesejahteraan masyarakat pun lebih mudah terwujud.

“Mari sama-sama kita doakan, agar masalah ini segera  berakhir dan suasananya bisa kembali kondusif,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis UIama Indonesia (MUI) Kubu Raya ini.

Pengamat Politik Universitas Tanjungpura, Zulkarnaen menilai konflik antara Wakil Bupati Kubu Raya, Sujiwo bersama Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan secara tidak langsung juga berdampak pada jalannya roda pemerintahan di kabupaten ini.

“Bagaimana keduanys bisa menjalankan visi misi pemerintahan dengan baik dan berjuang membangun, sementara sedang berkonflik. Makanya pihak-pihak terkait seperti partai pengusung bisa segera memediasi keduanya untuk menemukan titik temu dan berdamai,” kata Zulkarnaen kepada Pontianak Post, Selasa (23/6).

Untuk menemukan titik temu damai tersebut, kata dia, kedua belah pihak harus saling menekan ego masing-masing dan berupaya untuk saling mendekat. Dia pun berharap partai pengusung bisa turut menjembatani kedekatan tersebut.

Zulkarnaen memastikan, kinerja dan roda pemerintahan akan lebih terganggu jika di tengah jalan terjadi pecah kongsi. Program pembangunan dan lain-lain yang telah ditetapkan sebelumnya tak akan sukses lantaran banyak energi terkuras untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.

Di sisi lain, kata dia, partai politik pengusung juga dirugikan, karena akan dinilai masyarakat gagal mengusung Muda-Jiwo menjadi pemimpin yang solid untuk membangun Kubu Raya. Dia memperkirakan, pengunduran diri Sujiwo sebagai Wakil Bupati Kubu Raya tersebut merupakan bagian dari negosiasi atau proses tawar-menawar dalam konteks aktualisasi  peran masing-masing dari bupati dan wakil bupati.

“Sejauh ini juga belum ada keputusan formal untuk merealiasikan pengunduran dirinya (Sujiwo) baik dari pihak DPRD Kubu Raya, pemprov hingga Kemendagri. Jadi, saya rasa masih bisa diupayakan untuk dimediasi,” jelasnya.

Melihat minimnya tanggapan Bupati Kubu Raya, Muda Mahendrawan terhadap masalah ini,  Zulkarnen menilai itu mengisyaratkan bahwa persoalan yang ada berpotensi bisa diselesaikan. “Saya pikir, dengan tidak banyaknya komentar beliau (Muda Mahendrawan) mengisyaratkan ada peluang jika masih bisa kembali bersama-sama mempimpin Kubu Raya,” ujarnya.

Upaya Sujiwo melayangkan surat pengunduran diri dari jabatannya pun dinilai wajar. Menurut Zulkarnen, itu dapat dilihat sebagai salah satu bentuk atau upaya tawar-menawar dalam menjalankan peran di pemerintahan.

“Tentunya kita sama-sama beharap  partai pengusung bisa memanfaatkan perannya semaksimal mungkin untuk memediasi kedua belah pihak,” ucapnya.

Agar ditemukan win win  solution dalam konteks politik, kata Zulkarnen, kedua pihak harus mengedepankan akuntabilitas jabatan politik  dengan memprioritaskan kepentingan masyarakat sehingga bisa lebih mencair.

Fakta sebagai kabupaten termuda di Kalimantan Barat, kata dia, seharusnya bisa mendorong pemerintah daerah setempat untuk solid dan berkerja keras membangun dan menyejahterakan masyarakatnya. Hal tersebut diperlukan mengingat hingga saat ini masih cukup banyak masalah yang ada di kabupaten dengan sembilan kecamatan ini.

Masalah yang dinilai penting untuk diatasi tersebut misalnya infrastruktur jalan, pemenuhan kebutuhan air bersih, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lainnya.

“Kubu Raya merupakan kabupaten yang berbatasan langsung dengan ibu kota provinsi yakni Pontianak. Dengan sumber daya alam yang banyak, harusnya Kubu Raya bisa diperjuangkan untuk bisa lebih maju dan tentu peran kepala daerah sangat dibutuhkan untuk memajukan Kubu Raya termasuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Litbang Tim Pembentukan Kubu Raya, Iqbal Asraruddin berharap persoalan pengunduran diri Sujiwo dari jabatannya sebagai Wakil Bupati Kubu Raya bisa segera diselesaikan dengan solusi terbaik.

“Kami sebagai masyarakat Kubu Raya ingin para pemimpin kami ini bisa sama-sama kembali bersatu untuk kembali membangun Kubu Raya. Mereka harus ingat dengan motto awal mereka saat mencalokan diri sebagai kepala daerah yaitu, Muda-jiwo bersatu, rakyat menyatu. Kami harap mereka bisa sama-sama saling bersikap arif bijaksana untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Iqbal Asraruddin kepada Pontianak Post.

Iqbal meyakini perseteruan yang terjadi antara Muda-Jiwo bisa diselesaikan, apalagi dengan melibatkan tokoh-tokoh agama di Kubu Raya yang sejak awal menyatukan dan mendukung keduanya untuk  duduk menjadi kepala daerah di kabupaten ini.

“Selain partai pengusung, saya rasa peran tokoh agama yang sejak awal menyatukan dan mendukung keduanya duduk di kursi pemerintahan juga harus dilibatkan untuk kembali menyatukan keduanya,” jelasnya.

“Sebagai kabupaten baru, persoalan di Kubu Raya ini masih banyak yang harus diselesaikan. Saya yakin dengan kembali menyatu dan berdamainya kedua tokoh ini bisa kembali membangun Kubu Raya menjadi lebih maju ke depannya. Dan kami tentunya berdoa agar keduanya bisa saling bersikap bijak dan mengutamakan kepentingan masyarakat dan pembangunan di Kubu Raya,” pungkasnya. (ash)

loading...