Berjemur, Kebiasaan Baik di Masa Pandemi

Dokter Isma Resti Pratiwi menjelaskan bahwa berjemur secara tidak langsung dapat membantu meningkatkan sitem imun tubuh yang sangat dibutuhkan pada masa pandemi.

PONTIANAK – Berjemur jadi aktivitas yang digemari banyak orang di masa pandemi Covid-19, selain bersepeda dan bercocok tanam. Mulai dari pejabat publik, public figure hingga influencer pernah membagikan aktivitas berjemurnya di laman media sosial.

Aktivitas berjemur diyakini dapat meningkatkan imun tubuh yang berguna untuk melawan virus corona. Dalam rangka memerangi Covid-19, selain kampanye #dirumahaja dan taat protokol kesehatan dengan 3 M; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun, berjemur bisa menjadi salah satu kebiasaan baik.

Namun, perlu diketahui, berjemur tidak selamanya baik untuk tubuh. Perlu waktu yang tepat dan sinar matahari yang sesuai kebutuhan. Salah waktu berjemur malah bisa menimbulkan dampak negatif. Berikut penjelasan Dokter Isma Resti Pratiwi.

Sinar matahari yang mengandung ultraviolet (radiasi) dapat dibedakan menjadi sinar UV A dan UV B. Terdapat beberapa perbedaan antara UV A dan UV B, diantaranya; UV A dapat menimbulkan potensi kanker, mempercepat penuaan dan bisa menembus kaca. Sedangkan UV B, dapat berpotensi kanker tetapi lebih tinggi, dapat membuat sunburn, tidak bisa menembus kaca dan yang paling penting UV B diperlukan untuk membuat vitamin D.

Dokter Isma menjelaskan bahwa berjemur bermanfaat untuk tubuh mendapatkan UV B dari matahari. UV B ini dibutuhkan untuk memproduksi vitamin D yang berfungsi meningkatkan sistem imunitas tubuh. Jadi, berjemur secara tidak langsung membantu menaikkan imun tubuh.

“Dalam berjemur ini kita mengejar manfaat UV B, waktu terbaik untuk berjemur itu saat paparan UV B sedang tinggi. Nah, UV B sendiri memang terbanyak ditemukan pada siang hari sekitar pukul 10.00-16.00 WIB, namun pada pukul 08.00-10.00 WIB UV B pun sudah ada,” ujar Isma.

Dijelaskan dokter yang bertugas di RSUD Kubu Raya ini, untuk tahu berapa intensitas UV B yang mendekati akurat sebetulnya dapat menggunakan aplikasi UV indeks. Dari aplikasi tersebut dapat diketahui berapa kadar UV B pada jam tertentu dan berapa waktu yang diperlukan untuk berjemur sesuai dengan intensitas UV B saat itu.

Dokter Isma menambahkan, bila terlalu lama, paparan sinar matahari dapat menyebabkan sunburn atau kulit terbakar akibat terlalu banyak terpapar sinar matahari. Hal itu perlu dihindari sebab bisa memicu cikal bakal kanker kulit.

“Sebenarnya tidak masalah mau berjemur pada sekitar pukul 08.00 sampai 10.00 WIB. Tetapi tidak disarankan untuk berjemur di atas pukul 10.00 atau 11.00 WIB. Karena bila intensitas UV B terlalu tinggi, kulit dapat mencapai sunburn walau hanya dalam waktu yang singkat,” jelas Dokter Isma.

Kebiasaan rutin berjemur dilakukan oleh Huda Rabbani, mahasiswa PGMI IAIN Pontianak ini mengaku memulai kebiasaan barunya ini semenjak pandemi Covid-19, ia pun merasakan hal-hal baik lainnya setelah itu, dari kesehatan hingga hubungan sosialnya.

“Jam delapan pagi saya duduk di teras rumah sambil minum susu dan ngobrol sama tetangga. Akhir-akhir ini juga bantu bersihkan rumput dekat tanaman tetangga. Manfaatnya jadi segar, kemudian jadi akrab dengan tetangga yang sama-sama berjemur jadi bisa bercengkerama. Semoga udara segar selalu terjaga,” harap Huda.

Hal yang Keliru Soal Berjemur

Aktivitas berjemur saat mewabahnya Covid-19 memang banyak dianjurkan. Sayangnya, informasi yang beredar terkait berjemur masih banyak yang kurang tepat. Berikut penjelasan Dokter Isma terkait hal-hal keliru soal berjemur.

Berjemur dapat membunuh Corona

Banyak masyarakat berpendapat bahwa berjemur dapat membunuh virus Corona. Faktanya, coronavirus baru akan mati pada suhu 56 derajat Celcius dan tubuh kita tidak mampu menerima panas sekuat itu. Sinar matahari juga tidak sampai sepanas itu, sehingga berjemur tidak dapat membunuh virus.

Cukup berjemur di rumah

Ada anggapan bahwa berjemur cukup dilakukan di dalam rumah apabila sinar matahari masuk menembus kaca. Padahal, sinar UV B tidak dapat menembus kaca, jadi manfaat berjemur tidak bisa didapat melalui berjemur dengan cara seperti itu.

Vitamin D hanya didapat dengan berjemur

Anggapan bahwa satu-satunya cara mendapatkan vitamin D adalah dengan berjemur adalah salah. Karena bahkan secara teori, manfaat berjemur sebetulnya tidak lebih banyak dari kerugiannya.

Tidak perlu sunscreen

Sunscreen tetap diperlukan untuk melindungi kulit dari sunburn, efek yang tidak diinginkan dari berjemur. Penggunaan sunscreen SPF 15-30 bisa tetap berguna untuk penyerapan UV B sekaligus mengurangi efek dari sunburn. (mya/sya)

error: Content is protected !!