Berjuang di Tengah Lesunya Ekonomi

Banyak hal berubah selama mewabahnya virus COVID-19, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Bahkan, pengeluaran terasa lebih membengkak dibandingkan hari-hari sebelum wabah. Bagaimana keuangan tetap bisa bertahan di tengah wabah pandemi ini?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Pandemi COVID-19 berdampak besar bagi perekonomian seseorang. Ada sebagian karyawan yang masih mendapatkan gaji dengan besaran normal di tengah krisis. Tapi, ada pula yang pemasukannya berkurang drastis karena pekerjaan tertunda akibat pembatasan sosial yang tengah dilakukan saat ini.

Salah satunya, dialami oleh Yudi. Pria yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online ini merasa pandemi COVID-19 sangat berpengaruh terhadap pendapatan hariannya. Jika dulu dalam sehari dia bisa mengantongi uang sebesar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu perhari,  kini untuk mencapai Rp100 ribu saja sulit.

“Saya hanya berharap situasi bisa kembali normal. Semoga juga ada kebijakan dari pemerintah untuk kami” curhatnya.

Tidak hanya pengemudi ojek online, pemilik usaha di bidang usaha mikro kecil menengah (UMKM), juga menghadapi situasi yang sama. Terlebih saat ini sedang digalakkan social distancing sehingga pemilik UMKM, seperti restoran, cafe atau warung kopi diminta hanya menyediakan layanan take away (bawa pulang).

“Sementara untuk membeli kebutuhan usaha dan membayar gaji didapatkan dari hasil penjualan. Jika pegunjung atau pembeli sepi, tentu pemasukan juga tidak banyak,” ujar Babe pemilik usaha warung kopi kecil ini pasrah.

Melihat kondisi ini, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Dr. Helma Malini, SE., MM mengatakan penurunan ekonomi tentu dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Apalagi saat ini pemerintah masih menghimbau untuk self quarantine atau beraktivitas di rumah saja.
Helma tidak memungkiri pemilik UMKM dan orang yang memiliki pekerjaan tidak tetap (diupah berdasarkan pekerjaan harian) turut merasakan dampaknya.

“Mungkin pengaruh di minggu kedua ini masih kecil, meski sudah terasa. Tapi, tidak untuk tiga minggu kedepan. Dampak penurunan ekonomi cenderung besar,” ungkapnya.
Mengatur keuangan di situasi seperti saat ini pun dinilai Helma tergolong sulit. Sebab, pemasukan pasti berkurang cukup besar dibanding sebelumnya. Ditambah lagi hingga saat ini belum ada wacana untuk membantu mengurangi beban masyarakat menengah ke bawah ini.
“Hal yang bisa dilakukan menunggu bantuan (pemberian insentif) dari pemerintah. Jika dipaksakan berhemat sudah tidak mungkin karena tidak adanya pemasukan,” tuturnya.

Persiapan dana darurat di situasi ini juga tidak akan mungkin dapat dilakukan. Karena kebanyakan tidak mempersiapkan dana darurat jauh hari.
Menurut Helma, dana darurat semestinya sudah dipersiapkan sejak jauh-jauh hari, setidaknya dalam kurun waktu tiga bulan sebelumnya. Meski begitu tidak perlu takut kebutuhan harian tidak bisa terpenuhi.

“Jika yang bersangkutan memiliki tabungan tidak ada salahnya untuk digunakan lebih dulu,” katanya.
Helma menuturkan kedepanya prinsip yang bisa dilakukan adalah berhemat. “Sudah tidak ada lagi cerita investasi atau menabung. Dalam melakukan evaluasi untuk berhemat usahakan melalui kesepakatan bersama anggota keluarga, baik suami istri maupun anak,” ujarnya. **

loading...