Bermesraan di Hadapan Buah Hati

Ilustrasi

Pasangan suami istri tentu tak bisa sembarangan memperlihatkan kemesraan ketika di hadapan anak. Namun, bukan berarti tak bisa menunjukkan kemesraannya dan hubungan menjadi dingin. Lantas, sampai mana batasan yang harus diperhatikan?

Oleh : Siti Sulbiyah

Bermesraan merupakan salah satu ekspresi cinta dan kasih sayang yang ditunjukkan baik oleh suami maupun istri. Kemesraan sangat diperlukan untuk menghangatkan suasana rumah tangga serta membuatnya menjadi harmonis. Tidak hanya dalam bentuk hubungan suami istri, namun ekspresi mesra juga ditunjukkan dengan  berciuman, berpelukan, bahkan sekadar berangkulan.

Kehadiran buah hati pun tak boleh menghalangi kemesraan antara suami dan istri. Bahkan sebenarnya, menunjukkan rasa cinta pada pasangan juga penting dilakukan di hadapan anak-anak. Menurut psikolog keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psikolog, bermesraan di depan anak justru sangat dianjurkan untuk dilakukan, karena berdampak baik bagi anak.

“Menampakkan kemesraan di depan anak malah sangat dianjurkan. Mengapa? Agar mereka beranggapan bahwa hubungan orangtuanya baik-baik saja,” ungkap Anna.

Namun perlu digarisbawahi, lanjut dia, bermesraan yang dimaksud bukan mengarah pada hubungan seks suami dan istri. Termasuk dalam bentuk kata-kata dan lelucon kotor yang dilempar oleh orang tua. Jika yang dimaksud adalah hal tersebut, maka bermesraan seperti itu sangat tidak disarankan karena sangat tidak baik bagi psikologi anak.

“Tidak disarankan (bermesra) yang terkait hubungan seksual. Seperti Frenchkiss, apalagi sampai senggama. Ini jangan sampai terlihat,” tutur Anna.

Anna menjelaskan definisi mesra sangatlah luas. Mesra antara suami dan istri yang dibolehkan di depan anak adalah mesra yang menunjukkan kasih sayang dan kehangatan keluarga. Pelukan, belaian atau rangkulan yang dilakukan antara suami dan istri merupakan bentuk kasih sayang yang dianjurkan dilakukan di depan anak. Dari sana, anak-anak akan belajar kasih sayang dan cara mencintai dengan melihat kedua orang tua mereka. Keharmonisan seperti ini perlu ditunjukkan agar anak merasa bahagia akan keluarganya.

“Cara ini justru merupakan salah satu bentuk yang menunjukkan betapa menyenangkannya berkeluarga dalam perkawinan yang sah,” kata dia.

Berpegangan tangan misalnya, akan menunjukkan kebersamaan dalam keluarga. Atau saling memeluk satu sama lain, membuat anak merasa aman berada dalam keluarga. Apalagi jika mereka juga sering dilibatkan dalam pelukan keluarga. Selain itu, duduk bersama dan saling ngobrol akan membuat anak merasa bahwa masing-masing anggota keluarga menghargai kebersamaan mereka.

Memperlihatkan kemesraan antara suami dan istri dinilainya sehat untuk perkembangan anak. Namun, anak-anak juga perlu diberikan pengertian bahwa tidak pada semua orang kemesraan itu bisa dilakukan. Hal ini dilakukan agar anak tidak beranggapan bahwa bentuk kemesraan antar laki-laki dan perempuan, dapat dilakukan kepada siapapun.

Lantas bagaimana jika tidak bermesraan? Menurut dia, hal ini akan berefek kurang baik bagi anak. Dikhawatirkan anak-anak beranggapan bahwa sebuah pernikahan atau keluarga, bukan tempat yang hangat baginya. Terlebih jika orangtua sering bertengkar. Ketidakharmonisan orangtua akan mengakibatkan anak memiliki konsep relasi yang tidak sehat.

“Dia bisa membangun relasi yang buruk, termasuk untuk perkawinannya kelak. Hal ini karena kurangnya model pernikahan sehat yang dilihatnya,” pungkasnya. **

loading...