Bersikap Posesif pada Anak

for her

Rasa cinta dan sayang pada anak membuat orang tua selalu ingin melindungi buah hati. Namun, tanpa disadari sikap ini berlebihan, bahkan cenderung posesif. Apakah ini wajar?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Perkembangan zaman dan era globalisasi yang semakin modern menjadi alasan orang tua bersikap posesif pada buah hati tercinta. Orang tua takut sang anak ikut terbawa pengaruh negatif perkembangan zaman. Namun, rasa takut yang berlebihan hingga bersikap posesif dan overprotektif pada anak tidak dibenarkan. Dikhawatirkan dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Psikolog Endah Fitriani, M.Psi mengatakan wajar jika beberapa orang tua berlaku posesif terhadap buah hati tercinta.

“Mungkin ayah dan ibu merasa takut buah hati terjerat dalam lingkungan pergaulan yang salah,” kata Endah.

Namun, berlaku posesif ada batasannya. Tidak dibenarkan melakukannya secara berlebihan. Ketika usianya bertambah, anak akan mudah mengerti dan memahami sikap yang ditunjukkan orang tuanya.

Saat orang tua bersikap berlebihan atau terlalu posesif anak tidak akan merasa senang. Anak justru mengira orang tua terlalu mengekang dirinya. Dia merasa tidak mendapatkan kepercayaan untuk melakukan sesuatu, khususnya hal positif yang sebenarnya dapat mengembangkan minat dan bakat yang ada dalam dirinya. Hubungan antara anak dan orang tua pun berjalan tidak baik. Keduanya dihadapkan pada kondisi serba salah.

Orang tua boleh berlaku tarik ulur demi menghindari konflik saat berlaku posesif pada anak. Ayah dan ibu tetap bisa memberikan kebebasan pada buah hati untuk melakukan apapun. Namun, tetap dalam pantauan. Sehingga, anak merasa dirinya bisa dipercaya oleh orang tua. Memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu yang tergolong positif. Terlalu posesif atau membatasi akan membuat anak tidak berkembang, Anak pun menjadi tidak memiliki teman.

Menurut Endah, tak semua anak bisa menerima perilaku posesif yang dihadirkan. Ada anak yang merasa sikap orang tuanya ini sebagai bentuk rasa sayang dan cinta kasih orang tua terhadap dirinya. Berdampak positif bagi dirinya. Tetapi, tidak menutup kemungkinan lama-lama anak merasa bosan dengan sikap tersebut. Akhirnya berdampak buruk bagi hubungan keduanya.

Endah menuturkan dampak buruk yang dapat terjadi ketika orang tua terlalu posesif adalah sosialisasi anak dan lingkungan akan berkurang. Anak senang mencari perhatian lebih di luar rumah. Tidak bisa terkontrol. Keras kepala, emosi tidak stabil dan mau menang sendiri. Anak merasa selalu diawasi.

“Ujung-ujungnya kabur hingga nekat melakukan hal tidak diingkan, seperti bunuh diri. Anak merasa tidak memiliki tempat untuk mendengarkan keluh kesah yang sedang dirasakannya,” ungkap Endah.
Orang tua bisa mengenalkan perilaku posesif usia dini, tetapi tetap melihat perkembangan anak, arah, maupun perilakunya. Metode yang dapat dilakukan yakni memberikan pemahaman sikap posesif ini dengan mengajak anak mengetahui dampak positif dan negatif atau menceritakan pengalaman diri atau orang lain.

“Sehingga, anak mengerti jika orang tuanya berlaku posesif, mungkin ada kesalahan yang tidak sengaja dilakukannya. Intinya, jadikan anak sebagai teman, bukan menjadi musuh atau pembeda. Hindari terlalu mengawasi anak secara ketat,” ujarnya.

Apakah orang tua bisa sadar saat berlaku posesif? Endah menuturkan ada tipe orang tua yang langsung menyadari sikapnya. Namun, ada juga yang tidak karena menganggap dirinya paling benar. “Orang tua merenung dan introspeksi diri, apakah yang dilakukan selama ini baik untuk anak seusianya, atau tidak. Karena meski berperan sebagai ayah dan ibu, keduanya tetap tidak berlaku semena-mena,” saran Endah.
Endah berpesan kepada buah hati yang orang tuanya bersikap posesif agar tidak menanggapi perilaku dengan bicara atau berlaku kasar.

“Cobalah untuk bicara dari hati ke hati. Kenali emosi diri dan emosi orang tua. Jika tidak bisa berbicara secara langsung, bisa mencari pihak ketiga yang bisa menjadi jembatan untuk menyelesaikan masalah dengan orang tua,” pungkasnya. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!