Berubah atau Mati

opini pontianak post

Oleh: Aswandi*

Heraclitus, filsuf dari Yunani mengatakan “There is nothing permanen exept change”, artinya di dunia tidak ada yang abadi, semua mengalami perubahan. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Itulah sebabnya Jeck Welch menegaskan, “Change before you have to”, artinya berubahlah sebelum Anda dipaksa untuk berubah”, dikutip dari Renald Kazali (2014) dalam bukunya “Agility”.  Jadi, hidup adalah sebuah pilihan, diantara pilihan: ”Berubah atau Mati”.

Pepatah Romawi, ”Crescit in Cundo”, artinya perubahan adalah esensi dan pertanda adanya kehidupan (Change is the only evidence of life)”. Sesungguhnya Allah SWT tidak merubah keadaan suatu kaum, selama mereka tidak merubah keadaan atau sebab-sebab kemunduran mereka sendiri (QS.Ar-Ra’d:11).

Metapora perubahan; Pertama, Dinosaurus & Kecoa yang hidup jutaan tahun yang lalu di bagian barat Colorado. Di tempat itu terdapat sebuah rawa yang dihuni oleh bermacam-macam jenis mahluk hidup diantaranya Dinosaurus dan Kecoa. Pada suatu hari rawa mengering, Dinosaurus menjadi punah. Dinosaurus yang kononnya binatang raksasa yang maha hebat ternyata hanya mampu hidup di rawa. Kepunahan Dinosaurus tidak diikuti oleh kematian si Kecoa, hingga sekarang ini masih hidup. Keberhasilan si Kecoa karena kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan.

Alquran Surah An-Nahl ayat 114 berbunyi, “Dan Allah SWT telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah SWT, karena itu Allah SWT merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka, seperti halnya pakaian meliputi tubuh mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka perbuat.”        Di ayat lain Allah SWT berfirman, “Tidak kamu perhatikan orang yang telah menukar nikmat Allah SWT dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan. (QS. Ibrahum:28).

Pelajaran bermakna, kekuatan dan keberhasilan kita masa lalu dan hari ini bukanlah kekuatan kita untuk selamanya, demikian sebaliknya, contoh kasus Konosuka Matsusita, Chairul Tanjung, dan Sutarmiji. Mereka secara sadar dan sengaja mempersiapkan diri dan mau belajar.

Kedua, Spencer Johnson (2001) dalam bukunya yang berjudul “Who Moved My Cheese?” menceritakan empat tokoh imajiner yang hidup di Labirin. Mereka adalah dua ekor tikus, (Sniff & Scurry) dan dua ekor kurcaci (Hem dan Haw). Sniff adalah seekor tikus yang hanya mampu berfikir sejauh otak binatang, tetapi dikaruniai naluri yang tajam, berteman dengan Scurry yang suka melacak dan bertindak sehingga mereka mampu dengan cepat mencium setiap adanya perubahan dan bergegas mengambil tindakan sekalipun sebatas “trial and error”.

Kebiasaan bangun pagi dan langsung berlari masuk ke dalam Labirin untuk mencari cheese, setelah cheese ditemukan, dimakan dan sebelum habis cheese tersebut ia bergegas mencari cheese yang lain, keyakinan atau asumsi mereka, bahwa cheese tersebut tidak selalu ada. Sebaliknya Hew adalah seekor kurcaci sebesar tikus yang berpenampilan dan bertingkah laku sama seperti manusia saat ini.

Dalam kehidupannya menggunakan otak yang pintar, dipenuhi dengan dogma, dan emosi berteman dengan seekor kurcaci lainnya yang bernama Haw atau orang sering memanggilnya “Si Aman”. Ia dipanggil dengan sebutan itu karena sikap yang mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan sesuatu yang buruk. Haw baru mencoba beradaptasi jika ia melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik.

Predikat pintar dan terpelajar yang disandangnya memberikan pengaruh pada cara ia menyelesaikan masalah, anehnya terkadang masalah sederhana menjadi rumit hanya karena persoalan landasan teoritis yang tidak kuat atau lemah. Kesulitan mereka menemukan cheese karena metode berfikir dan keterlambatan bertindak. Namun akhirnya kurcaci tahu dimana letak cheese dan jalan menuju ke sana. Tapi mereka tidak tahu dari mana datangnya dan siapa yang menempatkannya di sana.

Kurcaci merasa sangat berbahagia dan sukses serta berfikir bahwa sekarang mereka sudah aman dan nyaman. Sejak itu mereka merasa tidak perlu lagi bekerja lebih keras dan serius untuk mendapatkan cheese, mereka telah terjebak kedalam “Zona Kenyamanan” sehingga tidak terlalu perduli dengan perubahan yang sedang terjadi. Sementara waktu sniff dan scurry tetap melakukan kegiatan rutin mereka.

Betapa terkejutnya Hew dan Haw  ketika melihat telah terjadi perubahan dan cheese yang mereka cari sudah tidak ada, dua ekor kurcaci tersebut berteriak sekeras mungkin “Who moved my cheese ?” dalam kondisi lapar, haus dan gundah, akhirnya sambil berkacak pinggang wajahnya berubah merah padam layaknya seperti wajah seseorang yang sedang marah, ia pun meraung keras sekali, “Ini tidak adil” (berulang-ulang).

Pembelajaran bermakna dari metapora tikus dan kurcaci. Pertama, cepat bertindak: ide, and than action. Kedua, awas, zona kenyamanan. Ketiga, perhatikan perubahan-perubahan kecil sejak awal, sebab ia akan membantu anda menghadapi perubahan besar yang akan muncul.

Sejak lama, Iqbal dalam sebait puisinya mengungkapkan akan pentingnya mengelola perubahan tersebut. Puisi yang dimaksud berbunyi sebagai berikut; ”Berhenti, tiada tempat di jalan ini. Sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun pasti tergilas”.

John M. Keynes, menegaskan “Facts change, mind change”. Rhenald Kazali (2005) dalam bukunya ”Change” mengatakan, “Tak peduli berapa jauh jalan salah yang telah Anda lalui, putar arah sekarang juga”.

Jadi, eksistensi atau keberadaan manusia ditentukan oleh kemampuannya memahami, merespons dan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Charles Darwin; ”Eksistensi manusia tidak ditentukan dari power atau kekuatan yang dimilikinya, melainkan ditentukan dari kemampuannya beradaptasi”. Kemampuan beradaptasi terhadap setiap perubahan yang terjadi adalah dampak dari pembelajaran yang dialaminya, dan tidak sedikit kegagalan itu akibat dari kesalahan pembelajaran, contoh kasus Finlandia dan Jepang.

Penulis adalah Dosen FKIP UNTAN.

 

loading...