Bijak Sikapi Generasi ‘Home Service’

Anak-anak yang termasuk generasi ‘home service’ biasanya selalu ingin dilayani orang tua.  Padahal seharusnya sudah bisa melakukan sendiri. Bagaimana orang tua yang bijak menyikapinya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Bisa saja generasi home service ada dalam diri anak tanpa disadari. Kondisi ini terjadi bukan dikarenakan anak tak mau belajar, melainkan orang tua yang membuatnya terbiasa selalu dilayani. Misalnya, anak seharusnya bisa makan sendiri, tetapi orang tua tetapi menyuapinya. Dikarenakan berpikir akan makan dengan lama atau justru tak dimakan sama sekali, jika tak disuapi.

Seperti yang dilakukan Nur. Buah hatinya berusia hampir enam tahun. Dia menyadari bahwa anaknya seharusnya bisa makan sendiri.

“Anak saya bisa makan sendiri. Tapi,  sarapan, makan siang, hingga makan malam sering disuapi. Karena kalau makan sendiri, bisa lama. Saya tak betah menunggunya,” ungkap perempuan berusia 36 tahun ini.

D.Islamiyah // Psikolog

Tak hanya makan, anak Nur juga tak dibiarkan mandi sendiri. Hal ini bukan tanpa alasan. Semua dilakukan demi sang anak.

“Kalau mandi sendiri, suka main sabun. Akhirnya lantai kamar mandi jadi licin dan anak saya suka loncat-loncat. Jadi terpaksa saya mandikan karena takut dia jatuh,” katanya.

Sebagian orang tua menganggap hal ini wajar. Namun, jika dibiarkan, bisa berdampak hingga anak dewasa.  Psikolog D.Islamiyah, M.Psi menjelaskan generasi home service adalah generasi yang untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan pribadinya selalu minta dilayani dan diurus. Penyebabnya adalah pola asuh permisif memanjakan yang biasa diterapkan di lingkungan keluarga sehingga hal tersebut menjadi pola pembiasaan pada anak.

“Dan hal itu bisa terbawa sampai dewasa sekalipun,” ucapnya.

Banyak orang tua selalu punya naluri ingin melakukan sesuatu untuk anaknya, meskipun anaknya sudah menginjak usia remaja, bahkan dewasa sekalipun.

Menurut D Islamiyah, perilaku ini tak salah dilakukan orang tua. Namun, dia mengingatkan agar tak menjadikan home service sebagai salah satu pola asuh yang diberikan pada anak.

“Tetap saja penting bagi orang tua untuk mengajarkan kemandirian pada buah hatinya,” ucapnya.

Islamiyah menuturkan jika orang tua memilih membiarkan pola asuh seperti ini, anak bisa menjadi tidak mandiri dan selalu bergantung pada orang lain. Di sisi lain, anak juga akan kurang percaya diri, karena tak dilatih melakukan kebutuhan pribadinya sendiri. Dan, efek jangka panjangnya saat di tempat kerja.

“Misalnya, anak akan cenderung lebih suka melimpahkan pekerjaannya pada orang lain dari pada melakukannya sendiri. Tentu saja perilaku ini akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri,” kata D Islamiyah.

Perlu kesadaran orang tua untuk menghindari pola asuh ini. Disamping itu, D.Islamiyah merasa perlu adanya pemberian informasi pada orang tua melalui penyuluhan. Baik dari pemerintah, rumah sakit atau sekolah anak. Karena terkadang, menurut D.Islamiyah, orang tua tidak menyadari dampak dari pola asuh yang diterapkan di rumah.

D.Islamiyah menambahkan orang tua bisa berkonsultasi ketika merasa perkembangan buah hati  tak sesuai dengan rentang perkembangannya.

“Misalnya, dari segi kemandirian anak usia tiga tahun harusnya sudah bisa melakukan sesuatu, tapi anak belum bisa. Jika sudah begini perlu dikonsultasikan pada pihak profesional. Tujuannya, supaya bisa dilihat apa yang menghambat kemampuan anak tersebut,” tutup D.Islamiyah. **

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!