Kenangan Indah Tersisa Pembalap Scott Redding di Mandalika
Bikin Tato di Perut Bagian Kiri sebagai Pengingat

BINCANG: Redding berbincang dengan Gubernur NTB Zulkieflimansyah. ZULKIEFLIMANSYAH FOR LOMBOK POST

Kesan pertemuan dengan remaja penjual gelang dan konsep Sirkuit Mandalika membuat Scott Redding berjanji datang lagi untuk membalap tahun depan.

HAMDANI WATHONILombok Tengah

HASIL balapannya sebenarnya tak sepenuhnya seperti yang dia harapkan. Dia gagal finish terdepan meski beberapa kali sempat memimpin di dua race yang dilombakan.

Alhasil, Scott Redding berada di posisi ketiga di bawah Toprak Razgatlioglu dan Jonathan Rea dalam klasemen akhir pembalap World Superbike (WSBK) 2021. Itu terjadi setelah pembalap Inggris tersebut mengakhiri race 1 di posisi ketiga dan di tempat kedua pada race 2 dalam balapan di Pertamina Mandalika International Street Circuit pada Minggu (21/11) lalu.

Tapi, pembalap Aruba.it Racing-Ducati itu sama sekali tak kecewa. Bagi dia, Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), tetap menyisakan banyak kenangan indah. ”Saya senang bisa membalap di sini dan saya akan kembali tahun depan,” kata penunggang Ducati Panigale VR4 tersebut kepada Lombok Post (jaringan Pontianak Post).

KESAN MENDALAM: Scott Redding saat membalap di race 1 WSBK di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah (21/11). (IVAN/LOMBOK POST)

Salah satu yang paling menancap di benak pembalap 28 tahun itu adalah semangat orang Indonesia untuk bekerja keras. Dia mendapat gambaran itu setelah berinteraksi langsung dengan seorang penjual gelang yang ditemuinya di Pantai Kuta, Lombok, dekat hotel tempatnya tinggal.

Cerita itu kemudian diunggah ke Instagram dan ramai dikutip di mana-mana. Tapi, Lombok Post saja yang berkesempatan mewawancarai langsung Redding tentang momen itu di sela perhelatan WSBK di Mandalika.

Remaja lelaki bernama Man itu awalnya menawarkan gelang kepada Redding. ”Saya katakan saya tidak suka gelang, lalu dia hendak meninggalkan saya. Tapi, kami kemudian memulai percakapan tentang beberapa hal,” tutur Redding.

Pembalap yang pernah membalap di MotoGP pada 2014–2018 itu lalu berjanji kepada Man, kalau mereka bertemu lagi, dirinya akan membeli gelang jualan remaja 14 tahun tersebut. ”Dia mengatakan ke saya, you promise, you promise (Anda janji, Anda janji). Dia memercayai saya,” tuturnya.

Tiga jam berselang, Redding kembali menemui anak itu. Dia memuji Man sebagai anak yang baik dan mau bekerja serta tetap bersekolah.

Karena itu, Redding memberinya uang, tapi tidak akan mengambil gelangnya. Dia mempersilakan Man menjualnya ke orang lain. ”Saya kagum kepada Man yang memiliki semangat bekerja mencari uang tambahan untuk sekolahnya,” katanya.

Dia mengaku kerap melihat anak-anak yang kurang beruntung di berbagai belahan dunia atau negara. Namun, dia sangat menaruh hormat kepada mereka yang mau bekerja keras dan berjuang untuk hidupnya seperti yang dilakukan Man.

”Man adalah anak yang mau bekerja saat berusia 14 tahun. Saya ketika berusia 14 tahun juga mulai balapan dan berjuang di atas sirkuit,” ujar Redding.

Dilahirkan di Quedgeley, Gloucester, Inggris, Redding mulai membalap di Mini Motos pada 2001 dalam usia 8 tahun. Tiga tahun berselang, dia memenangi FAB-Racing Metrakit 50cc British MiniGP Championship.

Karier profesionalnya dimulai pada 2007 saat dia dikontrak Blusens Aprilia untuk membalap di ajang CEV 125 cc dan finis di posisi kedua. Membalap di Superbike sejak 2019, Redding pernah memecahkan rekor Marco Melandri sebagai pemenang race termuda sebelum kemudian dipecahkan Can Oncu.

Dia percaya selalu ada jalan bagi orang yang mau berusaha mengubah jalan hidupnya. Yang tak kalah penting, Redding menekankan bahwa hidup harus berarti. Sebab, hidup bisa berakhir kapan saja.

Cara pandangnya terhadap hidup itu pun diabadikan dalam bentuk tato. Pada bagian perut sebelah kiri, sebuah tato berbentuk tengkorak sempat diceritakannya kepada Gubernur NTB Zulkieflimansyah.

”Di badannya ada tato penuh pesan dan makna. Semua kita pasti akan mati, tapi tak semua kita bisa memberi arti pada hidup… Wow!” tulis Zulkieflimansyah setelah bertemu Redding di akun Facebook pribadi.

Yang pasti, Mandalika dan Lombok telah memberi kesan begitu mendalam kepada Redding. Selain suka dengan layout-nya, dia senang dengan Sirkuit Mandalika karena akses ke hotel dan tempat wisata cukup dekat. ”Balapan kemarin dan hari ini cukup menyenangkan meski persaingan dengan Toprak dan Rea cukup sulit,” ujarnya.

Tapi, dengan beda hanya 63 dan 50 poin dari Razgatlioglu serta Rea di klasemen akhir, kesempatan Redding untuk berebut gelar di balapan tahun depan sangat terbuka. Seperti Razgatlioglu yang memastikan gelar di Mandalika, siapa tahu Redding juga bakal menggapai podium tertinggi di sirkuit yang disukainya tersebut.(*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!