BPBD Ungkap 28 Desa Rawan Karhutla

LAKUKAN SIMULASI: BPBD Kabupaten Mempawah melakukan simulasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Mempawah, kemarin. ISTIMEWA

MEMPAWAH – Sedikitnya 28 desa di Kabupaten Mempawah disinyalir sebagai daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal tersebut diungkapkan Hermansyah, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah, Minggu (5/7).

Desa-desa tersebut, diungkapkan dia, tersebar hampir di seluruh wilayah kecamatan seperti Mempawah Hilir, Mempawah Timur, Sungai Kunyit, Sungai Pinyuh, Jongkat, Segedong, Anjongan, serta Sadaniang. “Desa yang prioritas dan setiap tahun ada kasus karhutla seperti Desa Semparung Parit Raden, Bukit Batu, Galang, Sungai Rasau, Sungai Bakau Besar Darat, Wajok Hulu, dan Wajok Hilir. Kemudian Desa Peniti Dalam I dan Peniti Dalam II, Sejegi, Antibar, Parit Banjar, Anjongan Dalam, serta Sekabuk,” paparnya.

Ditanya status bencana karhutla di Kabupaten Mempawah, Hermansyah memastikan sampai saat ini mereka belum menentapkan status bencana karhutla. Sebab, dalam penatapannya, dijelaskan dia, harus melalui rapat bersama instansi teknis terkait lainnya.

“Kami mengimbau masyarakat agar berperan aktif menjaga lingkungannya dari ancaman karhutla. Termasuk pula ikut mengontrol dan mengawasi, jika menemukan adanya potensi karhutla segera laporkan kepada petugas setempat,” pesannya.

Mereka sejauh ini memperkirakan musim kemarau akan berlangsung pada pertengahan atau akhir bulan ini. Karena itu, mereka telah melakukan langkah antisipasi penanganan dan penanggulangan karhutla di wilayah kerjanya. “Kami memprediksikan musim kemarau di Kabupaten Mempawah akan terjadi pada pertengahan atau akhir Juli. Sebab, pada awal Juli ini masih ada hujan walaupun intensitasnya sudah berkurang,” jelas Hermansyah.

Menghadapi musim kemarau tersebut, pihaknya telah melakukan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak panas dan kekeringan, yang berpotensi memicu terjadinya karhutla di wilayah Kabupaten Mempawah.

“Upayanya, kami sudah berkoordinasi dengan desa-desa yang setiap tahunya berpotensi terjadi karhutla. Kami sudah membentuk kelompok masyarakat (pokmas) peduli api atau pokmas olah lahan tanpa bakar (olataba) untuk bersiaga di desanya masing-masing,” tuturnya.

Tak hanya itu, mereka juga mendorong setiap desa yang memiliki potensi bencana karhutla, supaya mengalokasikan sebagian anggaran desa untuk penanganan bencana. “Melalui dukungan anggaran tersebut, maka setiap desa akan lebih maksimal melakukan langkah antisipasi dan penanggulangan dampak karhutla dilingkungan masyarakat,” pendapatnya.

Tahun lalu, wilayah Kabupaten Mempawah cukup parah terdampak karhutla. Diperkirakan lebih dari 800 hektare lahan yang tersebar di sejumlah kecamatan ludes terbakar. Bahkan, karhutla di Kampung Telayar, Dusun Tekam, Desa Sejegi, Kecamatan Mempawah Timur, menyebabkan satu bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) rata dengan tanah. (wah)

loading...