BRG Gelar Sekolah Lapang Angkatan Ketiga

SEKOLAH LAPANG: BRG menyelenggarakan Sekolah Lapang Petani Gambut di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, 15-18 September lalu. IST

Cetak Kader Petani Tanpa Bakar

PONTIANAK—Pada 15-18 September 2020, Badan Restorasi Gambut (BRG) menyelenggarakan Sekolah Lapang Petani Gambut (SLPG) di Desa Pulau Kumbang, Kecamatan Simpang Hilir Kabupaten Kayong Utara. Diikuti oleh 36 orang petani bersama fasilitator pendamping dari 12 Desa Peduli Gambut (DPG) asal Kayong Utara dan Kubu Raya.

“Tahun ini merupakan angkatan ketiga kami menyelenggarakan Sekolah Lapang, setelah sebelumnya dilaksanakan pada 2019 dan 2018,” kata Hermawanyah, Dinamisator BRG Kalimantan Barat.

SLPG merupakan sarana untuk mengenalkan metode pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB) kepada petani dari desa-desa gambut dampingan BRG. “Dalam pelatihan ini, petani diajarkan mulai dari mengenal karakteristik lahan gambut, persiapan lahan, penggunaan bahan alami untuk menyuburkan tanah, perawatan tanaman, hingga pemasarannya,” tambah Wawan, sapaan akrabnya.

Deasy Efnidawesty, S.Hut.,M.Si, Kasubpokja Edukasi, Sosialisasi dan Pelatihan Kedeputian III BRG, saat membuka pelatihan mengatakan, Sekolah Lapang adalah salah satu program BRG untuk mengedukasi petani agar dapat menerapkan metode PLTB.

Hal ini sekaligus implementasi dari mandat yang diemban BRG dalam upaya mitigasi atau pencegahan karhutla di desa-desa gambut. Dia berharap pascakegiatan ini, baik pemerintah desa, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara dapat bersinergi. Baik untuk pengelolaan lahan gambut tanpa bakar, serta penguatan kelembagaan kelompok tani yang ada.

“Masyarakat perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak agar aktivitas pertanian di lahan gambut kembali produktif, disamping tetap menjaga kelestarianya. Hal itu dapat terwujud jika petani mengelola lahan gambut dengan cara-cara yang bijak dan ramah lingkungan,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kayong Utara yang diwakili Suryadi mengatakan bahwa Pemerintah Kayong Utara menyambut baik kehadiran program BRG. Sebab, pendampingan yang dilakukan oleh BRG tentu memberikan kontribusi untuk kemajuan daerah. Apalagi kegiatannya dengan pemberdayakan masyarakat di lapangan melalui tenaga pendamping yang bertugas di desa.

Sementara peserta Sekolah Lapang dari Desa Permata Kecamatan Terentang Kubu Raya, Herlik Kiswoyo menyampaikan bahwa pelatihan yang diadakan oleh BRG ini sangat membantu kelompok tani. Selain memberikan pengetahuan terkait pengelolaan lahan tanpa bakar, peserta juga diajari dengan praktik langsung membuat pupuk yang murah dengan bahan-bahan yang mudah didapat.

“Selama ini kami selalu membeli pupuk dengan harga cukup mahal, tentunya dengan setelah pelatihan kami bisa membuat pupuk sendiri. Pelatihan semacam ini sangat jarang didapat oleh petani. Oleh karena itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada BRG karena telah mengajari kami untuk mengelola lahan tanpa bakar serta pembuatan pupuk secara mandiri,” katanya.

Dalam kegiatan SLPG angkatan ketiga yang dilaksanakan selama empat hari ini, peserta dilatih oleh Syamsul Asinar dari Institute Agro-Ekologi Indonesia (Inagri) dan Joko Wiryanto, seorang praktisi pertanian lahan gambut asal Kubu Raya. Joko Wiryanto dikenal sebagai penemu F1-Embio, formula pupuk cair dari bahan-bahan organik yang fungsinya mengurangi kadar asam dan menetralkan pH tanah. (r/*)

error: Content is protected !!