BRG Perkuat Ketahanan Ekonomi Masyarakat Desa Gambut

Badan Restorasi Gambut (BRG) sebagai salah satu lembaga pemerintah melakukan upaya pemberdayaan masyarakat untuk membantu ketahanan ekonomi masyarakat. Melalui program bantuan revitalisasi ekonomi untuk masyarakat desa, diharapkan dapat menggerakkan potensi ekonomi masyarakat desa.

MARSITA RIANDINI, Pontianak.

Ketahanan ekonomi masyarakat menjadi salah satu perhatian serius pemerintah di masa pandemi Covid-19 ini. Protokol kesehatan dengan pembatasan fisik dan sosial, dikhawatirkan mengganggu roda ekonomi masyarakat. Sebab itu, program pemerintah diarahkan pada kegiatan yang berdampak langsung pada masyarakat dalam bentuk padat karya.

Badan Restorasi Gambut (BRG) turut ambil bagian melalui program bantuan revitalisasi ekonomi untuk masyarakat desa.

Jany Tri Raharjo, S.Hut., M.Ec.Dev,MPP, Kepala Sub Kelompok Kerja Kalimantan Barat Kedeputian II BRG RI menjelaskan, bantuan diberikan ke desa-desa yang termasuk dalam wilayah target restorasi gambut di Kalimantan Barat

“Kami membantu kelompok masyarakat (Pokmas) dengan paket kegiatan padat karya peternakan dan pertanian,“Jelasnya.

Pada peternakan diarahkan kegiatan pengembangan sapi, kambing, ayam, bebek serta pertanian jahe, keladi dan tanaman holtikultura lainnya yang ditentukan dan diusulkan oleh Pokmas.

Pada 2020 ini, ada 46 Pokmas dari desa-desa di Kubu Raya, Kayong Utara, dan Sambas. Masing-masing Pokmas mengelola dana bantuan revitalisasi ekonomi Rp. 120 juta dengan total seluruhnya Rp. 5,52 Milyar.

“Setiap Pokmas yang beranggotakan 15 – 30 orang tersebut diharapkan mampu menggerakkan potensi ekonomi masyarakat desa,” timpalnya.

Dia mencontohkan pada Kelompok Lembah Hijau I Desa Parit Banjar, Mempawah yang dibantu pada 2019 lalu.

“Laporan yang saya terima, dari Januari hingga Agustus, beberapa kali panen jahe, jagung manis, semangka, terong, kacang buncis dan mentimun, mendapatkan hasil penjualan sebesar Rp 105 Juta lebih, “terang Jany.

Begitu juga Pokmas yang mengembangkan sapi dan kambing, saat Iduladha lalu. Permintaan hewan kurban dari masyarakat cukup banyak.

“Kami juga membantu mereka dengan membuatkan katalog harga hewan kurban,”ulasnya.

Ir. Adiyani, MH, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat, menjelaskan bahwa instansinya selaku Satker Pengelola Dana Tugas Pembantuan (TP) dari BRG, menyalurkan paket-paket kegiatan revitalisasi ekonomi kepada Pokmas desa-desa gambut.

Pada 2019 ada 28 Pokmas yang dibantu dengan total Rp. 4,47 Milyar dan 2018. Sebanyak 16 Pokmas yang dibantu dengan nilai total sebesar Rp. 2.83 Milyar.

“Saya apresiasi dengan desain program dan kegiatan BRG di Kalbar ini. Karena selain kegiatan fisik pembangunan infrastruktur pembasahan gambut, ada juga kegiatan pemberdayaan ekonomi,” ungkapnya.

Menurut Adiyani, ini sejalan dengan konsentrasi dan program strategis Pemerintah Provinsi Kalbar dalam rangka meningkatkan Indeks Ketahanan Ekonomi menuju Desa Mandiri.

Program dan kegiatan yang dilaksanakan BRG sedikit-banyak juga berkontribusi pada pemenuhan 54 indikator Indeks Desa Membangun (IDM).

“Dan alhamdulillah, dari 2.031 Desa seluruh Kalbar hanya tinggal 12 Desa Sangat Tertinggal, 566 Desa Tertinggal, 907 Desa Berkembang, 332 Desa Maju dan 214 Desa Mandiri,” sebutnya.

Adiyani mengatakan, kemajuan dan kemandirian desa-desa di Kalbar dalam kerangka IDM sangat signifikan. Hal itu juga tidak terlepas dari berbagai program dari Kementerian dan Lembaga Pemerintah Pusat yang masuk ke desa-desa, seperti program BRG.

Dinamisator Kedeputian III BRG Provinsi Kalimantan Barat, Hermawansyah, menambahkan bahwa BRG masuk ke desa-desa target restorasi dengan program Desa Peduli Gambut (DPG).

“Sejak 2017 hingga 2020, kami telah dan sedang mendampingi 85 Desa di Kabupaten Kubu Raya, Sambas, Mempawah, Kayong Utara dan Ketapang,” jelasnya.

Pada tahun ini, pihaknya bersama mitra seperti Kemitraan, YIARI dan Gemawan mendampingi 41 Desa. Berbagai kegiatan dilaksanakan di desa sebagai model pendekatan restorasi gambut ditingkat tapak. Mulai penempatan fasilitator pendamping, pemetaan sosial dan spasial yang dituangkan dalam profil desa. Kemudian mendorong integrasi restorasi gambut dalam perencanaan desa, pendampingan petani dalam penerapan pertanian tanpa bakar, hingga pemberdayaan ekonomi.

Program DPG, lanjut Wawan mendorong munculnya produk-produk unggulan desa berbasis lahan gambut. “Kami juga melatih BUMDes agar usaha masyarakat dapat difasilitasi pengembangan produk dan pemasarannya. Dengan begitu, diharapkan ekonomi mayarakat desa gambut dapat bangkit kembali,” pungkasnya. (*)

loading...