Buah Dendam Lama Saudara Ipar

KETERANGAN PERS: Kapolres Kayong Utara, AKBP Bambang Sukmo Wibowo, Wakil Bupati Kayong Utara Effendi Ahmad,  dan Kasat Reskrim Polres Kayong Utara,  AKP David Dino Sipahutar saat press release kasus pembunuhan di Dusun Tanjung Ru,  Desa Padang,  Kepulauan Karimata.   DANANG PRASETYO /PONTIANAK POST

Dua Tersangka Pembunuhan Terancam 12 Tahun Penjara

SUKADANA – Dua pelaku pembunuhan di Dusun Tanjung Ru, Desa Padang, Kecamatan Kepulauan Karimata, telah mendekam di balik jeruji besi Polres Kayong Utara. Keduanya terancam kurungan 12 tahun penjara. Ternyata, perselisihan antara pelaku dengan korban yang merupakan saudara ipar ini sudah berlangsung sejak tiga tahun lalu.

Hal ini diungkapkan Kapolres Kayong Utara,  AKBP Bambang Sukmo Wibowo,  saat press release kasus pembunuhan antar-saudara tersebut, kemarin. Menurut Bambang, kedua tersangka yakni CL (45) dan BH (45) merupakan pelaku pengeroyokan yang menyebabkan UR (49) tewas dengan luka parah di bagian kepala hingga belumuran darah.

Sementara CL, dalam perkelahian tersebut  sempat mengalami luka di kaki kiri lantaran terkena tebasan parang milik korban. “Kedua tersangka diduga sudah memiliki masalah sebelumnya dengan korban,  sejak tiga tahun lalu. Puncaknya korban merusak pohon cengkeh milik pelaku. Pelaku dan korban lalu adu mulut hingga terjadi pengeroyokan yang menyebabkan UR tewas,” paparnya.

Jika dihitung-hitung, sedikitnya ada 70 batang pohon cengkeh milik pelaku yang dirusak korban. Ini bukan hanya dilakukan sekali. Tiga tahun lalu juga pernah terjadi selisih antara keluarga ini tetapi bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Ternyata bara dendam masih tersimpan sampailah terjadi pengeroyokan hingga menyebabkan korban meninggal. Menurut Kapolres, akibat perbuatannya, pelaku dikenakan pasal 170 ayat 2 angka 3 dengan ancaman maksimal kurungan penjara  selama 12 tahun.

Ia mengakui, akibat keterbatasan personel dan transportasi laut, penangan kasus di daerah kepulauan sempat terkendala. Namun pihaknya tetap berusaha bekerja secara maksimal. “Kami polisi kepulauan lebih banyak memerlukan kapal,  atau speedboat. Untuk Karimata, yang sangat dibutuhkan bukan bangunan fisik polseknya tapi kapal atau speed-nya,” ungkap Kapolres.

Menyikapi fenomena pembunuhan yang terjadi di Tanjung Ru, Karimata ini, Wakil Bupati Kayong Utara, Effendi Ahmad turut hadir pada kegiatan press release. Ia pun menyatakan keprihatinan mengenai peristiwa yang terjadi serta keterbatasan personel yang dihadapi kepolisian.

Ahmad berharap ada jalur khusus untuk anak – anak di daerah kepulauan untuk menjadi anggota polisi. Harapannya,  setelah selesai mengenyam pendidikan polisi, mereka dapat kembali ke daerah asal untuk mengabdikan diri.

Effendi yakin,  pemerintah kabupaten siap membiayai putra daerah untuk menjadi polisi, asal diperbolehkan di dalam aturan. “Kasus di Tanjung Ru ini bukti bahwa sesungguhnya kita membutuhkan polisi di Kecamatan Kepulauan Karimata. Kita juga sudah melakukan pembicaraan, baik sama kapolres yang lama dan yang baru, agar kita meminta prioritas, dan ini regulasinya lagi dipelajari. Apakah ada perlakuan khusus untuk anak – anak di Kepulauan ini,”ulasnya. (dan)

loading...