Budidaya Lalat, Solusi Lingkungan dan Nilai Tambah Ekonomi

ORGANIK: Anggota Kreasi Sungai Putat (KSP) tengah memberi pupuk organik di kebun sayur. Pupuk kompos ini dibuat memanfaatkan kerja lalat tentara hitam yang mereka budidayakan. Aristono/Pontianak Post

PONTIANAK –  Sampah dan kerusakan lingkungan menjadi persoalan pada masyarakat urban. Namun ternyata tumpukan sampah bisa menjadi ladang untuk budidaya black soldier fly (BSF) atau Lalat tentara hitam. Hewat yang dianggap kotor tersebut ternyata bisa menjadi alat efektif dan efisien dalam proses pembuatan pupuk kompos.

Hal ini yang tengah dikerjakan oleh kelompok Kreasi Sungai Putat (KSP) di Pontianak. “Kondisi terkini linkungan dan pola konsumsi masyarakat menjadi  tolak ukurnya apakah semakin membaik atau memburuk. Dengan kondisi seperti ini KSP dalam dua tahun terakhir fokus pada pemanfaatan sisa pakai organik dengan budidaya BSF,” ujar Ketua KSP Syamhudi, kemarin.

Menurutnya, budidaya BSF tidak sekadar memiliki manfaat ekonomi, namun bisa juga menjadi solusi pengelolaan lingkungan sekitar masyarakat.

“Ini merupakan upaya untuk mengatasi persoalan lingkungan dari sumbernya baik di rumah tangga, pasar dan tempat  usaha lainnya. Kami mendorong metode ini bisa dipakai masyarakat lain juga,” ujar dia.

Dia menjelaskan, proses pengomposan dengan budidaya BSF jauh lebih efektif selain prosesnya singkat juga larva BSF bisa dimanfaatkan untuk mendukung sektor lainnya seperti budidaya ikan dan peternakan unggas kecil serta pertanian.

Terkait Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh Minggu (21/2) lalu, turut menjdi motivasi pihaknya untuk mensukseskan program ini, “Hal ini yang kami maksud dengan mengubah polusi menjadi solusi menuju perbaikan lingkungan. Dan ketahanan pangan nasional dan dunia. HPSN tentunya momentum untuk siapa saja dan dengan cara apa saja untuk menjaga format siklus alamiah ini,” ucap Syamhudi, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Provinsi Kalimantan Barat ini.

Lelaki yang mendapat penghargaan kategori Komunitas Peduli Sungai dari Kementerian PUPR tahun 2019 ini menegaskan agar berkehidupan kedepannya terus seimbang. Caranya adalah: menebar berbuat nyata.

“Tidak ada kata terlambat untuk bergerak. Meski kita sadari bagaimana mana tercemarnya paret, sungai, penuhnya TPA  akibat kesadaran yang masih terkubur terhadap hubungan manusia dengan alam atau disebabkan ambisi lainnya. Dan pastinya persolan lingkungan tidak akan selesai hanya dengan jargon-jargon. Tapi, aksi nyata bergerak, dan berbuat,”  pungkasnya. (ars)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!