Budidaya Maggot Komunitas Kreasi Sungai Putat; Cepat Mengurai Sampah, Alternatif Pakan Ternak

Munculnya Maggot sebagai bahan baku alternatif untuk pembuatan pakan dapat mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan. Ini membawa dua manfaat sekaligus, sampah organik hilang dan menghasilkan larva berprotein tinggi.

 

MARSITA RIANDINI, Pontianak

 

BUDIDAYA maggot atau sejenis belatung yang dihasilkan dari lalat berjenis Black Soldier Fly (BSF) dilakukan Komunitas Kreasi Sungai Putat (KSP) di Jalan Dharma Putra, Siantan Hilir untuk mempermudah penguraian dalam proses pengomposan. Sebagai pegiat lingkungan, komunitas ini mencari cara untuk mengolah sisa pakai produksi atau sampah organik yang ada di kota Pontianak.

Syamhudi, Pegiat Lingkungan dari  KSP mengatakan, dengan maggot proses pengomposan lebih cepat. “Tanpa maggot bisa memakan waktu 60-an hari, sedangkan dengan maggot hanya membutuhkan waktu 20-an hari,” katanya.

Selain mengurai sampah, maggot yang memiliki protein tinggi ini juga dapat digunakan  sebagai pakan ikan, ayam atau pun bebek. KSP sudah memiliki mitra pembudidaya ikan dan peternak yang berasal dari Pontianak, Kubu Raya juga Mempawah. Sedangkan komposnya dimanfaatakan oleh petani sekitar.

Dalam pengolahannya, KSP memiliki tim Peka Terhadap Persoalan Lingkungan (PEKARANGAN). Tim inilah yang fokus melakukan pengembangan dan budidaya larva yang disebut juga lalat tentara hitam ini. Sedangkan tim lainnya, ada yang fokus pada kegiatan penanaman, sosial dan edukasi ke masyarakat  terkait dengan pelestarian lingkungan.

Inisiasi budidaya maggot ini muncul tahun 2011, namun kata pria yang akrab disapa Yudi ini berjalan di tahun 2014. Dalam satu gram telur larva ini membutuhkan 25 kilogram sampah organik dalam satu siklus atau lebih kurang 20 hari. “Kalau menetaskan 10 gram, berarti sampah yang dibutuhkan 250 kilogram sampah organik. Sementara dari 25 kilogram itu, bisa menghasilkan komposnya itu 40 persen,”

Proses pengelolaannya juga sedeharhana. Ada dua cara yang bisa dilakukan. Sampah yang telah dikumpulkan dari rumah tangga, restoran, toko buah, dan lainnya ini difermentasi  agar terjadi pembusukkan di awal. Setelah itu diberikan kepada maggot. Cara lainnya, kata Syamhudi sampah-sampah tersebut dapat langsung diberikan ke manggot. “Kapasitas produksi per bulannya sebanyak 1 ton maggot, komposnya ratusan kilo,” papar dia.

Budidaya ini, kata Syamhudi memiliki tiga fungsi, yakni mengatasi persoalan lingkungan, khususnya pada sampah di Pontianak. Berdasarkan data yang diperoleh, lanjut dia setiap harinya sampah yang diangkut dari tempat pembuangan sementara (TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Kota Pontianak sebanyak 400 hingga 500 ton per hari. 60 persen diantaranya itu sampah organik.

Manfaat lainnya, dapat mendukung ketersediaan pangan berprotein tinggi yang berasal dari maggot, sedangkan komposnya juga dapat digunakan para petani. “Dari awal kami memang fokus terhadap kegiatan lingkungan. Kami ingin mengubah polusi jadi solusi. Dengan melakukan inovasi tanpa merusak lingkungan,” papar dia.

Saat ini, sampah organik yang dimanfaatkan baru berkisar 2 ton per bulannya. KSP berharap nantinya lebih banyak lagi yang diolah, bahkan bisa mencapai 10 ton per harinya. Semakin banyak sampah yang akan diolah, tentu semakin luas lahan yang dibutuhkan. Lahan yang digunakan saat ini seluas panjang 10 meter dan lebar 9 meter. “Jika mau dikembangkan ke skala besar, memakan energi besar, termasuk pembiayaan, juga lahan yang luas,” tutur dia.

KSP berharap, masyarakat dapat terlibat langsung dalam pembudidayaan ini sehingga bisa ikut merasakan manfaatnya sebagai alternatif pakan ternak maupun ikan.  Pihaknya mendorong pemerintah untuk turut andil, menurut Syamhudi ini bisa menjadi salah satu solusi mengatasi persoalan lingkungan, khususnya sampah organik. “Tinggal sistem dan mekanismenya saja disepakati,” pungkasnya. **

loading...