Bukan Mimpi Punya Rumah di Masa Pandemi

Sepanjang 2020, menjadi tahun yang suram bagi bisnis perumahan. Bagaimana tidak, penjualan di tahun itu anjlok dihantam pandemi Covid-19. Meski demikian strategi bisnis tetap dijalankan kendati di tengah ketidakpastian berakhirnya pandemi.

Ramses Tobing, Pontianak

Gunawan tersenyum sumringah begitu mendapat kabar pengajuan kredit pemilikan rumahnya disetujui perbankan.

Ini pengajuan ketiga kalinya. Dua kali gagal karena masa tenor angsuran yang tak disetujui perbankan. Untuk yang ketiga, dia mengajukan ke BTN dan kemudian lolos tahap SPK (Surat Perjanjian Kesepakatan).

“Saya mengajukan November 2020, proses sekitar dua minggu dan kemudian dapat disetujui bank,” kata Gunawan warga Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat ini.

Awalnya pria berusia 28 tahun itu harap-harap cemas ketika mengajukan kredit pemilikan rumah. Bukan tanpa sebab. Pandemi merontokkan pendapatan pekerja. Ia yang membuka kantin di salah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak, juga terdampak.

Namun semangatnya sudah tinggi untuk membeli rumah. Ia berpikir jika sudah berumah tangga nanti, tidak repot lagi mencari tempat tinggal. Meski mengeluarkan biaya angsuran setiap bulan, namun rumah itu miliknya sendiri.

Berbeda jika mengontrak. Biaya yang dikeluarkan memang tidak jauh selisihnya, tapi rumah ditempati itu bukan milik pribadi.

“Coba-coba saja, dari uang tabungan saya siapkan untuk kebutuhan pengajuan kredit pemilikan rumah,” kata Gunawan.

Alasan lainnya, agar mobilitas ke tempat usaha lebih dekat. Dari tempat asalnya ke tempat usahanya butuh waktu satu jam.

“Dari kantin tempat saya jualan, ke rumah asal, juga Lumayan perjalanannya. Meskipun sering bolak-balik, tapi mobilitas lebih cepat jika jarak tempuhnya lebih dekat,” terang dia.

Gunawan membeli rumah di Perumahan Akcaya Kemyla. Perumahan subsidi di kawasan Pal 9, Jalan Raya Kakap, Kecamatan Sungai Kakap Kubu Raya. Dari lokasi ini ke pusat perkotaan hanya 20 menit.

Gunawan mengatakan saat proses pengajuan ke perbankan pun tidak rumit. Berkas administrasi miliknya memang sudah siap dari awal.

Berkas itu juga yang diajukannya ke perbankan lain, namun ditolak karena masa tenor angsuran tak disetujui.

“BTN ini bank ketiga yang saya ajukan. Dua bank sebelumnya gagal, karena masa angsuran yang tak disetujui,” kata dia.

Ia memilih BTN, selain karena bank ini memang terkonsentrasi pembiayaan kepemilikan rumah, khususnya subsidi. BTN juga menawarkan sejumlah keringanan bagi debitur yang mengambil rumah tapi ingin mempercepat pembayaran masa angsuran.

“Kalau punya uang sekitar Rp10 juta untuk jangka pembayaran satu tahun, dan disimpankan di rekening, perbankan tidak masalah. Jadi bisa memangkas masa tenor angsuran. Ini yang kemudian membuat saya memilih pengajuan di BTN,” ungkapnya.

Dari bank ini, Gunawan mengambil masa angsuran selama 20 tahun dengan cicilan per bulan sekitar Rp950 ribu.

Promo untuk Konsumen

Isnaini, Developer Perumahan Akcaya Kemyla mengatakan pengembang menawarkan promo dan diskon yang lebih besar untuk menarik konsumen membeli rumah.

Cara itu dilakukan untuk mendongkrak perjualan unit yang rontok karena pandemi Covid-19. Seperti menggratiskan biaya BPHTB, administrasi bank hingga biaya notaris. Bahkan memberikan gratis dua bulan angsuran bagi konsumen.

Ke BTN, pengembang siap membeli kembali rumah konsumen jika terjadi kredit macet.

“Ini menjadi jaminan jika terjadi kredit macet, developer siap membeli kembali rumah yang terjual,” jelas pria yang tinggal di Jalan Karangan, Universitas Tanjungpura ini.

Kemudian menambah bonus berupa saldo mengendap di rekening pemilik rumah sebagai jaminan angsuran. Jika kemudian terjadi keterlambatan membayar angsuran, bisa langsung dipotong dari saldo di rekening pemilik rumah.

Ia meyakini sedikit banyak promo dan diskon besar-besaran yang ditawarkan itu bisa menarik konsumen yang membeli rumah.

“Ada konsumen yang awalnya ragu-ragu, karena melihat promo dan diskon yang ditawarkan akhirnya membeli. Pengajuan pun disetujui perbankan,” kata dia.

Ia menambahkan strategi jualan seperti itu tetap masih dipertahankan. Pengembang optimis ekonomi yang sempat terpuruk bisa kembali pulih, seiring dengan berjalannya vaksinisasi.

Tetap Optimis Meningkat

Ketua Real Estate Indonesia (REI) Kalimantan Barat Muhammad Isnaini mengatakan satu tahun berjalan di 2020 turun. Rata-rata penjualan unit turun hingga 40 persen, dari unit yang tersedia di masing-masing pengembang.

“Omsetnya turun dari 30 persen, bahkan ada yang sampai 70 persen,” kata dia.

Faktornya daya beli masyarakat turun akibat pandemi Covid-19. Pandemi membuat dunia usaha lesu. Sektor-sektor swasta pun melakukan pembatasan jam kerja hingga menerapkan WFH bagi pekerjanya, karena khawatir ketertularan Covid-19.

Kondisi ini mempengaruhi produktivitas usaha, yang membuat omsetnya menurun. Tak dipungkiri, para pekerja pun merasakan dampaknya. Ada yang kemudian gaji dipangkas, dirumahkan hingga mendapat pemutusan hubungan kerja.

“Ini yang kemudian mempengaruhi daya beli masyarakat, utamanya mereka adalah pekerja-pekerja swasta, sehingga jumlah yang membeli rumah pun berkurang. Jika ada yang membeli, tentu jumlahnya juga terbatas,” jelas Isnaini.

Isnaini berharap program relaksasi yang dikeluarkan pemerintah masih terus bergulir. Program seperti itu bisa mendongkrak daya beli masyarakat pekerja.

Selain itu ada kemudahan-kemudahan peraturan. Seperti kemudahan perizinan lokasi, IMB, penerbitan sertifikat, hingga pemecahannnya.

“Termasuk soal pengurusan listrik yang lebih dipermudah,” kata dia.

Begitu juga dengan perbankan. Ia mengakui sebagai pihak yang membiayai pembelian rumah, perbankan masih sangat selektif dalam memilih konsumen, utamanya dari kalangan swasta.

Menurutnya perbankan akan melakukan mitigasi resiko lebih tinggi jika pengajuan itu dilakukan oleh pekerja yang bidangnya tidak terdampak pandemi.

“Pilihannya tetap pada pekerja yang bidang kerjanya tidak terdampak pandemi,” kata dia.

Namun ia mengajak anggotanya untuk selalu optimis penjualan unit rumah akan kembali membaik. Mengencarkan promo untuk menarik konsumen.

Secara organisasi terus berkomunikasi dengan pemerintah agar program relaksasi tidak hanya pekerja tapi juga dunia usaha, salah satunya properti terus bergulir.

“Seperti relaksasi dari PUPR untuk aplikasi sikumbang, agar ID Rumah dan struktur developer bisa muncul, sehingga proses akad yang dibutuhkan konsumen bisa berjalan,” ungkapnya.

Sekedar informasi, REI Kalbar mendapat target penjualan rumah subsidi di tahun 2020 sebanyak 2020. Isnaini menyebutkan target itu tak banyak berubah di tahun. Ia optimis bisa menjual sebanyak 7.500.

“Itu angka optimis, karena pengembang tentu sudah menyiapkan strategi penjualannya,” kata dia.

Selektif dalam Pengajuan KPR

Kepala BTN Kantor Cabang Pontianak Fikry Ghazali mengatakan tahun 2020 hanya 2.308 unit rumah subsidi yang dibiayai oleh BTN atau setara Rp346,213 miliar.

Selama pandemi Covid-19 di tahun 2020, BTN lebih selektif dalam pengajuan kredit pemilikan rumah.

“Kami melihat semua sektor terdampak sehingga seleksi pengajuan KPR lebih ketat,” kata Fikry.

Fikry mencontohkan pada sektor pariwisata, transportasi dan jasa. Pihaknya terpaksa menunda pengajuan KPR. Namun kebijakan itu hanya berjalan dua bulan saja. April hingga Mei 2020.

“Sekarang tidak lagi kami tunda, cuma tetap harus selektif,” imbuhnya.

Setelah itu BTN melakukan kajian untuk melihat sektor mana saja yang benar-benar terdampak dan yang masih bisa bertahan, sehingga para pekerja para sektor-sektor tertentu masih memiliki peluang untuk pengajuan KPR.

“Beda halnya dengan yang bekerja di BUMN, yang dampaknya seperti swasta sehingga kami harus benar-benar selektif,” kata pria Fikry.

Ia melanjutkan pihaknya optimis bisnis properti kembali pulih, seiring berjalannya program vaksinasi. Keberadaan vaksin sedikit banyak mendorong gairah perekonomian, sehingga berdampak pada daya beli masyarakat.

“Distribusi vaksin lancar, pelaksanaanya lancar sehingga ada optimisme di masyarakat. Dengan demikian bisa menumbuhkan kembali aktivitas ekonomi, yang kemarin menunda bisa mengajukan kembali pembelian KPR,” terangnya.

Fikry menambahkan pihaknya juga sudah membuat beberapa program untuk menjaring potensi kreditur. Seperti menjalin kerjasma dengan perusahaan-perusahaan swasta.

“Kerjasama ini untuk mendapatkan potensi kebutuhan di masing-masing perusahaan,” tambahnya.

Di masa pandemi masyarakat juga mendapat fasilitas pengajuan kredit perumahan secara online yakni KPR From Home Dengan adanya kemudahan ini, konsumen bisa mengajukan berkas aplilasi pada portal BTN Properti.

Fikry menyebutkan pengajuan secara online itu masih berlangsung di tahun ini. Fasilitas itu diberikan mengingatkan kebutuhan pengajuan rumah di tengah berlangsungnya pandemi.

“Tahun lalu ada promo yang ditawarkan dalam KPR From Home. Tahun ini tidak ada lagi, tapi mekanisme serupa masih berlaku,” terang dia.

Disisi lain, saat ini transaksi perbankan mulai mengalami kenaikan seiring pulihnya perekonomian di Kalimantan Barat. Begitu juga untuk kredit perumahan. Apalagi saat ini tingkat suku bunga kredit untuk perumahana cukup rendah.

“Tingkat suku bunga rendah menjadi kesempatan masyarakat untuk memiliki rumah baru,” kata Kepala OJK Kalbar, Moch Riezky F Purnomo.

Target Pembiayaan

Sementara itu dalam situs Kementerian PUPR, https://pu.go.id/ disebutkan bahwa Kementerian PUPR dengan menargetkan 222.876 unit bantuan pembiayaan perumahan Tahun Anggaran 2021.

Target dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu untuk memenuhi kebutuhan hunian layak terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Pemerintah berkomitmen untuk memberikan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Kami harapkan dapat meningkatkan kualitas hidup para penerima bantuan dengan memiliki rumah yang lebih layak, sehat dan nyaman,” kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono beberapa waktu lalu.

Bantuan pembiayaan perumahan TA 2021 terdiri dari empat program yakni Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang juga diberikan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

Alokasi FLPP sebanyak 157.500 unit senilai Rp 16,66 triliun dilengkapi SBUM senilai Rp 630 miliar, BP2BT 39.996 unit senilai Rp 1,6 triliun, dan Tapera dari dana masyarakat untuk 25.380 unit senilai Rp2,8 triliun.

Sementara pada TA 2020 realisasi bantuan pembiayaan perumahan melalui FLPP sebanyak 109.253 unit senilai Rp11,23 triliun, SSB 90.362 unit senilai Rp118,4 miliar, SBUM 130.184 unit senilai Rp526,37 miliar dan BP2BT 1.357 unit senilai Rp53,86 miliar. (*)

error: Content is protected !!