Bukan Sekadar Dibalik Bar Coffee

Reni Damayanti // Barista

Dunia barista didominasi kaum pria. Dan, itu menjadi tantangan bagi Reni Damayanti. Baginya, perempuan juga bisa menggeluti profesi ini. Dia pun membuktikan diri sebagai barista perempuan bersertifikat di Pontianak.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Tak mudah bagi Reni untuk menjadi barista. Semuanya dimulai dari nol. Bahkan, dia lebih dulu bekerja sebagai waitress di satu kedai kopi di Pontianak.

Ketertarikan Reni menjadi barista muncul pada pertengahan 2016. Ketika itu latte art sedang booming. Dia penasaran melihat proses pembuatan latte art oleh barista di tempatnya bekerja.

“Saat itu suka aja melihat barista membuat latte art. Apalagi bentuk latte art ini bermacam-macam. Salah satunya, bunga,” kata barista Ada.Fase ini.

Sejak itu Reni memantapkan hati untuk menjadi seorang barista. Sekitar setahun dia belajar dan dibantu barista senior di kedai kopi tersebut. Barista senior mengajarkan Reni seputar teknik espresso based dan manual brewing based. Sisanya, termasuk latte art dipelajari sendiri lewat media sosial.

“Kini, profesi barista menjadi bagian dari pekerjaan saya,” ucap Reni.

Reni menuturkan sebagian orang mengira peran barista hanya sekadar bekerja di balik bar coffee shop, sehingga terdengar sederhana dan mudah dilakukan.

“Tetapi, bagi saya yang terjun langsung didalamnya, banyak hal yang harus dipelajari untuk menjadi seorang barista,” tuturnya.

Perempuan kelahiran Pontianak, 25 Agustus 1996 ini mengatakan seorang barista harus menguasai dan memiliki surat Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang mencakup 12 unit. Mulai dari mengelola bahan baku. Mengelola peralatan dan perlengkapan, mengelola area kerja, menangani pelanggan, mengoperasikan perlatan. Mengembangkan produk minuman kopi, mengikuti prosedur kesehatan, keselamatan dan keamanan di tempat kerja.

Kemudian, menangani situasi konflik, berkomunikasi secara lisan dalam Bahasa Inggris pada tingkat operasional dasar. Bekerja sama dengan kolega dan pelanggan. Menyiapkan dan menghidangkan minuman nonalkohol. Dan terakhir, mengoperasikan bar.

“Singkatnya barista dasar harus mempunyai hard skill dan soft skill,” ujar Reni.

Kini, Reni resmi memperoleh sertifikat sebagai barista. Reni mengikuti program yang diadakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Barista berkolaborasi dengan Bekraf. Sertifikasi ini diadakan di Singkawang .

“Saya dan beberapa barista dari Pontianak ikut serta dalam tes sertifikasi barista tersebut. Alhamdulillah saya masuk ke salah satu yang lulus sertifikasi dan mendapat sertifikat,” ungkap alumnus SMA Muhammadiyah 1 Pontianak.

Reni menceritakan ujian setiap barista berbeda. Tergantung sang penguji. Ketika itu penguji meminta Reni membuat shoot espresso dan foam capuccino yang benar.

Membuat shoot espresso harus menguasai teknik mengatur grindsize dan gramasi biji kopi yang pas. Begitu pula untuk yield (hasil akhir) harus pada angka yang pas.

“Foam capuccino lebih ke teknik steaming milk yang harus shiny, silky tekstur susunya dan cara menuang steam milk ke espresso agar bisa menghasilkan latte art yang bagus,” jelas Reni.

Tahun 2018, Reni mengikuti  even ‘Battle of Brewers’. Acara pesta kopi yang diinisiasi salah satu bank BUMN di A.Yani Mega Mall Pontianak. Dia sangat tegang, tetapi gembira bisa

mengikuti kompetisi tingkat nasional. Reni bertanding dengan barista asal Samarinda. Meski tidak memperoleh juara, Reni cukup bangga bisa masuk posisi 14 besar dan satu-satunya barista perempuan di kompetisi tersebut.

Tiga tahun menjadi barista bukan berarti Reni tidak pernah mengalami kesulitan. Ia mengaku sempat kesulitan membedakan beberapa jenis biji kopi di satu waktu. Melakukan kesalahan saat mengatur grindsize.

“Serta, menghadapi berbagai macam pelanggan,” sambungnya.

Reni mengaku terkadang ada pelanggan yang memandangnya sebelah mata. Jika menemukan pelanggan seperti itu, ia mengatasinya dengan sikap profesional. **

error: Content is protected !!