Bundesliga Main Lagi, Buah Kesiapan Jerman

BERLIN,-Bundesliga memetik buah kesiapan dan ketegasan pemerintah Jerman dalam menjalankan kebijakan kunci sementara alias lockdown. Per malam ini WIB, kompetisi sepak bola strata teratas di negeri yang dipimpin Kanselir Angela Merkel itu akan berputar lagi.

Tentu sembari tetap menjalankan sederet protokol kesehatan yang ditetapkan DFL alias pengelola Liga Jerman. Bundesliga meneruskan lagi musim 2019–2020 dari spieltag 25. Total ada 82 laga yang harus dituntaskan hingga akhir musim.

Ada sembilan laga yang akan menandai start ulang kompetisi yang dihelat tanpa penonton tersebut malam ini. Salah satunya Revierderby, atau Derbi Lembah Ruhr, antara Borussia Dortmund menjamu Schalke 04 di Signal Iduna Park, Dortmund.

Bundesliga pun jadi kompetisi elite pertama di Eropa, episentrum sepak bola dunia, yang berputar lagi. ’’Kami meyakininya (protokol kesehatan DFL), apabila ada (pemain atau staf Dortmund) yang meragukannya, silakan mereka keluar,’’ sebut Direktur Olahraga Dortmund Michael Zorc kepada Kicker.

Protokol mulai dari tes swab dua kali sepekan, sekali di antaranya sehari sebelum laga, mewajibkan pemain cadangan dan pelatih mengenakan masker, mengarantina tim sepekan jelang laga, sampai dengan memainkan laga tanpa penonton.

Pelatih Bayern Muenchen Hansi Flick menyebut spieltag 25 ini akan jadi momentum bagi Bundesliga untuk jadi perhatian dunia. ’’Lebih dari 200 negara akan menonton kami, maka kami punya tanggung jawab besar menunjukkan diri kami dengan kinerja terbaik,’’ ungkap Flick dalam telekonferensi jelang lawatan Bayern ke markas Union Berlin pada Minggu malam WIB (17/5).

Gelandang Real Madrid Toni Kroos salah satu yang menontonnya. Pemain alumnus dari Saebener Strasse, kamp latihan Bayern, itu menganggap Bundesliga jadi acuan La Liga. ’’Di sini (La Liga), semua orang menyebut Bundesliga sebagai tolok ukur dalam menggulirkan kompetisi lagi,’’ sebut Kroos, dilansir laman Marca.

Pemain timnas Jerman itu pun yakin, jika Bundesliga tak berani menggulirkan kompetisi, kompetisi lain di Eropa juga tak akan ada yang berani main lagi. Kroos memprediksi protokol-protokol yang sudah diterapkan Bundesliga akan dicontoh negara-negara lain. Entah itu di Eropa atau di penjuru dunia. ’’Semua akan mengikutinya,’’ sebut gelandang 30 tahun itu.

Jerman tentu sudah berhitung. Hingga kemarin (15/5) tercatat ada 174.975 kasus penularan dan 7.928 kematian akibat Covid-19 di sana. Secara global, Jerman duduk di posisi ke-8 sebagai negara dengan penularan tertinggi.

Karena itu, DFB (Federasi Sepak Bola Jerman) sedang berjudi dengan nasib. Jika berhasil, ia mungkin mendapat pujian dan menjadi pembuka bagi digelarnya olahraga cabang lainnya.Tapi jika gagal, keputusan mereka akan dipertanyakan.

’’Ini adalah eksperimen dengan hasil yang tidak diketahui,’’ ujar Pemimpin Redaksi Majalah 11 Freunde Philip Koster seperti dikutip CNN.

Ada kemungkinan pertandingan hanya digelar 1-2 pekan lalu dibatalkan karena terjadi penularan. Namun, bisa juga yang terjadi adalah sebaliknya.

Dibanding dengan negara-negara Eropa lain, Jerman mamang terbilang paling siap menghadapi pandemi. Mereka melakukan pengujian secara masif dan berusaha mencegah penularan sejak awal. Jerman melacak setiap orang yang positif dan yang kontak dengannya secara medetail.

Jumlah lansia di Jerman hampir setara dengan di Italia. Namun tingkat kematian di Italia jauh lebih tinggi. Sebanyak 31.368 orang harus kehilangan nyawa di Italia karena virus SARS-CoV-2. Padahal Italia merupakan salah satu negara di Eropa dengan fasilitas kesehatan terbaik.

Kluster penularan awal di Jerman adalah anak-anak muda yang terkena di resort sky serta beberapa tempat lainnya. Mereka dikawal sedemikian rupa agar sesedikit mungkin menularkan pada yang lainnya. Usaha ini berhasil meski beberapa hari belakangan ini tingkat penularan di Jerman kembali naik.

Perencanaan yang matang membuat Jerman tidak kekurangan ventilator, alat pelindung diri, tempat tidur ICU, dan berbagai hal lainnya yang diperlukan untuk menangani pasien.
Merkel dielukan sebagai orang di balik kesuksesan Jerman membendung penularan. Dia adalah orang mempercayai ilmu pengetahuan dan rasional. Karena itu dia mengambil keputusan dengan hati-hati berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah ada.(jp)

Read Previous

PT PLJ  Turut Perangi Covid-19, Bagi Sembako, APD, Hingga Penyemprotan 

Read Next

Berkenalan dengan Komunitas Love Borneo