Busana Melayu Klasik, Pakaian Keseharian Tempo Dulu

MASYARAKAT Melayu pada umumya identik dengan Islam yang menjadi fondasi dari sumber adat istiadat dan budayanya. Tak terkecuali pakaian adatnya. Busana Melayu sarat dengan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran agama Islam. Jika biasanya kita mengenal Teluk Belanga sebagai baju adat masyarakat Melayu, digunakan dalam acara resmi seperti hajatan pernikahan dan acara besar lainnya, maka ada warisan leluhur lainnya yang perlu kita tahu atau ingat lagi, yaitu busana Melayu klasik yang digunakan oleh masyarakat Melayu tempo dulu dalam kesehariannya. Busana ini sudah ada sejak bangsa Melayu itu ada.

Mungkin tak banyak yang tahu dengan busana ini, oleh karena itu Hendri Avenus, salah satu penggiat seni alam Melayu ini ingin membangkitkan kembali ingatan dan semangat akan keberadaan busana Melayu klasik di tanah ini.

“Baju Melayu klasik digunakan masyarakat Melayu pada umumnya. Tempo dulu busana Melayu klasik dipakai untuk aktivitas sehari-hari orang Melayu, seperti berladang maupun bekerja,” ungkap pria yang akrab disapa Venus ini.

Busana Melayu klasik memiliki beberapa karakteristik yaitu tidak berkerah, memiliki sulaman mata lalat pada bagian leher baju dan berlengan panjang. Baju ini tidak berkerah dan tidak berkancing karena belum terpengaruh oleh budaya luar seperti Eropa. Bahkan pada masa lalu, masyarakatnya menggunakan kulit kerang sebagai kancing.

Pada laki-laki, bawahannya  dikenal dengan sebutan seluar pesak. Seluar memiliki arti celana dan pesak adalah kain yang dijahit pada kelangkang atau depan seluar. Memiliki ukuran selebar kain sarung, dengan tambahan tali pengikat di pinggang karena zaman dulu belum ada ritsleting. Mengikuti sunah dari ajaran Islam, seluar pesak digunakan sepanjang mata kaki.

“Terciptanya seluar pesak ini memang mengikuti sunah dan ajaran agama Islam. Jadi celana gampang diangkat ketika berwudhu dan memudahkan untuk berhadas kecil (buang air kecil) karena memiliki ukuran yang lebar. Lengan bajunya pun mudah digulung,” ujar Venus .

Sementara itu, busana perempuan pada umumnya yaitu baju kurung dimana atasannya memiliki panjang hampir ke lulut dengan bawahan rok maupun celana. Pembedanya terletak pada bagian leher, tidak berkerah dan memiliki sulam mata lalat serta penutup kepala yang digunakan. Tudung putri menjadi ciri khas yang digunakan perempuan Melayu tempo dulu.

Masyarakat Melayu zaman dulu belum mengenal peci hitam, maka laki-laki Melayu pada masa itu menggunakan penutup kepala yang dibentuk sendiri dari kain. Ada dua jenis penutup kepala yang biasa mereka gunakan yaitu semutar dan songkok bulan (kopiah miring). Semutar dibentuk dari kain apa saja, cara pemakaiannya dililit di kepala. Sementara songkok bulan punya cara sendiri untuk membentuknya.

“Cara pembuatan songkok bulan berbeda dengan kopiah beludru, ada teknik khusus. Daerah yang banyak menggunakannya adalah daerah semenanjung Sumatra, Malaysia hingga ke Riau Lingga. Saat ini yang melestarikan mungkin nggak begitu banyak di sini tapi untuk beberapa daerah lain masih ada,” jelas pria yang juga aktif di Dekranasda Kalbar ini.

Songkok bulan punya keunikan tersendiri yaitu penggunaannya harus miring, oleh karena itu juga dikenal dengan sebutan kopiah miring. Bukan sembarangan makna, menurut pemahaman masyarakat Melayu pada masa itu, kopiah miring memiliki simbol orang yang suka menderma atau bersedekah dan memberikan bantuan.

Di masa sekarang, sangat sedikit kita jumpai orang yang masih menggunakan baju Melayu klasik dalam hajatan, apalagi dalam keseharian. Namun di beberapa acara seperti pameran seni dan budaya bertema Melayu, baju Melayu klasik masih bisa kita temui.

“Anak-anak muda Pontianak jangan takut berbaju Melayu karena itu jati diri bangsa Melayu dan jati diri kita semua sebagai Warga Negara Indonesia. Jadikan warisan leluhur itu suatu produk yang bisa digunakan dimana saja,” pesan Venus.

Di momentum hari ulang tahun Pontianak ini mungkin bisa kita coba ya, Sobat Z, untuk menggunakan busana Melayu sebagai wujud cinta kita dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Selamat Hari Jadi yang ke-249 tahun Kota Pontianak. (sya)

error: Content is protected !!