Cahaya Dari Ujung Kampung

PESONA DESA NELAYAN: Dua anak desa, adik dan kakak tengah menunggu kepulangan ayahnya dari melaut sambil menikmati panorama pemandangan matahari terbenam di Pantai Tengkuyung.

Temaram senja dari bias cahaya matahari sore akan segera berakhir. Tanda, bahwa raja malam sudah hampir datang, bersamaan berakhirnya perputaran waktu siang. Sesuai siklusnya, gelap segera memasuki perkampungan di Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Deny Hamdani-Sungai Nibung

ALUNAN suara azan terdengar lantang dari sebuah toa tua. Saling bersahutan dari rumah ibadah di dusun sebelah. Seorang lelaki paruh baya sedang berjalan terburu-buru menuju musala kecil. Beralaskan sandal jepit, dia berniat menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim. Kewajiban melaksanakan sholat magrib, bersama jemaah lain.

Memasuki pintu masuk surau, penerangan api pelita sudah menyala beberapa menit sebelum suara azan menggema. Pelita yang diartikan lampu dengan bakar minyak, jumlahnya tidak banyak. Letaknya juga disudut-sudut bangunan sebagai sarana penerangan beribadah. Rupanya, bangunan kecil rumah ibadah umat islam ini, sudah sangat lama tidak dialiri cahaya listrik dari perusahaan negara.

Kepala Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Syarif Ibrahim Sahib.

“Bukan sejak 75 tahun Indonesia merdeka lagi. Sejak kampung (Desa Sungai Nibung) ada, dari zaman kepunggawaan sampai zaman reformasi, penerangan listrik berbahan bakar minyak tanah sampai bahan bakar modifikasi solar sudah dipakai masyarakat turun-temurun,” kata Syarif Ibrahim Sihab (51), Kepala Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya membuka cerita.

Desa Sungai Nibung, Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya merupakan desa tua yang sudah ada sejak zaman kerajaan berdiri. Jumlah masyarakatnya mencapai 1.196 jiwa. Perbandingannya 608 jumlah pria dan sisanya 588 perempuan dari data tahun 2018. Data terbarunya hampir mencapai 1.650 an warga. Sekitar 360 Kepala Keluarga (KK) mendiami wilayah yang dibagi dalam 8 RT dan 3 RW ini.

Desa Sungai Nibung terdiri dari 3 dusun. Dusun Sungai Nibung adalah ibukota desa disusul Dusun Tanjung Burung dengan Dusun Tanjung Hulu. Dari tiga wilayah berbeda ini, potensi dan kekayaan sumber alamnya bermacam-macam.

Potensi aneka ikan komiditi ekspor, kepiting dan udang dari hasil tangkapan masyarakat melimpah ruah. Bidang pertanian dan perkebunan hampir menjadi pekerjaan mayoritas masyarakat, disamping berprofesi sebagai nelayan. Ada juga sebagian masyarakat bekerja sebagai pedagang.

Dalam bidang kepariwisataan, pemerintahan desa dan masyarakat sedang gencar-gencarnya mempromosikan keluar hingga manca negara. Pantai bernama Pantai Tengkuyung dan Hutan Manggrove Desa Sungai Nibung sudah dimarketkan melalui aneka medsos. Web desa, facebook, youtube, twitter hingga instagram.

Pemandangan panorama pantainya memang masih asri, alami, bersih bersamaan keunikan tradisi kehidupan nelayan setempat. Hamparan pasir putihnya dengan siluet matahari terbit-terbenam layak menjadi destinasi wisata unggulan ke depan.

“Harus diakui rata-rata penghasilan ekonomi masyarakat di sini, mengandalkan potensi alam. Semuanya diberikan melimpah dari sang pencipta. Kami bersyukur sekali termasuk panorama pantai dan hutan manggrovenya,” ucap Ibrahim.

Sejarah nama Desa Sungai Nibung sendiri diambil dari nama pohon menyerupai pohon pinang dan banyak tumbuh di bantaran sungai, tempat awal bermukim dan berkembangnya penduduk. Oleh para tetua di zamannya, dinamailah Kampung Sungai Nibung. “Itu hanya sekelumit sejarah singkat nama desa kami,” katanya lagi.

Menuju Desa Sungai Nibung, desa terujung dari Kecamatan Teluk Pakedai juga tidak mudah. Biaya untuk kesana tidak murah. Sekali jalan pulang pergi, dompet harus tersedia cukup tebal.

Pemandangan Desa Sungai Nibung terlihat dari kamera drone yang terbang di udara.

Transportasi satu-satunya bagi warga luar, hanya melalui jalur perairan Sungai Kapuas. Berangkat dari Dermaga Sungai Durian Laut, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya atau dari Dermaga Rasau Jaya, Kecamatan Rasau Jaya. Setidaknya butuh waktu 1 sampai 3 jam perjalanan dengan memakai speedboat.

Desa Sungai Nibung tercatat memiliki 1 bangunan sekolah SMP Negeri dan 2 Bangunan SD Negeri. Untuk melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi, baik ke SMA atau SMK, anak-anak harus menyeberang ke wilayah terdekat seperti Kecamatan Kubu atau sekalian ke ibukota Kubu Raya, Kecamatan Sungai Raya. “Anak saya saja, menimba ilmu lebih lanjut harus mondok ke ibukota Kalbar yakni Kota Pontianak,” kata Kades yang sudah dikarunia tujuh anak ini.

Meskipun hasil alam dari Desa Sungai Nibung melimpah, warga di sana masih merasa belum merdeka. Penerangan listrik dari perusahaan listrik negara rupanya belum pernah masuk. Sudah beberapa generasi, penerangan masih memakai pelita, lentera, lilin, hingga lampu jadul petromax. Rumah masyarakat dengan cahaya terang benderang lampu pertromax dipastikan tersedia bahan bakar minyak tanah atau spiritus (kerosene atau parafin) dengan jumlah banyak.

Kebanyakan masyarakat sudah terbiasa memakai pelita modifikasi berbahan bakar solar. Ternyata pengunaannya tidak mudah. Warga sering terbangun tengah malam, menjaga api pelita tetap menyala dan tidak jatuh ke lantai. Maklum keamanan sumbu pelita dengan api kecilnya, bisa merubah rumah menjadi musibah kebakaran.

Biasanya, tengah malam atau menjelang subuh, ada saja binatang masuk. Misalnya kucing, tikus, dan binatang lain. “Andai kucing lewat menyambar pelita dan jatuh, bisa habis rumah terbakar. Makanya saya selalu berjaga-jaga,” ucap Amin masih kerabat kepala desa menimpali.

Amin bercerita Pelita berbahan bakar minyak koresene, dulunya jadi primadona penerangan warga di kampung. Tidak hanya di kampungnya, di daerah tetangga, sangat banyak masyarakat mengandalkan pelita. Hanya seiring perkembangan zaman, desa atau dusun mempergunakan pelita sudah hilang tergantikan penerangan listrik dari PLN.

Namun di tempatnya, karena jaringan listrik belum masuk. Sekarang pelita berbahan bakar solar dipakai setiap hari. Ada juga warga memakai lentera yang memiliki penutup terbuat dari kaca dan berbahan besi dan alumunium. Lentera sedikit aman dibandingkan sumbu api pelita, yang terbuka dan terbuat dari bahan kain.

Beberapa rumah warga di tempatnya juga diketahui memakai genset. Namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari tangan. Masih banyak masyarakat mengandalkan penerangan pelita, yang sering membuat hidung warga hitam karena sebaran asapnya.

Belum lama ini, Ichwani, anggota DPRD Kabupaten Kubu Raya, dari daerah pemilihan (Dapil) Rasau Jaya-Teluk Pakedai protes lantaran masih ada daerah di Kecamatan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, belum teraliri jaringan listrik. Desa tersebut yakni Desa Sungai Nibung.

Karena pentingnya penerangan listrik, masyarakat dari desa tersebut pernah mengadu persoalan kelistrikan ke DPRD Kubu Raya. Mereka sering berkeluh kesah karena wilayahnya menjadi desa turun temurun belum menikmati fasilitas listrik negara. Perwakilan masyarakat meminta dijembatani dengan Pimpinan PLN Cabang Kalimantan Barat, agar dilakukan pendataan PLN.

“Masyarakat sangat berharap sekali. Kami sudah sampaikan. Kabarnya tinggal pendataan masyarakat saja. Besar harapan saya, dari dua daerah yang saya wakili ini, listrik dari PLN dapat masuk dan dinikmati tidak lama lagi,” kata politisi Gerindra yang karib disapa Iwan ini Agustus kemarin.

Banyakk kapal nelayan bersandar di dekat dermaga.

Kerjasama Swasta 
Perjuangan masyarakat memperoleh listrik negara, ternyata sudah lama dilakukan para pemangku kepentingan desa. Sayangnya masih sukar terwujud.

Ada dua alasan mendasar listrik negara susah masuk. Pertama, kawasan Desa Sungai Nibung, berdasarkan versi pemerintah sebagian masih berstatus kawasan hutan lindung. Kedua jangkauan titik tiang listrik terdekat, jaraknya lumayan jauh.

Sekitar 11 kilometer lebih dari daerah tetangga, Desa Pulau Karang ke Desa Sungai Nibung. “Kemudian kuota KK juga kecil. Sangat mungkin menghidupkan Desa Sungai Nibung biaya operasionalnya tinggi dari perusahaan listrik negara,” kata Ibrahim menebak-nebak.

Selain berupaya ke perusahaan listrik negara, pemerintahan desa juga pernah menjajaki kerjasama dengan pihak swasta. Kerjasama dilakukan dalam rangka mewujudkan penerangan dapat dinikmati setiap rumah di Desa Sungai Nibung. Sayangnya, penjajakan masih berjalan, karena masih ada beberapa evaluasi teknis dan lainnya.

Waktu itu, tahun 2019 silam sekitar 300 Kepala Keluarga bersepakat memasang meteran listrik berdaya 1300 kwh (kilo watt hour meter). Warga juga konsisten memasang instalasi listrik masing-masing, sambil menunggu pihak ketiga membangun pembangkit listrik.

Rencana pembangunan sarana kelistrikan dan penggelolaan keuangannya, juga melibatkan BUMDes Sungai Nibung Sejahtera. BUMDes SNS, tak hanya melayani penjualan voucher listrik nantinya, juga menjadi promosi pengelolaan sumber daya alam desa ke depan. Dengan begitu, pendapatan desa masuk dan daerah dapat dikenal luas ke luar.

Program lain ditawarkan BUMDes kepada nelayan adalah bagaimana memasarkan hasil perikanan ekspor dengan harga tinggi. “Jelas, bisa menjadi PAD bagi desa. Nantinya Pemdes mengatur regulasi pengelolaan sumber daya alam ramah lingkungan, tentunya untuk masa depan masyarakat saya juga,” ucapnya.

Keberadaan BUMDes bagi memang sangat diharapkan masyarakat. Ahmad (52), salah satu nelayan Dusun Tanjung Burung misalnya berkeinginan kehadiran lembaga desa dapat menjadi merubah kehidupan dan masa depan keluarganya. Dia bersama nelayan lain tidak perlu lagi mencari pembeli yang cenderung membeli ikan dengan harga sedikit timpang.

“Desa tentu bisa menampung hasil tangkapan ikan kami dengan harga tinggi. Dari desalah nanti menjualnya ke luar. Tentu harapan kami, desa membeli dengan harga lumayan tinggi juga,” ucap dia ditemui sedang membawa alat tangkapan ikan.

Penerangan Dua Metode 
Untuk sekarang, penerangan warga desa masih seadanya. Di Desa Sungai Nibung ada dua metode penerangan. Bagi wilayah dusun terletak di kawasan pantai yakni Dusun Tanjung Burung dengan andalan perikanan dan wisata alam berupa Pantai Tengkuyung memang masih minim cahaya listrik. Kebanyakan rumah-rumah warga di sana memakai lentera atau pelita berbahan bakar modifikasi minyak solar.

Sementara di Dusun Sungai Nibung dan Dusun Tanjung Burung, cahaya lampu malam hari cukup lumayan. Genset hasil swadaya sudah tersedia lama. Hanya kapasitasnya masih terbatas. Tidak semua rumah masyarakat mendapatkan penerangan dengan genset. “Masih banyak masyarakat memakai lentera, pelita, dan lilin,” tuturnya.

Bagi masyarakat terkena jalur genset, secara royongan membayar operasional solar. Biaya BBM solar juga ditagih tim bentukan masyarakat sendiri. “Uang warga memang ditarik. Tidak banyak, hanya membeli minyak solar saja sebagai bahan bakar genset,” kata Ibrahim.

Khusus penerangan bangunan pemerintahan desa, kesehatan, pendidikan, dan bangunan warga dekat kantor, disiapkan juga genset. Pemangku kepentingan Desa Sungai Nibung sudah lama menyediakan genset dengan kapasitas 10 Kilo volt ampere (Kva).

10 Kva jika dihitung ilmu kelistrikan adalah 1 Kva sama dengan 800 Watt. Ditotalkan berarti 8.000 Watt. Ribuan Watt diasumsikan cahaya listrik dari genset desa hanya dapat menerangi belasan bangunan saja.

Genset menyala bagi pemerintahan desa dan masyarakat memang penting. Aktivitas pelayanan dasar warga bakalan berjalan. Hanya saja tetap “pincang”, karena tidak semua dilakukan memakai listrik genset. Pemdes lebih sering bekerja manual pada siang hari, terkecuali agenda laporan mendesak ke Pemkab Kubu Raya. “Harus dikebut kalau laporannya cepat. Kami manfaatkan genset sesekali di waktu siang,” ucap Ibrahim.

Pemerintah Desa sebenarnya sudah terbiasa bekerja pada malam hari. Ini karena penerangan lebih maksimal. Alat-alat memakai listrik dari genset hidup semua. Misalnya komputer, printer, sampai casan hape.

Bekerja malam hari juga punya jeda awaktu terbatas. Akan tetapi krunya merasa lebih nyaman dan hemat. “Penerangan waktu malam terbatas sampai tengah malam saja. Kalau genset dipaksakan hidup 24 jam, mesin cepat rusak. Desa juga bisa bangkrut karena membeli solar tak berhenti,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Penerangan listrik dari genset malam hari memang hanya hidup dari pukul 18.00 sampai pukul 00.00 WIB. Selebihnya sampai pagi hari, penerangan kembali mengandalkan pelita atau lentera. Makanya hari-hari selama tahunan, penerangan seadanya sudah jadi sahabat warga Desa Sungai Nibung.

Harapan ke Pemerintah 
Syarif Ibrahim Sihab, yang namanya senasab dengan keturunan raja dari Kabupaten Ketapang, sudah lama menjadi kepala desa. Hampir 3 periode, dia menahkodai Desa Sungai Nibung. Sekitar 13 sampai 14 tahun lamanya. Desanya juga sudah berganti-ganti setidaknya 8 kali kades, sejak pemerintahan masih kepunggawaan sampai NKRI berdiri.

Kepiting Bakau hasil tangkapan nelayan setempat sebagai salah satu komoditi andalan.

Harapan pria yang rambut di kepalanya terlihat memutih ini adalah masyarakat dapat menikmati penerangan listrik 24 jam tanpa perlu mati di tengah malam. “Kami berharap sekali PLN dan pemerintah, tetap berupaya mencari jalan keluar menerangi desa kami dengan listrik negara,” pinta kades dengan motto bekerja dari Desa untuk Kubu Raya, Kalbar dan Indonesia ini.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji awal Agustus 2020 pernah menyoroti kinerja PT. PLN wilayah Kalbar. Dia menyebutkan dari 2031 desa tersebar, terdapat sekitar 400-an desa belum terjangkau jaringan listrik. Padahal warga mendambakan jaringan kelistrikan hidup selama 24 jam

Pemprov Kalbar bahkan siap membantu PLN untuk program pengadaan tiang listriknya. Hanya jaringan tetap bersumber dari PLN. Program listrik desa harus disampaikan ke Presiden. “Saya minta dua sampai empat tahun ke depan, semua desa di Kalbar sudah terang. APBD Kalbar siap bantu pengadaan tiang listrik,” ucapnya di media. “Penerangan suluruh desa bisa terwujud, tergantung sikap PLN sendiri,” timpalnya kembali memberi tantangan.

Anggota Komis VII DPR-RI, Maman Abdurrahman, menambahkan DPR RI sebenarnya sudah menganggarkan dana pembangunan jaringan listrik bagi desa-desa belum terjangkau listrik. Targetnya dalam periode 4 tahun ke depan, minimal 300 desa sudah teraliri listrik. Hanya sekarang, baru 42 desa sudah teraliri listrik.

“Kami (DPR RI) masih bisa akomodasi program listrik masuk desa. Programnya harus dituntaskan. Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang, baru 16 desa sudah teraliri listrik. Solusinya tetap berada di tangan PLN dan komitmen menerapkan prinsip keadilan lisrik,” ujarnya. “Jangan sampai kita merasakan terang, tetapi masih ada saudara kita merasakan gelap,” timpal dia.

 

Wisata hutan manggrove yang terletak di Pantai Tengkuyung, paling sering dikunjungi wisatawan lokal ataupun luar negeri.

Komitmen PLN Kalbar
Sumber berkompeten, Manajer UP2K (Unit Pelaksana Proyek Kelistrikan) Wilayah Kalbar, Dasrul Syah menjawab bahwa melistriki desa-desa di hampir semua wilayah Kalimantan Barat, berjumlah 543 desa diperlukan berbagai langkah.

Pertama, katanya, anggaran yang harus disiapkan cukup besar mendekati angka Rp4,5 Triliun. Kedua kesulitannya yakni posisi desa-desa ujung, hulu sampai pedalaman Kalbar sudah sangat jauh dari titik jaringan terdekat.

Terkadang, katanya, belum ada akses jalan menuju desa-desa belum teraliri listrik. Makanya harus dibangun pembangkit-pembangkit isolated seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Menuju lokasi, desa-desa belum teraliri listrik banyak masalah diperhatikan. Seperti banyak tanam-tumbuh yang harus dibersihkan atau diganti rugi. Terkadang juga harus melewati jalan akses batas negara yang izin birokrasinya terlampau panjang dari Badan Pengelola Jalan Nasional

Nah, lanjutnya, untuk Desa Sungai Nibung berdasarkan informasi dari UPL PLN di Rasau Jaya memang belum teraliri jairngan listrik. Penyebabnyah yakni memang belum ada akses memadai ke lokasi tujuan. Sehingga salah satu solusi paling tepat yakni memasang PLTS, yang memang belum siap sampai sekarang**

error: Content is protected !!