Cap Go Meh tanpa Perayaan, Tatung pun “Pensiun” Pawai

Perayaan Cap Go Meh tahun ini harus dirayakan dengan cara berbeda oleh warga Tionghoa. Selama masa pandemi, perayaan dilaksanakan dengan terbatas. Tidak ada panggung hiburan, pesta kembang api, atraksi barongsai, arak-arakan naga, maupun parade tatung. Ratusan tatung yang biasa mengikuti parade pun harus “pensiun”.

ARIEF NUGROHO, Singkawang

Sore itu, Sabtu (13/2), Akhim terlihat duduk di teras rumahnya di Jalan P. Belitung, Pasiran, Singkawang Barat. Perempuan 42 tahun itu merupakan satu dari tujuh tatung bersaudara di bawah Kelenteng Cetyo Tho Fab.

Bersama dengan adik sulungnya yang juga seorang tatung, Hero, 28 tahun, ia menyambut kedatangan kami.

Hari itu, masih dalam suasana Imlek. Laiknya tamu yang sedang “konyen” kami dipersilahkan masuk.  Eksterior dan Interior rumah dihias dengan berbagai pernak pernik Imlek. Mulai dari lampu warna warni, lampion dan pajangan lainnya.

Meja panjang yang ada di ruang tamu terisi bergaman makanan khas Imlek. Seperti kue keranjang dan beragam jajanan pendukung lainnya.

Rumah Akhim berada di komplek Kelenteng Cetyo Tho Fab.

Akhim merupakan anak ke empat dari sepuluh saudara. Tidak semua saudara kandungnya menjadi tatung. Hanya enam orang. Empat saudara perempuan dan tiga laki-laki, termasuk Kevin, sang keponakan. Mereka adalah Su Cin, Monica, Su Cian, Susan, Hero dan Kevin. Mereka menjadi pewaris dari sang ayah, Chi Sun Kong alias Akong, yang juga seorang tatung.

Tatung merupakan sosok manusia yang menurut beberapa kepercayaan sedang dirasuki roh dewa.

Kata ‘tatung’ sendiri berasal dari bahasa Hakka, yang berarti roh dewa, lalu diserap menjadi bahasa masyarakat lokal.

Akhim dan keenam saudaranya, dijuluki sebagai tujuh tatung bersaudara dari Kelenteng Cetyo Tho Fab.

“Kami semuanya bertujuh. Enam orang saudara kandung. Satu keponakan. Karena Pandemi, dua saudara kami tidak pulang. Mereka ada di Singapura,” kata Akhim.

Bagi sebagian orang Tionghoa menjadi tatung adalah takdir. Mereka adalah orang special yang dipilih oleh Dewa. Memiliki keahlian pengobatan hingga mengusir roh jahat.

Akhim sendiri merupakan titisan Dewa Jiun Hang Ciong Kiun, seorang panglima. Ia memiliki keahlian mengobati penyakit, guna-guna dan mengusir hawa negative. Demikian juga Hero, sang adik sulung. Ia mewarisi Nam Shan Nyi Fab, seorang petapa dari gunung di wilayah selatan. Kemampuannya dapat mengobati penyakit, guna-guna dan mengusir hawa negatif.

Selama perayaan Cap Go Meh, tujuh tatung bersaudara ini tidak pernah absen mengikuti festival setiap tahunnya. Dalam penampilannya, mereka memiliki ciri tersendiri. Mengenakan jubah berwarna putih dan pink. Berdiri di atas altar paku dan pedang.

Demikian juga dengan para tatung lainnya. Para tatung itu berpakaian sebagai dewa, jenderal, panglima perang Cina. Warna kostumnya ada yang hitam, kuning, merah atau hijau.

Pelindung tubuh dan pedang yang mereka bawa berkilau-kilau oleh sepuhan emas dan perak. Mereka mengusung bendera segitiga yang memuat nama-nama tatung. Sebagian memikul tandu sembari menyipratkan ait penolak bala.

Tatung yang berjalan kaki dan yang bertandu, menunjukkan status sosial mereka di kalangan masyarakat. Saat kerasukan, jarum-jarum besi sepanjang 50 cm menembus pipi dan bibir tanpa setetes darah pun. Duduk di atas tandu, beralaskan jejeran pedang tajam atau ratusan paku.

Warga keturunan Tionghoa Singkawang di perantauan, kerap secara khusus pulang kampung hanya untuk melihat acara ini. Seusai pawai, pengunjung memburu persembahan yang telah diberkati.

Namun, tidak dengan tahun ini. Para tatung tidak lagi pawai. Mereka terpaksa harus “pensiun”. Pemerintah Kota Singkawang dan pemangku kebijakan lainnya memutuskan mentiadakan semua kegiatan yang mengundang kerumunan. Termasuk festival Cap go Meh.

“Ya mau gimana lagi, pemerimntah sudah memutuskan untuk meniadakan festival Cap Go Meh. Tidak ada pawai,” timpal Nico Kant, ketua Kelenteng Cetyo Tho Fab.

Sebelum tampil pada festival pawai tatung, biasanya para tatung dari berbagai kelenteng melakukan ritual bersih jalan atau tolak bala. Berangkat dari kelenteng masing-masing, menuju Wihara Tri Dharma Bumi Raya yang terletak di pusat Kota Singkawang. “Tahun ini juga tidak ada ritual bersih jalan,” kata Nico.

Kami akan melakukan sembahyang di kelenteng. Menghidupkan hio dan berdoa,” ujar Nico Kant, Ketua Kelenteng Cetya Tho Fab.

Pihaknya mengaku menghargai keputusan pemerintah untuk tidak menggelar festival Cap Go Meh. “Kami yakin, para Sifu dan Dewa memaklumi situasi seperti ini,” katanya.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengajak masyarakat menyambut Perayaan Tahun Baru Imlek di tahun 2021 dengan cara yang sederhana.

Menurut Tjhai Chui Mie, tahun ini, perayaan Imlek dan Cap Go Meh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana pandemi Covid-19 masih melanda Kota Singkawang hingga saat ini.

Di momen Perayaan Imlek dan Cap Go Meh ini, dia mengimbau masyarakat untuk membatasi berbagai aktivitas yang dapat menyebabkan kerumunan orang.

“Ada Instruksi Presiden, Surat Edaran Menteri Kesehatan, Surat Edaran Gubernur Kalbar dan Surat Edaran Wali Kota untuk mengimbau masyarakat agar tidak menggelar kegiatan yang menimbulkan kerumunan,” ungkap Tjhai Chui Mie.

Di masa pandemi ini pula, dia mengajak masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan.

“Rayakan Imlek dengan suka cita dan penuh cinta kasih antar sesama keluarga, teman,  kerabat,  tetangga berjumpa dengan tetap menjaga kesehatan dan protokol kesehatan,” ujarnya.

Dampak Wisatawan

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat sebelumnya melansir angka kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) ke Kalbar terus mengalami penurunan drastis. Tercatat hanya ada sembilan kunjungan wisman sepanjang Desember 2020. Angka tersebut jauh lebih rendah dari bulan November 2020 yang mencapai 2.529 kunjungan.

“Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang datang ke Kalimantan Barat pada Desember 2020 hanya sembilan kunjungan atau turun 59,09 persen,” ungkap Kepala BPS Kalbar Moh Wahyu Yulianto, pada 1 Februari 2021.

Dijelaskan Wahyu, kunjungan Wisman pada bulan Desember 2020 tertinggi datang melalui pintu masuk Entikong (55,56 persen) kemudian disusul pintu masuk Aruk (44,44 persen).

“Sedangkan pintu masuk Supadio, pintu masuk Nanga Badau, dan pintu masuk Jagoi Babang tidak ada kunjungan wisman,” katanya.

Kemudian mengenai Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang di Kalbar pada Desember 2020 sebesar 38,39 persen, turun 3,64 poin dibandingkan November 2020 sebesar 42,03 persen. Kendati demikian, lama menginap tamu mengalami peningkatan dari bulan sebelumnya.

“Rata-rata lama menginap tamu hotel bintang di Kalbar pada Desember 2020 selama 1,45 hari, naik 0,11 hari dibandingkan November 2020 selama 1,34 hari,” tuturnya.

Selain itu Wahyu juga menyampaikan perkembangan transportasi pada Desember 2020. Di mana jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri baik yang datang maupun pergi terjadi peningkatan.

“Yang datang sebanyak 70.257 orang, naik 20,03 persen, sedangkan jumlah penumpang angkutan udara dalam negeri yang berangkat pada Desember 2020 sebanyak 79.301 orang, naik 28,74 persen,” katanya.

Kemudian untuk jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang datang maupun pergi pada Desember 2020 terjadi peningkatan di atas 30 persen dari bulan sebelumnya.

“Penumpang angkutan laut dalam negeri yang datang mencapai 5.790 orang atau naik 40,02 persen, sedangkan jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri yang berangkat pada Desember 2020 mencapai 5.397 orang naik 34,02 persen,” tutupnya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!