Cara Keluarga Munir Melatih Wawasan Lingkungan dari Rumah
Pupuk Kesadaran Cinta Lingkungan Anak Sejak Dini

KELUARGA LINGKUNGAN: Munir bersama sang istri Isnaini Mardziana dan dua anaknya, Arkaan dan Afiqah, di rumah mereka. FAJAR TUMANGGOR/JAWA POS

Memupuk kesadaran lingkungan memang harus dimulai sejak dini. Itulah yang dilakukan Munir dan Isnaini Mardziana. Bersama dua anaknya, yakni Ahmad Arkaan Taamir dan Afiqah Mutiara Tungga Dewi, keduanya terlibat aktif dalam berbagai kegiatan bertema lingkungan.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

BEGITU sampai di depan rumah mereka yang beralamat di Jalan Nginden II Nomor 22, suasana hijau langsung terlihat. Terutama bagian atap rumah yang menjadi tempat pembiakan tanaman melati. Modelnya dibuat berjajar dan menggantung begitu rapat.

Di bagian pintu masuk rumah hingga ruang tamu, tertata botol kemasan minuman yang sudah diisi plastik kemasan. Namanya ekobrik. Jumlahnya ratusan. Keluarga itu menamainya bengkel ekobrik. Ya namanya bengkel, ada banyak kreasi dari ekobrik tersebut. Mulai kursi hingga meja.

’’Jadi, ini semua merupakan bagian dari keluarga sadar iklim,” kata Munir sembari membuat ekobrik saat dijumpai pada Kamis (1/4). Keluarga sadar iklim adalah gagasan sekaligus lomba yang dibuat Tunas Hijau kepada keluarga di seluruh Surabaya. ’’Alhamdulillah. Kami menjadi keluarga terbaik I pada 2020 untuk kategori ini,” paparnya.

Ada banyak item yang membuat mereka dinyatakan sebagai keluarga iklim terbaik. Antara lain, soal pengolahan sampah, sosialisasi wawasan lingkungan, penggunaan area sempit untuk wadah tanaman, hingga pembuatan komposter dan biopori. ’’Jadi, sebenarnya keluarga sadar iklim ini adalah warisan nenek moyang kita. Nilai-nilainya sudah tumbuh ratusan tahun lalu,” kata Munir.

Dia memulai semua aktivitas itu karena dorongan dari anaknya yang mengikuti program lingkungan dari sekolah. ’’Semula kita justru tak tahu mengenai program keluarga sadar iklim ini. Cuma karena ada seorang guru yang mengajak, lalu anak saya tertarik. Kemudian, mengajak kami,” ujar dia.

Selama mengikuti lomba keluarga sadar iklim itu, mereka berjuang keras untuk menyosialisasikan pentingnya pengelolaan sampah kemasan. ’’Kami selalu yakinkan pemilik warung kopi untuk tidak membuang sampah kemasan. Sebaliknya, diberikan ke kami,” katanya.

Arkaan, lanjut dia, setiap hari mengumpulkan sampah kemasan tersebut. ’’Sehari bisa mengumpulkan puluhan kilogram sampah kemasan,” tutur Munir. Itu juga merupakan proyek yang dijalankan Arkaan dalam mengikuti Pangeran/Putri Lingkungan Hidup 2021 yang diselenggarakan oleh Tunas Hijau juga. ’’Sampah kemasan ini diolah jadi ekobrik. Saya diberi target 500 ekobrik,” ungkap Arkaan.

Dia mengatakan, sejauh ini masyarakat sangat kooperatif dan mau memberikan sampah kemasan secara cuma-cuma. Tak sedikit pula yang bertanya tentang pengolahan sampah tersebut.

’’Jadi, tujuan akhir saya tidak saja mengolah sampah ini, tapi juga ikut menyosialisasikan bahwa sampah kemasan bisa diolah,” kata siswa kelas IV SDN Jangkungan I itu.

Sementara itu, Dziana mengatakan bahwa kegiatan bertema lingkungan tersebut adalah aktivitas integratif yang dilakukan secara bersama-sama. ’’Anak-anak saya memang senang dengan kegiatan bertema lingkungan. Sejak dini saya ajarkan ke mereka. Termasuk sama si kecil Afiqah,” kata dia.

Afiqah mengikuti lomba yang sama dengan Arkaan. Siswi kelas I SDN Nginden Jangkungan I punya proyek tanaman melati yang ditanam di area atap rumah. ’’Jumlahnya 300 bibit. Ini didapat dari kampung dan distek untuk memperbanyak jumlahnya,” ujar Dziana.

Pemanfaatan area sempit itu merupakan nilai penting dalam keluarga sadar iklim. Sebab, tak banyak keluarga yang bisa memanfaatkan lahan tersebut untuk bercocok tanam. ’’Bahkan, tak sedikit rumah yang memiliki lahan luas, justru tidak ada pemanfaatan. Ini kami terbatas, tapi bisa dibentuk seperti ini,” katanya sembari menunjuk area lahan.

Berbagai kegiatan yang telah mereka lakukan juga semakin komplet dengan aktivitas bersih-bersih pantai yang sering mereka lakukan. Sejak Desember 2020, keluarga mereka kerap mendatangi pesisir Tambak Wedi dan Kedung Cowek untuk mengutip sampah yang berserakan di sana.

’’Kami tidak pernah absen. Untuk bulan Maret saja, tiap minggu kami datang,” tuturnya. Biasanya, dia membawa Arkaan dan Afiqah. Ada 11 karung sampah yang bisa mereka pungut dalam sekali kegiatan. ’’Saya dan anak-anak senang aja gitu. Happy, Mas,” ungkap dia.

Di balik semua kegiatan yang mereka lakoni, Dziana mengaku semua itu demi meningkatkan kepekaan dan komitmen keluarga untuk menjaga lingkungan. ’’Apalagi anak saya ini masih kecil. Jalan mereka masih panjang. Nilai-nilai begini harus ditanamkan sejak sekarang,” katanya.

Dziana berharap bisa memotivasi banyak keluarga untuk terus menjaga lingkungan tetap asri dan bersih. Sehingga bisa memupuk nilai tanggung jawab dan kreativitas di masa mendatang. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!