Cara Mengatasi ‘Dad Shaming’

Dad shaming terdengar awam di telinga masyarakat. Namun, tanpa disadari biasa dialami para ayah. Apakah dad shaming? Apakah berdampak pada mental sang ayah?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Robbi Adriansyah merupakan ayah dari dua anak. Dia beberapa kali mendapatkan dad shaming dari lingkungannya. Sebagai staff di salah satu instansi badan usaha miliki negara (BUMN), dia cenderung menjalankan tugas kantor ke berbagai daerah. Hal ini membuat pria berusia 33 tahun ini jarang di rumah. Suatu ketika saat berada di rumah, dirinya mendapati Andre, buah cinta pertamanya dengan sang istri menangis. Menurut pengakuan Andre, ia bertengkar dengan anak tetangga.

Kala itu, Andre sedang bermain. Tidak lama datang anak tetangga ingin meminjam. Buah hati saya memperbolehkan dengan cara sistem gantian. Namun, anak tetangga tidak sabar dan merampas. Karena marah, Andre tidak sengaja mendorong dan membuat anak tetangga menangis. Saat itu, Robbi mengajak Andre menghampiri yang bersangkutan untuk menyelesaikan dan meminta maaf.

“Tetapi, yang saya dan anak dapatkan adalah komentar negatif dari sang tetangga. Seperti, ‘Pantas Andre, ayahnya jarang pulang, sih. Jadi, tidak dididik dengan baik. Jangan pada main dengan Andre lagi’,” curhatnya.

Pengalaman serupa juga pernah dialami Imam Pratama. Pria berusia 35 tahun ini pernah mendapatkan komentar negatif berkenaan dengan penampakan anak. Kala itu, kalimatnya ‘Ayahnya tidak pernah ngajak jalan-jalan nih, kayaknya. Anaknya keliatan nggak bahagia’. Dan, ‘Anaknya kurus banget. Sering dimarahin ayahnya, nih’.

“Menyakitkan sih, saya tidak terlalu perduli. Karena yang bersangkutan tidak tahu kehidupan saya dan keluarga. Biar saja dia menilai sesukanya,” ujar Imam.

Mungkin bagi sebagian orang komentar yang diberikan ini biasa. Tapi, tidak bagi Robbi. Baginya sang tetangga tak pantas berkata demikian. Tetangganya tidak tahu pola asuh apa yang diterapkan Robbi dan sang istri kepada buah hatinya, meski terkadang harus terpisah oleh jarak.

Dad shaming adalah komentar negatif serta cenderung merendahkan kepada ayah terkait metode pengasuhan anak yang si ayah terapkan ke anak. Psikolog Verty Sari Pusparini, M.Psi mengatakan menurut penelitian dari University of Michigan, jenis-jenis dad shaming paling besar yaitu cara pendisiplinan yang dianggap terlalu keras atau bahkan cuek terhadap anak. Masalah makan, tidur,  penampilan anak, dan masalah pendidikan. Penelitian yang sama menyebabkan bahwa yang paling sering melakukan dad shaming adalah pasangan sendiri.

“Kemudian diikuti orang tua, teman, orang asing dan guru,” katanya.

Psikolog di Sekolah Pelita Cemerlang ini menyatakan dampak dad shaming yang dirasakan ayah bisa saja memengaruhi pola asuhnya terhadap sang buah hati. Dimana, dalam pengasuhan ayah menjadi tidak percaya diri. Dampak dad shaming juga bisa memengaruhi pernikahan hingga menyebabkan depresi kepada sang ayah.

Adakah dampak bagi anak saat melihat ayahnya menjadi korban dad shaming? Psikolog dan Founder Borneo Parenting Club ini menuturkan hal itu bisa memengaruhi cara pandang anak terhadap ayahnya. Dampak jangka panjang yang bisa saja terjedai adalah memengaruhi cara pola asuh anak selanjutnya. Hal negatif seperti ini tentu tidak diinginkan oleh siapa pun, termasuk ayah.

Agar tidak mudah terpengaruh dad shaming, ayah bisa mengatasinya dengan mempelajari pola asuh supayah lebih siap ikut mengasuh anak (fathering). Ayah juga bisa mendiskusikan dengan pasangan mengenai hal dilakukan oleh ayah. Ayah juga harus belajar untuk menanggapi kritik sebagai masukan dan belajar mengevaluasi diri.

“Sebagai ayah juga perlu membuat tujuan atau target pengasuhan supaya tidak mudah terpengaruh orang lain,” tutur Verty.

Psikolog di Aplikasi Halodoc ini menambahkan ibu dan anak adalah orang paling penting dalam mengurangi dad shaming.

“Terutama peran ibu. Diharapkan ibu dapat mengomunikasikan kepada ayah dengan baik. Kemudian, memahami karakter pasangan bukan mengkritik atau menjelekkan ayah di depan anak atau orang lain,” ungkapnya. **

loading...