Interaksi Obat dan Makanan
Cara Tepat Minum Obat

Minum obat menjadi cara untuk meredakan atau menyembuhkan penyakit. Dan, pastinya harus dengan tepat, termasuk mengonsumsinya setelah atau sebelum makan. Namun, apakah memiliki dampak jika abai terhadap hal tersebut?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Dosen Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran Untan, Rise Desnita, S.Farm,. M.si., Apt mengatakan beberapa obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman. Interaksi yang terjadi antara obat dengan makanan atau minuman terbagi atas tiga jenis, yakni interaksi farmasetik, interaksi farmakokinetik dan interaksi farmakodinamik.

Rise Desnita // Dosen Farmasi Untan

Interaksi farmasetik umumnya terjadi di luar tubuh. Interaksi ini biasanya terjadi antara bahan obat satu dan obat lainnya. Misalnya, saat kedua obat ini dicampur dapat merusak salah satu obatnya.

Interaksi farmakokinetik biasanya terjadi di dalam tubuh. Interaksi ini dapat menghambat salah satu proses obat untuk memberikan efek di dalam tubuh.

Interaksi faemakokinetik terdiri dari empat tahapan yakni, absorbi (obat diserap), distribusi (obat diedarkan ke seluruh tubuh), metabolisme (menghambat metabolisme obat karena ada yang berefek tak termetabolisme dan termetabolisme) dan ekskresi (interaksi menghambat jalur keluar obat dari tubuh).

Interaksi farmakodinamik dapat menghambat kerja obat dengan reseptornya. Ketika di dalam tubuh tentu obat harus berikatan dengan resepstornya. Saat mengonsumsi makanan atau minuman, ada yang kerja ikatan antara obat dan reseptor bersifat sinergis. Namun, bisa juga bisa bersifat antagonis karena makanan atau minuman yang dikonsumsi justru menghambat kerja obat dengan resptornya.

Menurut Rise, umumnya interaksi yang sering terjadi antara obat dengan makanan atau minuman adalah interaksi farmakokinetik.

“Ini dikarenakan beberapa makanan dan minuman dapat menghambat proses absorbsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi,” jelas Rise.

Ada makanan atau minuman yang dapat meningkatkan dan menurunkan efek dari obat yang dikonsumsi. Kandungan di dalam makanan atau minuman cukup banyak. Salah satu contohnya adalah susu. Susu diketahui mengandung banyak protein, zat besi, lemak dan lainnya.

Saat susu dikonsumsi setelah minum obat, tentu saja ada beberapa jenis obat yang dapat berinteraksi dengan kandungan di dalam susu, yakni protein yang justru menghambat absorbsi obat yang diminum, membuat efektivitas obat yang di minum menurun.

“Ibaratnya, minum obat tapi tak memberikan efek,” kata Wakil Ketua Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD-IAI) ini.

Tetapi, ada juga yang dapat meningkatkan efek beberapa obat. Misalnya, obat hidrofilik. Ketika berikatan dengan kandungan lemak di dalam makanan atau minuman, obat justru dapat menembus membran hingga mudah didistribusikan.

Terhadap dampak interaksi yang terjadi antara obat dengan makanan atau minuman, Rise menjelaskan ada tiga tingkat keparahan. Tingkat keparahan minor ini tergolong menimbulkan efek yang cukup ringan, dimana interaksi baik itu antara obat yang satu dan obat lainnya. Serta, interaksi antara obat dengan makanan atau minuman tak memengaruhi efek dan hasil terapi obat tersebut di dalam tubuh.

Pada tingkat keparahan moderat, efek yang ditimbulkan dapat menurunkan status klinis dari pasien. Harusnya pasien bisa sembuh selama dua hari saat minum obat tersebut. Tetapi, karena adanya interaksi, pasien baru sembuh setelah hari keempat mengonsumsi obat.

“Efektivitas obat masih baik, tapi adanya interaksi jadi memperpanjang waktu pengobatan,” kata Rise.

Tingkat keparahan mayor dapat berpotensi mengancam jiwa atau menyebabkan kerusakan permanen organ tubuh, karena interaksi yang terjadi dapat memberikan efek toksik. Bisa saja kadar obat menjadi berlebih di dalam tubuh setelah berinteraksi dengan makanan atau minuman. Akibatnya pasien mengalami keracunan.

“Namun, sejauh ini tingkat keparahan hanya terjadi pada minor dan moderat,” tutur Rise.

Rise menyatakan rentang waktu obat untuk lepas di dalam tubuh berbeda-beda. Ada yang cepat dan ada yang lama. Ada yang setengah jam setelah makan obat seseorang bisa mengonsumsi makanan atau minuman seperti susu. Paling lama ada yang baru bisa mengonsumsi setelah dua jam minum obat.

Rise menyarankan ada baiknya untuk mengonsumsi makanan atau minuman setelah dua jam karena lambung sudah kosong dan posisi obat sudah berpindah dari lambung ke usus yang tempat penyerapannya lebih besar.

“Terpenting saat minum obat harus memperhatikan aturan minum dan cara pakai. Jika kesulitan jangan takut mengkonsultasikan pada apoteker,” pesannya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!