Cegah Anak Menyakiti Diri Sendiri

Memang seperti banyak yang dibahas di literatur psikologi, ujung dari depresi bunuh diri. Tetapi, sebelum bunuh diri terkadang ada tanda-tanda, salah satunya self injury ini.

Banyak cara dilakukan anak untuk mengekspresikan perasaan sedih dan marah. Ada yang menangis, berteriak, ataupun hanya diam. Namun, bagaimana jika buah hati meluapkan kesedihan dengan menyakiti diri sendiri? Seperti menjambak rambutnya sendiri, mencakar pipi, memukul-mukul tangan ke anggota badan, hingga menyayat pergelangan tangan menggunakan pisau atau silet.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Menyakiti diri atau melukai diri sendiri dikenal dengan istilah self injury atau self harm. Psikolog Sarah, M.Psi menjelaskan dari asal katanya, self injury memiliki arti melukai diri sendiri secara sadar dan bukan akibat dari kecelakaan atau ketidaksengajaan. Biasanya self injury menjadi satu rangkaian permasalahan atau gangguan psikologis. Rentan dilakukan oleh orang-orang yang berada pada gangguan perasaan (mood), termasuk depresi.

“Memang seperti banyak yang dibahas di literatur psikologi, ujung dari depresi bunuh diri. Tetapi, sebelum bunuh diri terkadang ada tanda-tanda, salah satunya self injury ini,” jelas Sarah.

Menurut Sarah, self injury dilatarbelakangi adanya gangguan psikologis tertentu atau suatu permasalahan. Namun, saat ini self injury juga kerap dilakukan sebagai ajang tantangan (challenge). “Berkaitan dengan challenge, memang masih banyak pembahasan terutama yang berkaitan dengan pembahasan psikologis sosial,” ujar Sarah.

Artinya, lanjut Sarah, zaman sudah berkembang jauh.

“Zaman sekarang ini banyak sekali challenge. Baik, makanan, permainan sampai pada challenge yang bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal bagi yang melakukannya,” ungkap Sarah.

Pelaku challenge bernuansa self injury, seperti ‘Seberapa kuat sih, kamu tahan dengan rasa sakit’ biasanya tak memikitkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada saat melukai dirinya sendiri. Dia tidak memperhitungkan seberapa dalam sayatan yang dilakukan di bagian tubuh tersebut seperti pada pergelangan tangan.

“Apakah akan berdampak kedepannya? Dan, tanpa disadari challenge ini dapat mengundang hal buruk yang berujung maut,” kata Sarah.

Psikolog di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Kalbar ini menyatakan self injury yang berkaitan dengan psikologis biasanya ada usaha atau upaya untuk menutupi. Misalnya, menutupi luka sayatan di bagian tubuh atau mengubah gaya rambut untuk menutupi luka setelah membenturkan kepala ke tembok. Pelaku tak mau lukanya terlihat.

“Baginya, melukai diri sebagai salah satu bentuk luapan emosinya. Lain halnya, jika self injury berkaitan dengan challenge,” ujar Sarah.

Sarah menyarankan orang tua mendampingi buah hati agar terhindar dari tindakan self injury. Saat anak berusia remaja, orang tua harus kembali bersikap remaja.

“Bukan pemikirannya, tapi untuk mengikuti perkembangan trend remaja saat ini,” kata Sarah.

Orang tua juga harus peduli terhadap challenge di lingkungan pergaulan anak. Apalagi jika berujung maut. Sebelum berakibat fatal, perlu menyampaikan bahwa challenge tersebut tidak membawa prestasi yang membanggakan. Apalagi jika gagal dilakukan, bisa menimbulkan bekas, baik cacat atau berujung pada maut.

“Jangan sampai yang bersangkutan mempunyai pikiran, ‘Gara-gara saya, dia jadi meninggal’. Lalu itu terbebani. Akhirnya, karena sudah melukai orang lain, dia pun jadi melukai dirinya sendiri untuk melepaskan rasa bersalahnya,” tutup Sarah.**

loading...