Cegah si Manis Berujung Kronis Masuk Top 99 Inovasi Terbaik 

INOVASI: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono usai memaparkan inovasi Cegah si Manis Berujung Kronis. HUMAS PEMKOT FOR PONTIANAK POST 

Inovasi Kesehatan dari Pemkot Pontianak

Inovasi Rumah Sakit Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak yang bertajuk “Cegah si Manis Berujung Kronis” masuk top 99 terbaik se-Indonesia. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono yakin inovasi tersebut mampu masuk 40 terbaik sehingga bisa menjadi model percontohan buat diterapkan daerah lain dalam penanganan penyakit diabetes melitus

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

PENGUMUMAN top 99 inovasi pelayanan publik tentang penanganan penyakit diabetes melitus bertajuk cegah si manis berujung kronis milik Rumah Sakit Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Pontianak, dari Menpan RB diketahui kemarin usai Edi melakukan presentasi di hadapan lima panelis.

“Inovasi milik RS Sultan Syarif Mohamad Alkadrie sudah masuk top 99 pelayanan umum terbaik se Indonesia. Kita mampu mengalahkan puluhan ribu inovasi dari daerah lain. Inovasi bertajuk Cegah si manis berujung kronis merupakan salah satu upaya dalam penyembuhan diabetes,” kata Edi, kemarin.
Tingginya angka penyakit diabetes melitus di Pontianak, kata Edi, menjadi dasar pihak Rumah Sakit Sultan Syarif Mohamad Alkadrie membuat inovasi tersebut.

Dari data Riskesdas se Indonesia 2018 lanjutnya lebih dalam Kalbar berada diperingkat pertama penyumbang penyakit Diabetes dengan angka 11,1 persen, diikuti provinsi Maluku Utara ke dua, Riau dan Bangka Belitung. Melihat tingginya angka tersebut mendorong Pemerintah Pontianak untuk melakukan upaya dalam penekanan angka penyakitnya diabetes ini.

Dalam penerapan inovasinya, kata Edi lebih ditekankan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Seperti pemberian edukasi kelompok melalui grup WhatsApp, FGD baik pasien yang dirawat jalan, inap dan puskesmas. “Pihak rumah sakit juga menyelenggarakan senam diabetes rutin yang dilakukan tiap Jumat pagi,” ungkapnya.

Setelah program tersebut rutin dijalankan ternyata mulai berdampak positif pada penderitanya. Paling pertama adalah penderita mulai sadar dengan pola hidup sehat. Seperti meningkatnya pengetahuan lima pilar penata pelaksanaan Diabetes Miletus, meningkatnya kepatuhan pasien terhadap pasien terhadap terapi diabetes, turunnya kadar gula darah dan Hb A 1 C rata-rata pada angka 8,05 persen. “Kalau sebelumnya angka tersebut berada di 8,66 persen,” ungkapnya.

Melihat banyak dampak positif dari terapi ini, maka akan terus diterapkan. Apalagi caranya mudah dan bisa dilaksanakan disemua fasilitas kesehatan dengan sistem terstruktur.

Edi juga meyakini inovasi cegah si manis berujung kronis bisa masuk di top jajaran 40.

Pengumumannya pada hari Kamis ini. “Saya optimis. Karena saat presentasi kitapun mampu meyakini para panelis dengan jawaban-jawaban yang meyakinkan. Mudah-mudahan saja inovasi ini bisa masuk top 40 dan menjadi model percontohan untuk diterapkan di semua daerah,” tandasnya.(*)

Read Previous

Pemutakhiran Daftar Pemilih Berkelanjutan

Read Next

Dipukul di Telinga, Ditendang di Kaki

Tinggalkan Balasan

Most Popular