Cerita Calon Penumpang Sriwijaya Air SJ182 Asal Mempawah

SELAMAT: Hj Rachmawati (60), warga Mempawah batal naik pesawat Sriwijaya Air SJ 182 karena belum mendapatkan hasil swab PCR Covid-19. ISTIMEWA

Batalkan Tiket Lantaran Menunggu Hasil Swab PCR

Di balik tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182 rute Jakarta-Pontianak di Perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1) sore menyimpan banyak kisah. Termasuk cerita warga Mempawah, calon penumpang Sriwijaya SJ 182 yang gagal terbang lantaran menunggu hasil Swab PCR.

WAHYU ISMIR, Pontianak

Adalah Hj Rachmawati (60), warga Kota Mempawah, Kabupaten Mempawah.  Mantan qoriah internasional asal Kalbar ini, sejatinya akan menumpangi pesawat naas itu. Namun, rencana tersebut gagal lantaran dirinya belum mendapatkan hasil Swab PCR Covid-19 hingga siang hari menjelang keberangkatan pesawat tersebut.

“Rencananya, saya dan suami akan pulang ke Mempawah pada 9 Januari menggunakan pesawat Sriwijaya SJ182,” cerita Juara MTQ Nasional tahun 1986 itu, Senin (11/1) pagi di Mempawah.

Saat itu, imbuh wanita yang bertugas di Kanwil Depag Jakarta ini, dirinya masih menunggu hasil Swab PCR Covid-19 yang menjadi salah satu syarat wajib bagi penumpang pesawat yang akan datang ke Kota Pontianak.

“Saya swab di Jakarta pada pagi hari tanggal 8 Januari. Sambil menunggu hasilnya keluar, kami booking tiket pesawat Sriwijaya Air SJ182 keberangkatan siang pada 9 Januari. Tapi statusnya baru boking, belum di oke-kan,” jelasnya.

Namun, lanjut perempuan kelahiran Sekura, Kabupaten Sambas itu, hasil Swab PCR baru didapatnya pada 9 Januari sekitar pukul 10.30 WIB. Lantaran sudah terlalu siang dan tidak memungkinkan untuk mengejar penerbangan ke Pontianak maka tiket yang sudah dibooking terpaksa dibatalkan.

“Saya menunggu hasil Swab PCR keluar, barulah memastikan tiket pesawat. Karena, jika hasil Swab PCR positif maka otomatis saya tak bisa berangkat dan tiket akan hangus. Karena sudah terlalu siang, saya batalkan tiketnya. Kami putuskan pulang ke Pontianak pada 10 Januari,” ujar Rachmawati.

Pada Sabtu sore, lanjut Rachmawati, dirinya mendapatkan telepon dari anaknya di Pontianak. Dia pun mengatakan jika batal pulang ke Pontianak menggunakan pesawat Sriwijaya Air. Di situlah baru dirinya mengetahui kabar tragedi pesawat jatuh.

“Awalnya saya tidak tahu kalau Sriwijaya Air ini hilang kontak dan jatuh. Setelah anak menelepon dari Pontianak, barulah saya tahu. Alhamdulillah, Allah Ta’ala masih memberikan umur panjang dan menyelamatkan kami dari musibah itu,” tuturnya.

Kemudian, sambung Rachmawati, banyak keluarga dan rekan-rekan menelpon untuk memastikan keberadaannya. Sebab, rencananya pulang ke Pontianak pada 9 Januari dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air sudah diketahui keluarga. Terlebih di manifest pesawat jatuh juga tertera nama Rachmawati.

“Banyaklah keluarga dan rekan-rekan menghubungi untuk memastikan kondisi saya. Karena, nama Rachmawati juga ada di dalam manifest penerbangan Sriwijaya SJ182. Mereka mengira saya ikut dalam penerbangan itu,” pungkasnya. (wah)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!