Cerita Pesantren Jeha di Eks Lokalisasi Dolly dan Jarak
Awalnya Dianggap Mengganggu, tapi Tetap Jalan Terus

AKTIVITAS RELIGI: Guru mengajari santri mengaji di Pondok Pesantren Jeha. Aktivitas tersebut berlangsung di bangunan bekas wisma. ARISKI PRASETYO/JAWA POS

Sejak 2008, Pondok Pesantren Jauharotul Hikmah (Jeha) berdiri. Lokasinya tak lazim, yaitu berada di episentrum kawasan Dolly dan Jarak. Kini, satu di antara tiga tempat yang dijadikan lokasi pendidikan agama itu hampir tutup lantaran masa kontrak segera berakhir. Namun, seperti janji Tuhan, selalu ada kemudahan di dalam kesulitan.

ARISKI PRASETYO, Surabaya

RUMAH tua itu berada di Jalan Kupang Gunung Timur I. Berjarak 50 meter dari mulut gang. Meski memiliki tiga lantai, bangunan tua tersebut terlihat sederhana.

Warga asli metropolis tentu tidak asing dengan nama Jalan Kupang Gunung Timur 1. Sebab, dulu wilayah itu dikenal sebagai Gang Dolly. Tempat lokalisasi terbesar di Surabaya berdiri. Sebelum pemkot melakukan penutupan. Sisa-sisa sejarah Dolly masih terlihat jelas. Sebab, puluhan tahun lokalisasi itu bersemayam di tempat tersebut.

Salah satunya di rumah tua itu. Di bagian depan rumah, menempel identitas bangunan tersebut. Tergurat pada tembok. Yaitu, Wisma Putri Lestari.

Bangunan lawas tersebut memang bekas tempat esek-esek. Masuk ke dalam rumah, di sebelah kiri, terdapat lantai marmer berundak. Konon, dulu digunakan sebagai tempat pamer pekerja seks komersial (PSK).

Pria hidung belang yang masuk tinggal melihat-lihat. Kemudian, menentukan pilihan. Setelah sreg, perempuan itu dibawa ke atas.

Lantai 2 dan 3 merupakan bekas kamar PSK. Satu lantai berisi 10 kamar. Saling berhadapan. Ruangan berukuran 3 x 3 meter itu dilengkapi kamar mandi mini serta ranjang khusus. Bahannya tidak biasa karena terbuat dari semen.

Namun, cerita Dolly sudah lama hilang. Memudar dimakan waktu. Pemkot berupaya mengubah kawasan itu. Menjadi tempat yang lebih baik. Misalnya, sentra ekonomi. Pasar batu akik dan pasar burung didirikan.

Warga juga berpartisipasi. Mengubah wajah kelam Dolly. Menjadi tempat yang sejuk. Bahkan religius.

Peran warga terlihat di rumah tua itu. Di lantai bawah, sebanyak 10 anak berkumpul. Mereka duduk bersila. Anak laki-laki mengenakan sarung dan kopiah. Yang perempuan tampak ayu mengenakan kerudung.

Siang dua hari lalu, mereka tengah khusyuk. Satu per satu melantunkan ayat suci Alquran. Kegiatan itu dipimpin Ustad Lukmanul Hakim. ’’Ini kegiatan ngaji anak-anak Dolly,’’ ucap pemimpin Pesantren Jauharotul Hikmah (Jeha) Mochammad Rofiudin.

Tempat itu merupakan salah satu rumah yang digunakan Pesantren Jeha. Sejak 2014, bangunan tersebut disewa. Setiap hari ustad dan ustadah membantu anak-anak untuk mendapatkan pelajaran agama.

Entah apa yang terlintas dalam benak Rofi. Mendirikan tempat syiar agama Islam di lokasi itu. Sebab, kawasan tersebut sudah dicap merah. Bekas lokalisasi.

Cerita Rofi berawal 2008. Lulus kuliah dari Universitas Negeri Jember, dia pulang kampung. Rumahnya berada di Putat Jaya. Kala itu kondisi kampung masih ingar bingar. ’’Lokalisasi masih ada. Karaoke masih menjamur,’’ paparnya.

Hampir di setiap gang terdapat tempat karaoke. Tentunya karaoke yang tidak resmi. Tempat bernyanyi itu dilengkapi dengan pemandu lagu serta minuman keras (miras).

Dalam benak Rofi, dia ingin Putat Jaya menjadi kampung seutuhnya. Warga saling bercengkerama. Saling membantu. Kegiatan sosial dan agama berjalan. Bukan prostitusi.

Lama impian itu terpendam. Dia belum bisa mewujudkan. Namun, pesan dari sang guru memberikan penerang. Dia harus berjuang.

Untaian kata dari sang guru itu sangat berarti. Yaitu, kalau hidup itu hanya untuk hidup senang, cukup sandang pangan, punya rumah dan istri, lalu punya anak. Kalau itu saja, itu sama dengan kambing. Jadilah manusia yang gerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupi, berjuang dan memperjuangkan.

Mengingat pesan tersebut, Rofi seolah tersadar. Hidupnya belum lengkap ketika belum berjuang. Mewujudkan cita-citanya.

Langkah dilakukan. Bersama keluarga, dia menyusun konsep pesantren untuk membimbing warga Putat Jaya dan sekitarnya.

Pada 2008, Pesantren Jeha berdiri. Awalnya dia dan keluarga yang mengajar. Dari pintu ke pintu, Rofi menyampaikan kehadiran lembaga pendidikan agama itu. ’’Memang awalnya berat,’’ paparnya.

Pengajian dihelat di rumah kakaknya. Lokasinya di Putat Jaya Timur IV B. Hunian disulap menjadi ponpes. Lantai bawah digunakan sebagai ruang ajar. ’’Kami ajarkan ngaji gratis,’’ terangnya.

Awal ponpes berdiri merupakan masa yang berat. Cibiran kerap diterima. Banyak yang mengatakan ponpes mengganggu prostitusi.

Pesantren itu hanya mendapatkan 30 murid. Namun, Rofi tetap konsisten. Memberikan ilmu setiap hari meski lingkungan tidak mendukung.

Pelajaran ngaji sering terganggu dentuman musik karaoke. Pasalnya, lokasi pondok berdekatan dengan rumah bernyanyi. ’’Kadang-kadang ngaji sambil joget,’’ ujarnya.

Pelan tapi pasti, Jeha mendapatkan hati warga. Banyak yang mendukung. Bahkan, tidak sedikit anak PSK yang mengikuti pengajian. Jumlah siswa semakin banyak.

Rofi ingat salah satu pesan wanita penghibur ketika menitipkan anaknya. Dia menyampaikan, ’’Ibunya boleh saja rusak, tapi anaknya jangan.’’

Pesantren Jeha terus berkembang. Seiring dengan bertambahnya siswa, Rofi membeli sejumlah rumah. Bekas wisma dijadikan ponpes. Di Gang IV B, ada tiga bekas wisma yang dijadikan tempat mengaji.

Sayap terus dilebarkan. Beralih ke Dolly. Alasannya, Dolly merupakan pusat kegiatan prostitusi. Dia ingin mengubah tempat itu.

Saat ini Jeha memiliki kelompok pengajian. Anak-anak sampai ibu rumah tangga. Ponpes tersebut juga memiliki sejumlah kegiatan. Misalnya, Jumat berkah. ’’Kami memberikan makanan gratis kepada warga,’’ katanya.

Namun, keterbatasan dana menjadi ganjalan. Rofi memutar otak. SMS disebarkan untuk mendapatkan bantuan dari donatur. ’’Alhamdulillah, banyak yang menyumbang,’’ paparnya.

Setiap tahun, kontrak diperbaiki. Setiap tiga tahun dia harus membayar Rp 50 juta. Awalnya tidak ada kendala. Nah, tahun ini bantuan berkurang.

Pesantren Jeha mengalami kesulitan. Mereka tidak bisa membayar beban sewa lantaran kesulitan keuangan. Apalagi, Rofi juga tengah membangun pesantren di Gang IV B.

Beberapa hari lalu, Rofi menyebar pemberitahuan lewat WhatsApp (WA). Pesannya sangat meresahkan. Yaitu, Tarawih terakhir di Pesantren Jeha.

Dengan pesan itu, dia berharap donatur memberikan bantuan. Turun ke Pesantren Jeha. Menuntaskan beban tunggakan.

Ya, Pesantren Jeha memang membutuhkan bantuan agar siswa kembali mengaji. Tidak lagi terjerumus bahaya prostitusi.

Rofi yakin Allah tidak tidur. Namun, tetap memberikan bantuan kepada Pesantren Jeha. ’’Karena Tuhan memberikan yang terbaik bagi umatnya,’’ katanya. (*)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!