COVID-19 dan Peran Orang Tua Bimbing Anak di Rumah

Oleh : ATY ELISABET, S.Pd

Diera kebiasaan baru ini, semua pihak mempunyai peranan penting dalam mempersiapkan pendidikan dan iklim belajar yang menyenangkan bagi semua anak-anak. Kebijakan pemerintah yang telah merumahkan para guru pada akhirnya menimbulkan konsekuensi yang tidak sederhana.

Di tengah keterbatasan pembelajaran yang dilakukan secara daring, orangtua saat ini memiliki tanggungjawab yang lebih besar daripada sebelumnya dalam hal pendidikan anak. Ayah dan ibu dituntut untuk berperan sebagai orangtua seutuhnya dalam arti bukan hanya berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan anak dalam hal papan, sandang dan pangansaja.

Lebih dari itu, berusaha untuk memberikan bekal berupa pengetahuan dan keterampilan agar anak mampu hidup mandiri ketika dewasa kelak nampaknya menjadi hal yang tak terhindarkan, setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Selain itu menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembiasaan kegiatan ibadah yang bersifat wajib ataupun sunnah perlu dilakukan orangtua selama “liburan” panjang tersebut.

Berkaca pada pengalaman dua pekan sebelumnya dimana pemerintah memutuskan menghentikan kegiatan belajar tatap muka untuk pertama kalinya, begitu banyak kisah yang disampaikan oleh para oangtua ketika mereka harus membimbing anaknya belajar di rumah. Sebagian orangtua merasa “tersiksa” dengan aktivitas membimbing anak-anaknya dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya.

Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan secara daring nyatanya tidak lebih mudah dibandingkan dengan pembelajaran secara tatap muka. Orangtua dituntut untuk mampu berperan sebagai guru bagi anak – anak mereka, dan hal tersebut tidaklah mudah.

Orangtua harus belajar kembali tentang materi pelajaran yang tengah dipelajari oleh anak. Hal ini tentunya menjadi tantangan yang tidak akan mudah untuk dilalui mengingat materi pelajaran saat ini jauh berbeda dengan apa yang dipelajari oleh para orangtua kita dahulu.

Bagi orangtua dengan latar belakang pendidikan yang memadai serta didukung dengan fasilitas atau sarana yang lengkap, mendampingi anak untuk belajar di rumah mungkin tidak akan terlalu berat. Yang diperlukan adalah kesediaan dan kesabaran untuk tetap berada di samping anak – anaknya. Lain halnya dengan orangtua yang tingkat pendidikannya kurang memadai, menjadi guru bagi anak-anak mereka bukanlah perkara mudah. Selain itu keterbatasan akses informasi juga menjadi kendala tersendiri bagi sebagian orangtua dalam membimbing anak-anaknya.

Beratnya tantangan dalam mendidik anak sendiri di rumah pada akhirnya membuat sebagian orangtua bereaksi terhadap kebijakan sekolah yang memberikan tugas terlalu banyak kepada anak – anak mereka. Sebagian bahkan melapor kepada pihak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) karena anak serta orangtua mengalami stress dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Padahal, kita semua memahami bahwa guru memang dituntut agar siswa mampu mencapai tujuan pembelajaran sebagaimana tercantum dalam kurikulum.

Protes yang disampaikan oleh sebagian orangtua itu pun pada akhirnya disikapi oleh pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Untuk “liburan” berikutnya, anak tidak lagi dibebani dengan tugas – tugas yang bersifat akademik dan kognitif, melainkan tugas yang lebih menekankan pada kecakapan hidup serta penanaman nilai – nilai karakter.

Membantu tugas orangtua, membuat keterampilan dari bahan yang ada, belajar bercocok tanam serta kegiatan produktif lainnya merupakan tugas sekolah yang harus dikerjakan oleh anak. Selain itu melaksanakan shalat wajib dan sunnah serta menyetorkan hafalan Qur’an juga menjadi aktivitas keseharian anak yang akan dijadikan sebagai bahan penilaian oleh guru. Harapannya, dengan adanya tugas – tugas semacam ini, apa yang dilakukan oleh anak saat berada di rumah akan jauh lebih bermakna dan tidak menjadi beban bagi oangtua.

Terlepas dari hiruk pikuk kondisi saat ini, satu hal yang dapat dijadikan pelajaran adalah bahwa Covid-19 telah mengajarkan kita tentang bagaimana menjadi orangtua seutuhnya. Libur panjang sebagaimana kita jalani saat ini sudah semestinya dimanfaatkan oleh para orangtua untuk membangun hubungan emosional yang lebih baik dengan anak.

Orangtua sebagai pemimpin dalam keluarga memiliki kedudukan yang sangat vital terhadap pembentukan dan perkembangan kepribadian anak Erricson (Zahara Idris dan Lisma Jamal, 1992 :85) menyebutkan bahwa : “Perasaan aman hidup di dunia ini hanya mungkin dipunyai anak apabila sejak lahir ia diliputi oleh suasana cinta kasih serta diterima oleh ibunya dengan kegembiraan dan keikhlasan”.

Berdasarkan pada hal tersebut, maka orangtua mempunyai peranan terhadap pendidikan anak. Peranan tersebut antara lain menurut Zahar Idris dan Lisma Jamal (1992:84-86) adalah sebagai berikut : a. Menurunkan sifat biologis atau susunan anatomi melalui hereditas (besar badan atau bentuk tubuh, warna kulit atau warna mata), menurunkan susunan syaraf, kapasitas intelegensi, motor dan sensori equitmen (alat-alat rasa gerap). b. Memberikan dasar-dasar pendidikan sikap dan keterampilan dasar seperti pendidikan agama, budi pekerti, sopan santun, estetika, kasih sayang, rasa aman, dasar-dasar untuk mematuhi peraturanperaturan dan menanamkan kebisaaan-kebisaaan. c. Pada masyarakat modern semakin dipentingkan peranan keluraga untuk menanamkan nilai-nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang dianjurkan di sekolah.

Dengan kata lain, ada kontinuitas antara materi yang diajaarkan dalam keluarga dengan materi yang diajarkan di sekolah. Orangtua memiliki peran paling besar untuk mempengaruhi anak pada saat anak peka terhadap pengaruh luar, serta mengajarnya selaras dengan temponya sendiri. Orangtua adalah sosok yang seharusnya paling mengenal kapan dan bagaimana anak belajar sebaik-baiknya (Dwi Sunar, 2008:32).

Dalam proses perkembangan anak, peran orangtua antara lain : a). Mendampingin Sebagian orangtua bekerja dan pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Bahkan ada juga orangtua yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja, sehingga hanya memiliki sedikit waktu bertemu dan berkumpul dengan keluarga, meskipun dengan waktu yang sedikit, namun orangtua bisa memberikan perhatian yang berkualitas dengan fokus menemani anak, seperti mendengarkan cerita, bercanda, atau bersanda gurau.

Menyediakan fasilitas dan media bermain yang lengkap tidak menjamin anak merasa senang, anak merupakan makhluk sosial yang memiliki kebutuhan sosial, yaitu berinteraksi dengan orang lain, mendapatkan perhatian serta kehangatan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. b). Menjalin komunikasi menjadi hal penting dalam hubungan orangtua dan anak karena komunikasi merupakan jembatan yang menghubungkan keinginan, harapan dan 7 respon masing-masing pihak.

Melalui komunikasi, orangtua dapat menyampaikan harapan, masukan dan dukungan pada anak. Begitu pula sebaliknya anak dapat bercerita dan menyampaikan pendapatnya. Komunikasi yang diwarnai dengan keterbukaan, tujuan yang baik dapat membuat suasana yang hangat dan nyaman dalam kehidupan keluarga. Saat bermain, orangtua dan anak menjalin komunikasi dengan saling mendengarkan lewat cerita dan obrolan. c).

Memberikan kesempatan Orangtua perlu memberi kesempatan pada anak. Kesempatan dapat dimaknai sebagai suatu kepercayaan dari orangtua. Tentunya kesempatan ini tidak hanya sekedar diberikan tanpa adanya pengarahan dan pengawasan, anak akan tumbuhn menjadi sosok yang percaya diri apabila diberikan kesempatan untuk mencoba, mengekspresikan, mengeksplorasi dan mengambil keputusan kepercayaan merupakan unsur esensial sehingga arahan bimbingan dan bantuan yang diberikan orangtua kepada anak akan menyatu dan memudahkan anak menangkap maknanya ( M Sochib, 2000: 38). d).

Mengawasi Pengawasan mutlak diberikan pada anak agar anak tetap dapat kontrol dan diarahkan. Tentunya pengawasan yang dimaksud bukan berarti dengan memata-matai dan main curiga. Tetapi pengawasan yang dibangun dengan dasar komunikasi dan keterbukaan. Orangtua perlu secara langsung dan tidak langsung untuk mengamati dengan siapa dan apa yang dilakukan anak, sehingga dapat meminimalisir dampak pengaruh negatif pada anak.

Dalam kegiatan bermain, tetunya jenis permainan perlu diperhatikan agar anak laki-laki tidak terlalu menonjol (memiliki sikap kasardan keras), begitu pula anak perempuan terlalu menonjol sisi feminitasnya (terlalu sensitif atau cengeng). e). Mendorong atau memberikan motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong prilaku kearah tujuan (Bimo Walgito, 2001: 220).

Motivasi bisa muncul dari diri individu (internal) maupun dari luar individu (eksternal). Setiap individu merasa senang apabila diberikan penghargaan dan dukungan atau motivasi. f). Mengarahkan Orangtua memiliki posisi strategis dalam membantu agar anak memiliki dan mengembangkan dasar-dasar disiplin diri dari (M Sochib, 2000 : 9). Potensi seorang anak akan berkembang melalui pengalaman atau rangsangan yang diterimanya, tetapi tidak semua potensi itu dapat berkembang optimal tanpa pengkayaan pengalaman dan dia hanya akan mencari pengalamana tersebut bila menurutnya itu menyenangkan.

Kita tidak bisa memberi pelajaran pada anak-anak kita seperti di bangku sekolah terus menerus mengingat usianya yang masih sangat muda (balita). Karena dalam usia ini masih banyak membutuhkan banyak rangsangan yang diperolehnya melalui bermain.

Ini merupakan kesempatan emas dimana sebagian orangtua kita biasanya tengah sibuk bekerja setiap harinya sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk berinteraksi dengan keluarga yang pada akhirnya tidak memahami berbagai permasalahan yang dihadapi oleh anak. Selain itu Covid-19 juga menjadi tantangan tersendiri untuk menguji sejauh mana kemampuan seorang nakhoda (ayah) dalam mengendalikan bahtera di tengah ganasnya badai  lautan.

*) Penulis adalah Guru SMAN 2 Bengkayang

loading...