Covid-19 Pengaruhi Angka Inflasi

EVALUASI: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono beserta jajaran melakukan evaluasi pertemuan tingkat tinggi bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah Pontianak. ISTIMEWA

PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono menerangkan, inflasi di Pontianak tahun 2020 berada pada 2,11 persen. Angka ini masih di bawah inflasi Provinsi Kalbar yang berada pada angka 2,46 persen.

“Jika dibandingkan dengan tingkat inflasi nasional, inflasi di Pontianak berada di atas rata-rata nasional, yang tercatat 1,68 persen,” terang Edi, usai rapat evaluasi pertemuan tingkat tinggi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak di Ruang Pontive Center, Senin (25/1).

Ia melanjutkan, inflasi terjadi tidak terlepas dari pandemi Covid-19 yang tengah dihadapi saat ini, termasuk perubahan cuaca. Bahkan Pontianak mengalami beberapa deflasi, sehingga berpengaruh terhadap inflasi. “Beberapa di antaranya mengalami penurunan, seperti pada awal 2020, harga ayam merosot, akan tetapi pada akhir tahun justru mengalami kenaikan,” katanya.

Selain itu, kondisi pandemi Covid-19 menyebabkan pembatasan aktivitas termasuk usaha rumah makan dan warung kopi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena mulai diterapkannya adaptasi kebiasaan baru dengan protokol kesehatan.

“Setelah aktivitas ekonomi mulai bergeliat lagi, kebutuhan masyarakat meningkat kembali,” katanya.

Edi melanjutkan, kondisi cuaca seperti air pasang, hujan disertai angin juga berpengaruh terhadap harga beberapa komoditas seperti cabai. Beberapa lahan tanaman terendam dan di beberapa daerah terjadi bencana.

“Itu menyebabkan harga cabai mengalami kenaikan di pasaran,” terangnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah Kota Pontianak mencanangkan program gerakan menanam cabai dan sayuran di pekarangan masing-masing. Pihaknya juga berupaya meningkatkan kualitas distribusi dan memperhitungkan kebutuhan pangan yang diprediksi memengaruhi angka inflasi.

“Mudah-mudahan di Pontianak tingkat inflasi bisa terkendali karena pentingnya pengendalian inflasi untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Tahun 2021, pihaknya akan memetakan kembali terutama dengan memperbaiki data yang ada. Termasuk memprediksi kebutuhan masyarakat akan bahan pangan yang meningkat setiap hari besar keagamaan.(iza)

error: Content is protected !!