Cukup Pupuk Dua Sendok, lalu Biarkan Alam Yang Bekerja

HEMAT BELANJA: Asri Welas dan putranya, Ibam, di kebun rumah mereka di Jakarta Timur. Urban Farming kian mendekatkan Ibam dengan alam. ASRI WELAS FOR JAWA POS

Tren Urban Farming di Tengah Pandemi

Pandemi justru menciptakan pasar baru bagi para pegiat urban farming, di luar hotel, restoran, karaoke yang selama ini jadi penyerap utama. Kalaupun tidak untuk industri, toh hasilnya bisa untuk mengurangi biaya belanja atau minimal buat tukeran dengan tukang sayur.

GLANDY B., DEBORA S., MASRIA P., Jakarta–RESTU D., Surabaya

DALAM sebulan, Asri Welas kini cukup menganggarkan dana belanja untuk konsumsi keluarga sekitar Rp200 ribu. Separo dari biasanya. Paling untuk beli bahan makanan hewani seperti daging dan telur.

Sedangkan untuk kebutuhan beragam sayuran, dia cukup ke depan atau belakang rumah. Tinggal petik sesuai selera: mau bayam, kangkung, terong, atau tomat. ”Hemat, juga ada kepuasan batin,” kata aktris yang turut membintangi film Keluarga Cemara itu.

Asri memang sekarang sedang asyik-asyiknya berkebun di kediamannya di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Urban farming, istilah umumnya, yang juga bisa gampang ditemukan di berbagai wilayah perkotaan di penjuru tanah air belakangan.

Awalnya yang hobi bercocok tanam ibunda dan ayah mertua Asri. Namun, sejak aktivitasnya di dunia hiburan banyak yang terhenti selama pandemi Covid-19, Asri pun jadi ikut menekuni kegiatan serupa.

Asri kebetulan tengah mencari kegiatan yang cocok dilakukan bersama putranya, Ibam. ”Selama pandemi, waktu Ibam kan banyak di rumah. Nah, dia butuh aktivitas yang bikin semangat bangun pagi, ya berkebun ini,” ujar aktris 41 tahun itu saat dihubungi Jumat siang (10/7).

Perempuan yang juga aktif sebagai penyiar radio itu lantas membeli bibit di Toko Trubus di kawasan Cimanggis, Depok. Di tempat tersebut, Asri juga mendapat penjelasan mengenai cara bercocok tanam. ”Sisanya saya belajar sendiri, sama belajar dari ibu dan mertua,” kata Asri.

Asri dan Ibam pun lalu mulai bercocok tanam. Ternyata prosesnya cukup mudah. ”Kita tinggal menyiram dengan teratur, kasi pupuk dua sendok makan aja, dan sisanya biarkan alam yang bekerja,” papar aktris yang dikenal berkat peran sebagai Welas di acara komedi situasi Suami-Suami Takut Istri itu.

Pegiat urban farming sekaligus pendiri Koperasi Tani Hidroponik Sejahtera (Kotahira) Dadan Ramdani membenarkan adanya tren urban farming belakangan. Itu, misalnya, dia ketahui karena ada lonjakan permintaan nutrisi untuk tanaman hidroponik.

Dadan biasanya hanya mendapat pesanan nutrisi 40–50 paket per seller. ”Sekarang bisa sampai 200–300 per satu seller,” ujarnya.

Koperasinya saat ini menaungi 52 kebun hidroponik. Tersebar di Jabodetabek, Cianjur, dan Bandung. Mereka semua merupakan penghobi cocok tanam yang kini berani merambah industri.

Sejak didirikan pada 2018, koperasi itu membantu banyak anggota untuk mencari pasar. Market terbesar mereka saat itu adalah hotel, restoran, dan kafe (horeka). Tapi, karena pandemi, banyak horeka yang tutup sementara. Meski begitu, ternyata para pekebun hidroponik tersebut tidak kehilangan pasar.

”Di sisi lain, ada peningkatan permintaan dari end user (konsumen akhir) karena mereka tidak mau ke pasar atau supermarket selama pandemi,” jelas Dadan.

Maraknya urban farming atau home garden juga mengerek penjualan produsen benih. Direktur BISI International Tbk Agus Saputra Wijaya mengatakan, penjualan benih selama pandemi mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan kondisi normal.

Normalnya penjualan tiap bulan hanya 30 ribu pak. Tapi, pada Juni lalu melonjak menjadi 50 ribu pak. ”Sejak awal pandemi pada Maret sudah mulai terasa, naik sampai dua kali lipat,” katanya.

International Product Development Manager BISI International Tbk Kurniawan Wibowo menambahkan, tren bertanam di pekarangan rumah tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga di luar negeri. ”Kami mengekspor benih ke berbagai negara di Asia,” katanya.

Di Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur, urban farming itu bahkan sudah dimulai jauh sebelum pandemi. Di RT 07, RW 02, misalnya, tanaman seperti kangkung, bayam, cabai, pakcoy, serai, jahe, kunyit, dan umbi-umbian tumbuh subur.

”Pupuk hasil pengolahan sampah kami manfaatkan untuk mengembangkan urban farming di ruang terbuka hijau di belakang bank sampah, luasnya sekitar 200 meter persegi,’’ terang Sere Rohana Napitupulu, ketua RT 07.

Dari pengolahan urban farming itu, Sere berhasil menjadi Duta Urban Farming dari Bank Indonesia pada 2015. Waktu mengikuti lomba tersebut, ada 15 kelompok tani (poktan) yang diajukan DKI. Mereka salah satunya. Setiap kelompok tani yang mengikuti lomba itu didampingi selama setahun untuk mengembangkan tanaman.

Di rumahnya, Sere juga memanfaatkan teras rumah untuk bercocok tanam. Tanamannya tidak jauh berbeda dengan Urban Farming Ibu Bercahaya RW 02, Kelurahan Malaka Sari.

Ada pakcoy, bayam merah, tomat, jahe, dan cabai. Bahkan, bibit untuk urban farming maupun pekarangan rumah juga dia semai di rumah.

”Untuk panen di rumah kadang hasilnya banyak, ya walaupun hanya memanfaatkan pekarangan saja. Tapi, ada akuaponik dan hidroponik,” katanya.

Selain bernilai ekonomis, dia menyebutkan bahwa mengonsumsi panen sendiri lebih sehat karena jauh dari pestisida dan virus. Kalau tukang sayur lewat, kadang Sere mengajak tukeran. ”Saya kasih sayuran, dia kasih telur. Kan panennya juga cukup banyak,” terangnya.

Nilai ekonomis itu pula yang membuat Dadang berharap agar tren urban farming sekarang tidak sekadar berhenti sebagai hobi. Ada pasar yang terbuka yang bisa dimanfaatkan.

Mesti lebih banyak lagi yang terlibat dalam industri. Dan, jika sudah demikian, mereka juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan.

Lewat koperasi yang didirikannya, Dadan mengarahkan pekebun-pekebun untuk bercocok tanam komoditas yang sedang banyak diminati pasar. Misalnya, untuk sekarang, menurut Dadan, yang jadi tren adalah sayur-sayuran oriental. ”Pakcoy, bayam, kangkung, itu yang paling banyak,” ujarnya.

Asri Welas memang belum terpikir untuk mengomersialkan hasil bercocok tanam di lahan rumahnya. Tapi, dia dan keluarga sudah merasakan betul manfaatnya.

Dalam masa empat bulan pandemi ini, sudah berkali-kali mereka panen. Lebih dari itu, seperti juga Sere yang menganggap urban farming sebagai upaya untuk turut merawat bumi, Asri menyebut bercocok tanam di lahan rumah itu mendekatkan sang anak dengan alam. ”Dia jadi tahu bahwa tiap sesuatu ada prosesnya dan lebih menghargai alam,” ujarnya. (*)

loading...