Daerah Lengah Atasi Covid-19
Empat Kasus Meninggal dalam Seminggu 

RAKOR : Gubernur Kalbar Sutarmidji saat mengikuti vicon Rakor Penegakan Disiplin Prokes dan Penanganan Covid-19 yang dipimpin langsung oleh Mendagri RI di Data Analytic Room Kalbar, Senin (3/5). BIRO ADPIM FOR PONTIANAK POST

PONTIANAK – Kondisi penularan Covid-19 di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) masih tinggi. Saat ini banyak daerah yang dinilai lemah dalam penanganan. Termasuk salah satunya di Kabupaten Sekadau yang mengalami lonjakan kasus dan peningkatan angka kematian yang cukup tinggi.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji mengungkapkan, saat ini sudah banyak muncul kluster penularan Covid-19 yang membahayakan. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sekadau, ditemukan satu kluster pesta pernikahan di kawasan perkebunan sawit. Dari kluster tersebut, sampai saat ini sudah ada empat orang yang dinyatakan meninggal dunia.

Midji sapaan akrabnya mengingatkan agar pemerintah daerah (pemda) setempat berhati-hati. Ia menduga virus yang menjangkiti warga di daerah tersebut termasuk mutasi baru atau yang membahayakan. “Jadi pemda harus lakukan tracing dan testing, baik dengan antigen maupun PCR,” katanya usai mengikuti vicon Rakor Penegakan Disiplin Prokes dan Penanganan Covid-19 yang dipimpin langsung oleh Mendagri RI, Senin (3/5).

Sementara daerah lainnya, seperti di Kabupaten Kayong Utara, Midji melihat dari dulu penanganan Covid-19 di sana tidak pernah maksimal. Ia bahkan berencana meminta TNI-Polri melalui Kodim dan Polres setempat turun langsung menangani.

Ia mengatakan Kabupaten Kayong Utara sejauh ini belum memiliki alat RT-PCR dan tidak juga aktif mengirimkan sampel tes usap (swab) ke provinsi. “Tidak mungkin tidak ada kasus di sana dan bahaya itu kalau nanti kasusnya tahu-tahu sudah bergejala, rumah sakit mereka juga tidak siap, itu bahaya. Jadi tolong Pak Bupati (Kayong Utara) berhenti dulu kegiatan yang lain, tangani Covid-19,” pintanya.

Selain Sekadau dan Kayong Utara, beberapa daerah lain atau hampir seluruh Kalbar menurutnya mulai kendur dalam pencegahan penularan Covid-19. Seperti disebutkannya di Sintang, Kapuas Hulu, Sambas, Bengkayang dan Ketapang. “Ketapang sudah mulai ada penurunan, tetapi saya minta Pak Bupati tetap kirim swab sebanyak-banyaknya,” ujarnya.

Untuk membatasi tempat-tempat keramaian atau yang berpotensi terjadi kerumunan, ia berharap kepala daerah masing-masing jangan takut mengambil kebijakan. Tempat usaha seperti warung kopi dan kafe yang terbukti melanggar prokes bisa dikenakan sanksi penutupan selama 14 hari.

Tak hanya itu, pusat-pusat perbelanjaan juga harus menerapkan hal yang sama. Termasuk di mal-mal, seperti di Kota Pontianak ada Ayani Megamal dan Ramayana. “Ramayana itu dibiarkan (padat), jangan biarkan orang masuk di mal tidak pakai masker, jangan biarkan di dalam berdesakan, kalau sudah penuh suruh tunggu dulu di luar,” katanya.

Satgas Covid-19 Kalbar dipastikan akan terus menegakkan aturan secara tegas. Sebab penanganan Covid-19 saat ini sudah tidak bisa main-main. Risikonya bisa terjadi lonjakan kasus yang tinggi jika pihak terkait masih lengah. “Saya apresiasi juga Ketapang yang sekarang banyak sekali mengirim (sampel) swab ke kita (provinsi), kemudian Landak. Kalau Bengkayang ini mulai lalai lagi,” imbuhnya.

Bahkan untuk Kabupaten Sambas, Midji mengatakan sudah angkat tangan. Mungkin di Sambas lanjut dia, karena pemerintahannya sudah tidak efektif dengan akan berkahirnya masa jabatan bupati. “Tinggal satu bulan lagi, mungkin bupatinya. Tapi kan tidak boleh begitu, kasihan masyarakatnya. Jangan bupati sudah habis (jabatan) Juni, lalu sekarang ogah-ogahan. Tidak bisa begitu, sudahlah besar hatilah melaksanakan tugas pemerintahan,” pintanya.

Daerah juga diharapkan tidak pelit untuk belanja penanganan Covid-19. Seperti membeli alat tes usap (swab) antigen, membangun Lab RT-PCR dan lain sebagainya. “Ini mungkin satu dua tahun lagi (Covid-19) tidak akan berakhir, tapi kalau kita punya cara penanganan yang baik maka semuanya akan ini (baik),” tambahnya.

Pada intinya Midji meminta prokes terus dilaksanakan dengan baik di semua daerah. Satgas masing-masing kabupaten/kota harus berani memberikan sanksi bagi siapa saja yang melanggarnya. “Jadi jangan takut, betul juga kata Pak Tito (Mendagri) Pilkada masih jauh, kalau saya tidak pernah mikirkan hal-hal itu,” terangnya.

Midji meminta kebijakan yang sudah ada menjadi perhatian. Mengingat kondisi penularan Covid-19 di Kalbar dalam sebulan terakhir memang sedang menunjukkan tren kenaikan. Peningkatan kasus yang terjadi mencapai 50 persen dan kasus meninggal terjadi dua kali lipat dari sebelumnya.

Sedangkan tingkat hunian RS untuk pasien Covid-19 yang awalnya di bawah 20 persen, saat ini meningkat menjadi 47 persen. “Biasanya angka positif aktif di bawah 500 (se-Kalbar), sekarang itu sudah hampir 1.000, artinya masa orang sembuh semakin lama,” pungkasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson menambahkan, dalam seminggu terakhir sudah ada empat kasus meninggal dari kluster yang sama di Kabupaten Sekadau. Empat warga yang meninggal ini, dijelaskan dia, rata-rata berusia di atas 60 tahun. Mereka ada yang memiliki komorbid, hipertensi dan prostat.

“Satu kasus meninggal di RSUD Soedarso (suami) setelah sebelumnya sempat dirujuk dari RS Sekadau, satu minggu kemudian istrinya meninggal juga, dilakukan tracing ternyata ini adalah kluster pernikahan di basecamp  perusahaan sawit di Desa Tapang Semadak,” bebernya.

Saat ini, lanjut dia, Dinas Kesehatan Sekadau terus melakukan penelusuran kontak terhadap kluster tersebut. Diakui memang banyak yang positif Covid-19 dari kluster tersebut. Harisson melihat selama ini Satgas Covid-19 Sekadau memang lengah dalam penanganan. “Mereka paling sedikit melakukan tracing dan testing, jumlah swab yang mau diperiksa di Untan maupun Labkesda sangat sedikit,” terangnya.

Secara umum di Kabupaten Sekadau menurutnya tengah terjadi lonjakan kasus Covid-19. Karena itu, jangan sampai tidak terditeksi secara dini dan tiba-tiba banyak kasus ditemukan dalam kondisi yang sudah parah. Dinas Kesehatan Kalbar dalam hal ini telah memberikan bantuan obat-obatan yang akan dibagikan secara gratis kepada pasien Positif Covid-19 di Sekadau.

“Jangan sampai orang yang terserang ini tahu-tahu sesak napas, kalau sudah sesak napas terserang Covid-19 itu biasanya kasusnya fatal, bisa meninggal, kecuali kalau tahu dari awal bisa diberikan obat-obatan,” tutupnya.(bar)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!