Daging Ayam Catat Kenaikan Tertinggi

SUMBANG INFLASI: BPS mencatat harga ayam mengalami kenaikan tertinggi di bulan Juni 2020. Kenaikan ini menjadi salah satu penyumbang inflasi. MUJADI/PONTIANAKPOST

Kalbar Inflasi 0,4 Persen

PONTIANAK – Kalimantan Barat mengalami inflasi pada Juni 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat terjadi inflasi sebesar 0,40 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 105,61 pada Mei 2020 menjadi 106,03 pada Juni 2020. Komoditas daging ayam ras mencatatkan kenaikan harga tertinggi.

Kepala BPS Kalbar menyebut, inflasi terjadi pada tiga kota di Kalbar yaitu Pontianak sebesar 0,33 persen dengan IHK sebesar 106,04, Singkawang sebesar 0,55 persen dengan IHK sebesar 103,24, dan Sintang sebesar 0,65 persen dengan IHK sebesar 110,72. Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada tujuh kelompok pengeluaran.

“Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks dari yang tertinggi yaitu kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,52 persen,” ungkapnya, kemarin.  Dia merinci, beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Juni 2020 adalah daging ayam ras, nasi dengan lauk, telur ayam ras, ikan tongkol, tukang bukan mandor, sawi hijau, ayam goreng, ayam hidup, wortel, dan tomat.

Sedangkan beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga pada Juni 2020 adalah bawang putih, angkutan udara, jeruk, gula pasir, ikan baung, cabai rawit, daging babi, baju muslim wanita, kangkung, dan cabai merah kering. “Tingkat inflasi tahun kalender sampai dengan Juni 2020 sebesar 2,08 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun  sebesar 2,07 persen,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Muhammad Munsif menyebut, daging ayam potong mengalami tren kenaikan harga. Kenaikan tersebut di sejumlah daerah bahkan melampaui harga eceran tertinggi (HET). Kondisi ini menurutnya merupakan dampak dari minimnya produksi ayam para peternak.

“Trennya (saat ini) memang naik. Naiknya di atas harga HET, yang mana HET daging ayam Rp35 ribu per kg. Ini terjadi karena sebulan atau dua bulan yang lalu, terjadi tekanan yang luar biasa secara ekonomi kepada pasar,” ungkapnya. Tekanan yang terjadi membuat daya beli turun akibat ditutupnya sejumlah rumah makan atau restoran yang merupakan pangsa pasar daging ayam potong.

Penurunan permintaan itu menyebabkan harga ayam jatuh. Akibatnya, pemasukan peternak berkurang sehingga sebagian tidak mampu lagi berproduksi secara normal untuk pasokan daging ayam yang berikutnya.  Peternak yang masih mampu berproduksi secara normal pun memilih  untuk mengurangi produksinya karena pendapatan berkurang. Penurunan produksi itulah yang akhirnya memicu kenaikan harga. (sti)

loading...