Dampak Kata ‘Anjay’ bagi Anak

Ilustrasi

Kata ‘anjay’ sedang viral. Ada yang mengkritik penggunaan ini, padahal dianggap sebagai bahasa gaul oleh sebagian kalangan. Bahkan, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) meminta penghentian penggunaan kata ini. Lantas, bagaimana dampak penggunaan kata ‘anjay’ bagi anak dan generasi muda lainnya?

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Kata ‘anjay’ ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia. Bahkan, sempat menjadi trending topic di media sosial, baik Instagram maupunTwitter.

Fenomena kata ‘anjay’ ini bermula dari seorang publik figur yang mengunggah video tentang bahayanya mengucapkan kata ‘anjay’ di akun YouTube miliknya. Dia membahas mengenai kata ‘anjay’ dan meminta masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja untuk tak lagi menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Sebab, dia merasa miris saat mendengar anak berusia kurang lebih delapan tahun dengan fasih mengucapkan kata tersebut sembari tertawa dan diunggah di media sosial Instagram.

Fenomena kata ‘anjay’ ini pun memecah belah pendapat masyarakat. Banyak yang mendukung penghentian kata tersebut karena dinilai sebagai kata kasar dan umpatan. Tapi, ada juga yang menganggapnya sebagai kata-kata yang biasa.

Bahkan, beberapa influencer ternama turut memberikan pandangan bahwa kata ‘anjay’ ini sah-sah saja diucapkan, asalkan tahu berbicara dengan siapa, berbicara dimana dan penempatan waktunya seperti apa.

Tak lama berselang, muncul rilis dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) yang meminta kepada publik untuk menghentikan penggunaan kata ‘anjay’. Komnas PA beralasan, kata ini dapat berpotensi mengandung unsur kekerasan.

Psikolog Patricia Elfira Vinny, M.Psi mengatakan berdasarkan informasi yang didapatkannya, kata ‘anjay’ yang sedang ramai diperbincangkan merupakan kata yang diperhalus dari kata aslinya, yaitu kata ‘anjing’.

“Sehingga benar hal tersebut merupakan kata kasar atau umpatan,” katanya.

Psikolog di RSJ Daerah Sungai Bangkong Pontianak ini menuturkan saat seseorang melontarkan kata ‘anjay’ kepada lawan bicaranya, terlebih konteks kata ini dinilai kasar, dapat memengaruhi psikologis lawan bicaranya. Ini pun perundungan secara verbal dan akan berdampak pada perkembangan emosional anak atau remaja yang menjadi lawan bicaranya

Co-Founder Borneo Parenting Club ini menambahkan individu yang disebut ‘anjay’ ini akan merasa malu, sedih, takut atau bisa saja tertekan karena mendengar kata-kata umpatan demikian.

“Sedangkan dampak buruk bagi yang suka mengucapkan kata ini kemungkinan lebih ke masalah perilaku,” ucap Patricia.

Namun, tak sedikit anak-anak, remaja, dan orang dewasa menganggap bahwa kata ‘anjay’ ini adalah hal yang lumrah untuk diucapkan. Karena sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat untuk berinteraksi. Patricia menyatakan perilaku ini harus diubah dalam interaksi sehari-hari.

“Harus dibiasakan mengganti kata tersebut dengan kata lebih positif misalnya ‘wah hebat (jika memang takjub melihat sesuatu)’,” tutur Psikolog Online di Aplikasi Halodoc ini.

Psikolog di Klinik Tumbuh Kembang Pelangi Kasih Pontianak ini menambahkan orang tua bisa lebih mengawasi dan mengontrol penggunaan kata pada buah hatinya, terutama kata yang terdengar kasar. Orang tua juga bisa mengajak anak bertukar pikiran mengenai kata tersebut. Kemudian, mengajarkan anak mengubah kata kasar tersebut menjadi kata yang lebih positif.

Selain itu, orang tua juga bisa memberikan pemahaman kepada anak mengenai penggunaan kata yang baik saat ia berinteraksi dengan teman sebayanya maupun yang lebih tua. Bisa menggunakan data yang menunjukkan bahwa kata tersebut tidak layak digunakan.

“Atau, bahkan jika digunakan bisa memunculkan bahaya yaitu hukuman (sanksi) bagi yang melanggar aturan untuk tidak menggunakan kata tersebut,” saran Patricia. **

loading...