Dampak Positif PSBB: Transaksi Online Makin Melejit

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menjadikan mobilitas jauh berkurang. Untuk urusan belanja, masyarakat kini mengandalkan transaksi online. Khususnya untuk barang-barang yang berkaitan dengan kebutuhan pokok dan produk kesehatan.

Tokopedia, salah satu e-commerce, mencatat kenaikan transaksi sejak PSBB dijalankan. Produk yang paling banyak dicari antara lain berbagai jenis masker mulut, cairan antiseptik, sembako, dan kebutuhan pokok lainnya.

”Data internal Tokopedia menunjukkan kenaikan transaksi di produk kesehatan dan kebutuhan pokok lain sejak ada pandemi Covid-19 di Indonesia,” ujar Vice President Corporate Communication Tokopedia Nuraini Razak.

Tren yang sama dialami Bukalapak. Ada kenaikan transaksi sekitar 20 persen pada Maret 2020 jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kenaikan nilai transaksi tersebut didorong permintaan produk bahan pokok sebesar 3,5 kali lipat, produk makanan dan minuman mencapai 2 kali lipat, serta produk obat-obatan meningkat sekitar 30 persen.

”Seiring dengan tingginya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, Bukalapak juga mencatat kenaikan yang sangat signifikan terhadap permintaan masker, yaitu sebesar 90 persen dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Senior Corporate Communications Manager Bukalapak Gicha Graciella.

Kenaikan transaksi belanja online juga dilaporkan naik berdasar data riset yang dihimpun telunjuk.com sebagai e-commerce hub di Indonesia.

Pada periode survei yang dilakukan dalam rentang waktu 2 Maret hingga 5 April 2020, total transaksi dari tiga e-commerce besar, yakni Tokopedia, Bukalapak, dan Shopee, ditaksir mencapai Rp 12,3 miliar dengan 670.755 transaksi.

Riset tersebut memaparkan, sejak adanya kabar mengenai pasien positif korona pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, total estimasi penjualan pada minggu itu diprediksi mencapai Rp 392 juta. Sedangkan pasca pengumuman PSBB 31 Maret 2020, total estimasi penjualan pada minggu tersebut Rp 4,1 miliar. Dengan demikian, total estimasi penjualan sembako di toko online mengalami kenaikan lebih dari 400 persen.

Sementara itu, Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung menyebutkan, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk saling mengawasi pergerakan harga barang di pasar. ”Jika diperlukan, bisa dilakukan pemblokiran permanen kepada pedagang yang menggelembungkan harga secara tidak wajar,” ujarnya.

Pengusaha ritel konvensional juga merasakan perubahan pola belanja masyarakat selama PSBB. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, ada peningkatan 15 hingga 20 persen penjualan yang dipesan melalui online. ”Makin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya physical dan social distancing sehingga mereka lebih memilih belanja via HP atau aplikasi,” ujar Roy.

Kendati demikian, terang Roy, sesuai dengan imbauan pemerintah, gerai-gerai ritel masih tetap dibuka untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok masyarakat. Meskipun PSBB berlaku, toko ritel yang menjual bahan pokok dan obat-obatan menjadi salah satu yang dikecualikan untuk tetap buka. ”Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir kesulitan mendapatkan bahan pokok,” ucapnya.

Koordinator Wilayah Timur I Aprindo April Wahyu Widati menyatakan, peritel modern menyiapkan platform untuk menjual produk secara online. ”Sehingga masyarakat masih bisa mendapatkan barang-barang di ritel modern dengan mudah,” jelasnya. Menurut April, secara omzet, barang-barang tertentu ada kenaikan. Misalnya barang pokok beras, mi instan, frozen food, buah, sayur, dan rempah-rempah. ”Tapi, kalau dibandingkan tahun lalu, ada penurunan untuk sirup dan biskuit. Harusnya saling menyubstitusi, tapi keseluruhan ada penurunan total omzet,” ungkapnya.

Pandemi Covid-19 juga membuat omzet UMKM Jatim turun drastis dalam sebulan terakhir. Hampir semua sektor sepi pembeli. ”Kemudian sebentar lagi dilanjutkan dengan PSBB di Surabaya Raya. Siap tidak siap ya dijalani saja,” tutur Ketua Himpunan Pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah Indonesia (Hipmikimdo) Jatim Bambang Wahyuono kemarin (26/4). Dia mencatat, penurunan penjualan UMKM Jatim rata-rata ada di kisaran 70 persen. Khususnya di kategori produk bordir, kulit, fashion, dan makanan.

Bambang mengungkapkan, semua pengusaha kecil saat ini memutar otak agar bisa survive. Salah satu cara yang dilakukan ialah mengalihkan penjualan via online. ”Sudah lebih dari 80 persen UMKM pindah ke daring sejak terjadinya korona. Terutama bidang fashion, aksesori, dan food,” paparnya.

Terpisah, Ketua Umum Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) Stephanus Koeswandi juga mengakui bahwa pihaknya telah mengarahkan para konsumen untuk bertransaksi online. Sebab, toko-toko baja sudah tutup. Stephanus menjelaskan, komposisi order taking via daring paling besar diperoleh dari WhatsApp. Kontribusinya mencapai 60 persen. Kemudian disusul aplikasi Metalmen 20 persen, lewat telepon 10 persen, dan marketplace 5 persen. ”Semua ini kami lakukan untuk tetap menjaga pemasukan. Karena demand baja ringan sudah turun 50 persen akibat pandemi,” ucapnya.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : agf/res/rin/car/c9/oni