Dari Toilet untuk Indonesia Bermartabat

opini pontianak post

ilustrasi opini

Oleh: Aswandi

INDONESIA bermartabat adalah bangsa yang memiliki integritas (istiqamah) dan jati diri yang kokoh, yakni tidak lekang karena panas, tidak lapuk karena hujan, ia kokoh se kokoh batu karang,  memiliki akhlak dan kepribadian mulia dan terpuji, bersih diri, yakni bersih pikiran, perasaan dan tindakan, serta bersih lingkungannya.

Indonesia bermartabat tidak dilahirkan, melainkan dibentuk atau diciptakan oleh lingkungannya. Sekolah sebagai lingkungan pembelajaran (learning community) dan semua sub sistem di lingkungannya, baik berupa bangunan fisik, seperti jalan dan halaman di sekitarnya, ruang-ruang kelas dan toilet yang umumnya tersembunyi di belakang bangunan sekolah maupun personalia yang ada di dalamnya harus menjadi sumber pembelajaran.

Ketika peserta didik dan siapa saja memasuki pintu gerbang sekolah dan kampus, mereka merasakan telah berada dalam kawasan yang berbeda, yakni kawasan yang penuh sumber pembelajaran, mulai dari tanaman yang tumbuh subur di pinggir jalan masuk sekolah dan kampus, tanaman-tanaman yang tertata rapi di halaman sekolah dan kampus menjadi taman yang sangat menyenangkan, demikian pula ketika berada di dalam ruang kelas saat mengikuti proses pembelajaran sangat menyenangkan. Ketika mereka masih berada di rumah, ingin cepat-cepat datang ke sekolah dan kampusnya, ketika pembelajaran telah selesai tidak ingin segera kembali pulang, sekolah dan kampus telah menjadi rumah kedua baginya, dan toilet sekolah dan kampus menjadi bagian penting yang membuat sekolah dan kampus bagaikan taman firdaus.

Toilet tidak sebatas berfungsi sebagai tempat membuang kotoran warga sekolah semata, melainkan juga berfungsi sebagai sumber pembelajaran hidup bersih. Siswa SD atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) selama 6 (enam) tahun, ditambah 3 (tiga) tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan dilanjutkan 3 (tiga) tahun lagi di sekolah menengah, apalagi toilet di rumah mereka juga dalam kondisi yang sama, yakni kotor, jorok, air tidak tersedia dalam jumlah yang cukup dan tidak tersedia pembuangan limbah, dapat dipastikan siswa yang hidup di lingkungan yang kurang sehat dan kurang nyaman tersebut akan sangat berpengaruh terhadap karakter, perilaku atau kepribadiannya.

Bapak Bambang Widjanarko selama sewindu menjadi ajudan bapak Soekarno, presiden RI ke-1, dalam salah satu bukunya beliau menceritakan pengalamannya bahwa bapak presiden RI pertama sangat memperhatikan kebersihan “toilet” dan “celana dalam” karena dari toilet dan celana dalam tersebut menunjukkan kepribadian seseorang, yakni toilet yang kotor dan jorok manipestai dari hati dan kepribadian orang yang berada di lingkungan, juga kotor dan jorok, demikian sebaliknya. Toilet pada umumnya berada di belakang rumah dan celana dalam yang berada di bagian dalam dari pakaian yang membungkus tubuh seseorang sangat diperhatikan kebersihannya, apalagi terhadap apa saja yang terlihat dari luar, sementara banyak orang lebih memperhatikan yang terlihat sementara yang tidak terlihat tidak atau kurang diperhatikannya. Beliau megatakan, jika anda ingin mengetahui hati dan kepribadian seseorang, maka berkunjunglah ke rumahnya dan perhatikan toiletnya.

Selama 10 (sepuluh) tahun berada di Kota Malang, penulis sering berkunjung ke rumah bapak Soekarno presiden RI ke-1 di Kota Blitar, secara kebetulan saudara beliau yang mengurus dan menunggu rumah tersebut berteman dengan penulis sehingga setiap ada kegiatan di rumah presiden tersebut, penulis diundang dan menghadiri undangan tersebut, sempatlah penulis melihat langsung toilet di rumah presiden yng sangat luas dan bersih itu. Jadi apa yang diceritakan oleh bapak Bambang Widjanarko dan apa yang penulis saksikan sendiri mengenai toilet di rumah beliau adalah benar adanya.

Banyak yang tidak diceritakan dan tidak diketahui oleh masyarakat mengenai perhatian bapak Susilo Bambang Yudoyono (SBY) presiden RI ke-6 yang sangat tinggi terhadap toilet sekolah, terutama toilet Sekolah Dasar/MI. Di sela-sela kunjungannya ke beberapa daerah, tanpa jadwal yang telah disusun, beliau meminta untuk diantar ke Sekolah Dasar hanya untuk melihat kondisi toilet di sekolah dasar tersebut. Beliau menyatakan hal yang sama bahwa selama 6 (enam) tahun berada di sekolah dasar dimana toilet sekolah dasar tersebut kotor dan jorok, maka akan sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak.

Selama mengikuti pendidikan dan latihan perpolisian masyarakat (community police) di Jepang, penulis menyaksikan sendiri banyak toilet yang berada di sekolah dan di tempat-tempat umum. Menurut pengamatan penulis, toilet di negara matahari terbit tersebut; ukuran besar, bersih, tersedia air yang cukup, dan ada petugas yang selalu membersihkan toilet tersebut. Karena luas dan bersihnya ruang toilet tersebut, di depan toilet masih tersisa ruang yang digunakan banyak orang untuk beristirahat, dan sesekali kami gunakan ruang tersebut untuk melakanakan shalat berjemaah.

Apa yang menjadi kekhawatiran bapak presiden, ternyata terjadi di toilet-toilet sekolah, bahkan terjadi pada toilet-toilet di rumah-rumah ibadah.

Faktanya beberapa waktu lalu, terekspost di media massa siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Pontianak kesulitan buang air karena keterbatasan toilet di sekolahnya. Kondisi tersebut merupakan fenomena gunung es karena dapat dipastikan masih banyak toilet sekolah yang kurang kondusif atau masih banyak toilet yang kotor, berbau tidak sedap dan jumlah air yang terbatas, toilet yang tidak layak untuk digunakan sebagai tempat pembuangan kotoran maupun berfungsi sebagai sumber pembelajaran.

Alhamdulillah, kondisi toilet yang tidak nyaman dan tidak menyenangkan tersebut mendapat respons posistif dari bapak Wali Kota Pontianak. Beliau meninjau langsung toilet dan sekolah yang rusak dan menegaskan bahwa segera merenovsi toilet; semaksimal mungkin melakukan renovasi toilet, toilet yang rusak diganti, begitu juga kramik, kran air termasuk pengolahan limbahnya, demikian diberitakan Pontianak Post, 30 Agustus 2019.

Penulis sangat setuju, apa bila pemerintah tidak sebatas memperbaiki jumlah toilet yang rusak dan tidak layak serta membangun wastafel melainkan sebaiknya menambah jumlah toilet sehingga toilet tersebut dirasakan cukup bagi siswa, Jika perlu toilet tidak dibangun di satu sisi bangunan sekolah saja, melainkan di banyak sisi, yakni di belakang, disamping kiri dan kanan bangunan sekolah selama posisi toilet tersebut memungkinkan untuk dibangun toilet di sana..

Penulis berasumsi, apabila masyarakat sudah memiliki kesadaran koleksif yang tinggi mengenai keberadaan toilet yang jumlahnya cukup, bangunannya tidak sempit, bersih, tidak berbau, tersedia air yang cukup serta tersedia pembuangan limbah di lingkungan masing-masing. mulai dari toilet di rumah-rumah,  di sekolah dan di kampus, serta di tempat-tempat umum lainnya, maka keberadaan toilet tidak sebatas tempat pembuangan kotoran yang menyenangkan, melainkan berfungsi sebagai sumber pembelajaran dalam mewujudkan masyarakat, bangsa dan negara yang bermartabat.

(**) Penulis: Dosen FKIP UNTAN

Read Previous

91 Peserta Meriahkan Pawai Taaruf

Read Next

Ketua dan Pengurus Yayasan TDB Dilantik

Tinggalkan Balasan

Most Popular