Daya Beli Kalbar Lebih Baik dari Nasional

EKONOMI: Kepala KPw Bank Indonesia Kalbar memaparkan perkembangan ekonomi provinsi ini terkini, kemarin (21/10). ARISTONO/PONTIANAK POST

PONTIANAK – Krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 telah menghantam semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Kendati demikian, pada bulan-bulan terakhir ini, Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang relatif terdampak lebih kecil dibanding rata-rata nasional. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalbar Agus Chusaini mengatakan hal tersebut tergambar dari sejumlah indicator, seperti pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Begitu juga angka inflasi Kalbar yang lebih besar dari nasional.

“Pada September lalu Kalbar mengalami inflasi sebesar 0,02% (mtm) lebih tinggi dari pada nasional yang mengalami deflasi sebesar 0,05%(mtm). Sedangkan Secara tahunan,Kalbar mengalami inflasi sebesar 1,74% (yoy) lebih tinggi dari pada inflasi nasional sebesar 1,42% (yoy). Artinya daya beli masyarakat Kalbar lebih baik dari rata-rata nasional. Ini menandakan danya gairah konsumsi. Namun angka ini tergolong aman juga karena masih di bawah proyeksi kita yaitu sekitar tiga persen,” papar dia, saat konferensi pers terbatas, kemarin (21/10).

Begitu juga pada sisi pertumbuhan ekonomi, dimana ekonomi nasional pada triwulan II tercatat minus 5,32 persen. Sedangkan Kalbar hanya minus 3,40 persen. Adapun pada triwulan III ini diperkirakan akan jauh lebih baik. “Perkembangan menunjukan konsumsi pemerintah dan masyarakat meningkat. Didorong stimulus fiskal pemerintah kepada masyarakat terdampak dan UMKM. Ini sangat penting untuk mengangga pemulihan ekonomi di tengah konsumsi ruah tangga yang terbatas. sedangkan penjualan eceran dan online, job vacancy serta pendapatan masyarakat ada peningkatan juga,” ungkap dia.

Namun, peran komponen ekspor juga berperan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Kalbar. Agus menyebut ekspor komoditas andalan Kalbar seperti CPO dan barang tambang meningkat pada bulan-bulan terakhir ini. Hal ini disebabkan permintaan dari Tiongkok dan sejumlah negara lain. Hal ini turut memicu naiknya harga komoditas tersebut di tingkat lokal. Terutama tandan buah segar kelapa sawit.

Terpisah, ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman juga menyebut, pertumbuhan ekonomi provinsi ini akan lebih baik dari nasional pada tahun ini. Pasalnya dampak ekonomi  Covid-19 lebih terasa pada daerah perkotaan dan pusat-pusat industri dan perdagangan. Terutama di Pulau Jawa. Apalagi Kalbar juga mengalami peningkatan ekspor bauksit dan CPO, sehingga membuat neraca perdagangan surplus.

“Hampir semua indikator ekonomi dan sektor usaha minus pertumbuhannya. Tetapi ekspor kita malah meningkat, terutama komoditas perkebunan dan pertambangan. Ini yang cukup mampu menopang pertumbuhan ekonomi kita,” sebutnya.

Namun, untuk soal kapan berakhirnya krisis ekonomi, Eddy menyebut, hal ini tergantung pada kapan berakhirnya pandemi. Artinya, keberhasilan vaksin akan menjadi penentu. “Ekonomi dunia tidak berjalan karena jauh menurunnya aktivitas akibat pembatasan-pembatasan sosial dan ekonomi. Untuk menghambat penularan Covid-19. Kalau pandemi tidak berakhir segera, maka mungkin tahun depan kita bisa masuk ke era depresi. Dimana masalah-masalah sosial akan mulai muncul,” jelasnya.

Sementara itu, dunisa usaha di Kalbar sendiri berharap ada langkah jitu pemerintah pusat dan daerah dalam menangani resesi. Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Kalbar, Rudyzar Zaidar menyebut saat sektor yang masih bisa tumbuh adalah kehutanan, pertanian, perkebunan dan pertambangan. Hanya saja, kata dia, banyak dari komoditas yang belum maksimal, lantaran terbentur sejumlah aturan. Dia meminta pemerintah melonggarkan sejumlah aturan dan perizinan demi mendongkrak ekonomi Kalbar pada krisis Covid-19 saat ini. (ars)

 

error: Content is protected !!