Daya Beli Mulai Membaik 

HARGA IKAN: Warga berbelanja ikan di Pasar Dahlia. Mengingat harga ayam sedang tinggi, ikan menjadi salah satu alternatif bagi warga. HARYADI/PONTIANAKPOST

PONTIANAK – Daya beli konsumen di Indonesia, termasuk Kalimantan Barat sempat anjlok pada bulan-bulan awal pandemi Covid-19. Kendati demikian, memasuki era new normal pada Juni lalu optimisme konsumen dalam negeri kian membaik, walaupun belum berada pada level normal.

Hal ini tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Juni 2020. Survei itu mengindikasikan keyakinan konsumen lebih tinggi dari bulan Mei dan April, Meski belum mampu menyentuh angka100 poin.

“Hal tersebut tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 83,8 pada Juni 2020, meningkat dari 77,8 pada Mei 2020. Keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori responden, baik menurut tingkat pengeluaran maupun kelompok usia. Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di 14 kota survei, dengan perbaikan tertinggi di kota Mataram, diikuti Jakarta dan Samarinda,” ungkap Direktur Eksekutif  Dekom BI Onny Widjanarko, kemarin (6/7).

Menurut dia, membaiknya optimisme konsumen terutama disebabkan oleh menguatnya ekspektasi terhadap perkiraan kondisi ekonomi pada enam bulan mendatang, seiring dengan prakiraan meredanya pandemi virus Corona di Indonesia. Penguatan di sisi ekspektasi terutama ditopang oleh prakiraan ekspansi kegiatan usaha yang meningkat pada enam bulan mendatang.

Di sisi lain, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau masih rendah dan kembali melemah, terutama disebabkan oleh penurunan optimisme konsumen terhadap pembelian barang tahan lama.

Pandemi corona telah membuat banyak usaha melambat pada bulan-bulan lalu, tidak terkecuali di Kalbar. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar Agus Chusaini menyebut daya beli masyarakat Kalbar pada masa-masa pandemi lalu anjlok. Sejumlah sektor tak beraktivitas sama sekali. Sektor lain lesu dan kurang darah.

Pendapatan masyarakat pun berkurang drastis, yang bertimbal balik dengan menurunnya konsumsi. Bank Indonesia memperkirakan penurunan konsumsi di provinsi ini hilang setengahnya. Padahal sektor konsumsi ada faktor penunjang utama ekonomi Kalbar.

“Konsumsi kita turun sampai 50 persen pada masa pandemi pada pandemi ini. Karena memang pengeluaran masyarakat kurang sekali. Selain memang pendapatan yang menurun. Juga karena tutupnya sejumlah usaha sektor huburan wisata dan hiburan, ketakutan untuk berbelanja, serta kebijakan physical distancing,” ujar dia.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Barat Santyoso Tio menyebut sejak  New Normal dijalankan, maka roda ekonomi mulai sedikir bergerak. Hanya saja, protokol kesehatan wajib dijalankan semua pihak agar tidak terjadi ledakan Covid-19 di Kalbar. “Anggota Kadin dan asosiasi di bawahnya berkomitmen menerapkan protokol ini. Kita ikuti anjuran pemerintah,” pungkas dia. (ars)

loading...