Demo Kedelai, Jadilah Tempe

opini pontianak post

Oleh: Ferry Yasin

TAHUN ini diawali dengan demo pengusaha tempe (dan tahu). Para pengusaha tempe di wilayah Jabodetabek melakukan mogok produksi semenjak 31 Desember hingga 3 Januari 2021. Mereka mogok kerja dengan harapan pemerintah mendengar keluhan mereka sehingga harga kedelai bisa normal kembali.

Aksi demo berupa mogok kerja ini sempat membuat pasokan tempe langka di pasaran. Kelangkaan kedelai disinyalir diakibatkan permintaan yang meningkat dari China kepada Amerika sebagai negara pemasok. Apabila tak ada solusi, pilihan kenaikan harga tempe tak terelakkan.

Terdapat 81 ribu usaha pembuatan tempe di negeri ini, yang memproduksi 2,4 juta ton tempe per tahun. Dengan demikian, industri tempe ini meraup  sekitar Rp 37 triliun nilai tambah. Data yang dimiliki  Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) dari 2,2 juta ton per tahun kebutuhan kedelai dalam negeri 600 ribu ton yang mampu dipenuhi oleh petani kedelai lokal.

Sementara 1,6 juta ton kedelai kekurangannya, diimpor dari Amerika. Dari 1,6 juta ton kedelai impor itu, 80 persennya untuk bahan baku pembuatan tempe dan tahu, sedang sisanya untuk penganan lain seperti susu kacang kedelai, kecap dan lain sebagainya (Badan Standardisasi Nasional 2012).

Peristiwa di atas menyadarkan kita, bahwa tempe tidak sekadar tempe. Sepotong tempe goreng yang tergolek di piring di meja makan, ternyata membawa 1001 macam cerita. Yang banyak orang tidak mengetahuinya. Yang utama adalah, tempe itu makanan asli Indonesia. Atau tepatnya dari daerah Jawa. Lebih mengerucut lagi dari wilayah kisaran Surakarta dan Yogyakarta. Menurut  peneliti Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Murdijati (Kompas.com) tempe itu penganan asli Indonesia yang  terbukti disebutkan dalam Serat Centhini, sebuah naskah kuno Jawa tahun 1814-1832. Dari 12 jilid buku tersebut, lima jilid di antaranya menyebut kata tempe.

Sedangkan kedelai, bahan baku pembuatan tempe telah sering disebut pada catatan di abad sekira 12. Kemungkinan kedelai berasal dari daerah China, tetapi tempe itu sendiri bukan makanan yang datang dari negeri tersebut. Tempe asli buatan anak negeri sejak masa lampau. Makanan berbahan dasar kedelai seperti tahu, kecap, taoco adalah  hasil dari persentuhan budaya China, namun tempe adalah karya brilian anak bangsa yang tahun diketemukannya masih samar.

Jadi, dulu tempe merupakan makanan masyarakat kebanyakan atau rakyat jelata. Hal ini diperjelas oleh pernyataan sejarawan Ong Hok Ham. Pada sekira abad ke-16 banyak hutan di tanah Jawa ditebang. Proses tanam paksa yang dilakukan oleh penjajah mulai berlangsung. Hutan adalah sumber daya alam penunjang makanan protein hewani dan nabati. Karena hutan sudah mulai berkurang, maka secara kebetulan diketemukan tempe sebagai menu makanan para wong cilik untuk bisa survive dan tidak kelaparan. Berawal dari makanan rakyat biasa,  kini tempe sudah naik peringkat. Apalagi dengan diketahuinya manfaat yang bisa diperoleh darinya.

Makanan hasil fermentasi biji kedelai ini ternyata memiliki segudang manfaat. Ia kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai kandungan dalam tempe memiliki nilai obat seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi. Serta antioksidan untuk mencegah penyakit degeneratif. Walau tempe bukan daging, namun kandungan vitamin B 12-nya tinggi. Vitamin B 12 hanya bisa diperoleh dari daging, di luar itu tidak bisa diperoleh kecuali didapat dari tempe. Oleh karena itu kaum vegetarian yang tidak makan daging, sangat mengandalkan makanan tempe ini sebagai penggantinya.

Tidak heran, sudah mulai pada pertengahan abad yang lalu tempe merambah dunia, mulai dari Jepang, Belanda , negara Eropa lainnya dan juga Amerika. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi rakyat Indonesia. Selain karena makanan ini populer tidak hanya di tempat asal, tetapi juga sudah merambah di seantero negeri. Tempe juga menjadi kesukaan orang-orang berada. Malahan penelitian atas tempe terus dilakukan oleh beberapa badan riset di luar negeri.

Siapa tidak kenal kripik tempe. Tempe yang diiris tipis dan dibalut tepung berbumbu dan digoreng kering ini menjadi kesukaan banyak orang. Enak, renyah serta kriuk. Bahkan menjadi buah tangan di berbagai tempat. Belum lagi kalau kita bicara semua menu makanan berbahan tempe. Ada tempe mendoan setengah matang khas Banyumas. Ada orek tempe, kering tempe, sayur lodeh tempe, tempe bacem, botok tempe, tempe penyet  dan terakhir inovasi makanan burger dengan tempe di tengahnya.

Berbagai jajanan gorengan yang dijual orang, tempe adalah pilihan favorit. Para karyawan di gedung pencakar langit di ibu kota, ketika jam istirahat menikmati gorengan tempe. Luar biasa, tempe tidak hanya terhampar di etalase warung tegal (warteg), namun juga naik statusnya sampai ke gedung tertinggi di Jakarta.

Dilihat dari satu sisi, ada sebuah kelegaan bahwa tempe telah menjadi makanan asli dan menjadi tuan di negeri sendiri. Di pihak lain, adanya demo atau demonstrasi atau unjuk gigi yang dilakukan para pengusaha tempe berupa mogok kerja menuntut kestabilan harga adalah sebuah keprihatinan tersendiri. Terlepas ada permainan harga dari praktek oligopoli atau tidak, sudah saatnya pengembangan budi daya kedelai oleh para petani lokal ditingkatkan.

Luasnya lahan dan iklim yang kondusif adalah prasyarat yang telah terpenuhi. Tinggal political will pihak terkait untuk menangani hal ini dengan serius. Akan lebih afdol kalau kedelainya sekaligus juga asli Indonesia. Agar bisa memenuhi pasokan bahan baku tempe dalam negeri yang minus.

Yang berikut adanya demo atau demonstrasi atau unjuk kerja proses pembuatan dari mulai menampi kedelai dalam tampah, proses fermentasi sampai dengan jadi serta kemasannya harus mulai dipikirkan mengikuti standar internasional. Apabila ini terjadi industri tempe menjadi berskala dunia. Tempe menjadi makanan yang tidak hanya bergizi,  tetapi juga higienis, serta bermartabat. Kalau kini orang mengasosiasikan Italia dengan menu makanan seperti spagheti dan pizza, suatu saat nanti akan terjadi hal yang sama dengan Indonesia dan tempenya!**

*Penulis, Pengajar di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kabupaten Kubu Raya.

error: Content is protected !!