Denda Rp5 Juta bagi Pembuang Sampah Sembarangan

BERSERAKAN : Sampah berserakan di Jalan Lingkar Kota Ketapang. Meski telah dipasang plang larangan membuang sampah, kesadaran masyarakat akan hal tersebut masih rendah. ISTIMEWA 

KETAPANG – Mengatasi masalah sampah di Kota Ketapang, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim-LH) Ketapang akan menggunakan bak sampah kontainer. Selama ini bak sampah yang digunakan terbuat dari semen dan kayu. Hal ini membuat sampah berserakan di luar bak yang telah disediakan.
Selain akan melakukan penggantian bak sampah, pihaknya juga akan mulai melakukan sosialisasi tentang Perda Nomor 1 tahun 2018 tentang Tramas Tibum yang salah satu pasalnya adalah waktu pembuangan sampah. Masyarakat yang membuang sampah di luar pukul 17.00 WIB hingga 05.00 WIB, akan dikenakan pidana paling lama enam bulan penjara atau denda Rp5 juta.
Kepala Dinas Perkim-LH Ketapang, Dennery, mengatakan saat ini pihaknya terus melakukan berbagai upaya dalam hal menanggulangi persoalan sampah, khususnya di Kota Ketapang. Termasuk dengan mengurangi tempat-tempat sampah yang terbuat dari kayu dan beton. Tempat sampah tersebut dinilai membuat pemandangan terlihat kumuh.
“Semakin banyak bak sampah kayu dan beton semakin tampak kumuh lingkungan. Makanya pelan-pelan akan kita ubah bak sampah yang terbuat dari kayu dan beton menjadi tempat sampah kontainer. Saat ini proses peralihan ini sedang berjalan,” kata Dennery, kemarin (13/2).
Dia menjelaskan, ada sekitar 165 bak sampah kayu dan beton yang tersebar di wilayah Kota Ketapang. Namun setelah dilakukan standarisasi tempat sampah menjadi kontainer, saat ini bak sampah kayu dan beton tinggal sekitar 85 buah. “Pelan-pelan kita ganti semua dengan bak sampah kontainer. Tujuannya agar lingkungan tidak tampak kumuh dengan banyaknya tempat sampah,” jelasnya.
Dennery juga mengungkapkan, tempat sampah kontainer memiliki kapasitas tampung lebih besar dibandingkan dengan bak sampah kayu atau beton. Dengan demikian, satu bak sampah kontainer bisa menggantikan beberapa bak sampah kayu atau beton. “Sudah ada 14 bak sampah kontainer yang sudah beroperasi. Tahun ini kita juga ada tambahan sembilan unit bak sampah kontainer dan untuk idealnya masih diperlukan sekitar 20 unit lagi,” ungkapnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Perkim LH Ketapang, Sri Windaryati, mengatakan dalam sehari pihaknya mengangkut 142 kubik sampah di wilayah Kota Ketapang untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah. Untuk mengangkut sampah tersebut, pihaknya menerjunkan 61 petugas kebersihan. “48 kernet dan 13 supir truk pengangkut sampah,” katanya.
Untuk menanggulangi persoalan sampah, pihaknya bekerjasama dengan Bank Sampah yang ada di Ketapang untuk pengangkutan sampah-sampah perumahan dan pemisahan sampah-sampah khususnya sampah organik dan anorganik. Tahun ini jangkauan luasan pelayanan angkutan sampah juga bertambah hingga di Sukabangun dan Kalinilam.
Menurutnya, masih banyaknya sampah di tempat-tempat sampah ketika sudah diangkut, lantaran masih banyak masyarakat yang membuang sampah tidak pada waktu yang telah ditentukan. “Biasanya sampah terlihat masih banyak seolah tidak terangkut, padahal petugas setiap pagi sudah mengangkut sampah tersebut. Ini soal kesadaran masyarakat dalam membuang sampah,” paparnya.
Sri menambahkan, pihaknya telah mengimbau kepada masyarakat agar tidak membuang sampah di luar waktu yang telah ditetapkan. “Padahal upaya kita agar masyarakat sadar membuang sampah pada tempat dan waktu yang ditentukan telah dilakukan dengan pemasangan baliho. Waktu pembuangan sampah dari pukul 17.00 sampai 05.00 WIB. Tapi masih banyak yang buang sampah di siang hari,” ujarnya.
Dia berharap dengan akan ditetapkannya Peraturan Bupati (Perbup) yang saat ini sedang dalam proses di Bagian Hukum Pemkab Ketapang, bisa menjadi dasar hukum agar masyarakat sadar akan pentingnya membuang sampah pada tempat dan waktu yang telah ditentukan. “Kalau Perbup sudah terbit maka nanti sanksinya mengacu ke Perda Nomor 1 tahun 2015 tentang pengelolaan sampah dan Perda Nomor 1 tahun 2018 tentang ketertiban umum yang sanksinya mulai dari pidana selama 6 bulan hingga sanksi denda Rp5 juta,” pungkasnya.
Sementara itu, Camat Delta Pawan, Pitriadi, mengimbau masyarakat Ketapang, khususnya warga Kota Ketapang agar menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tak kalah pentingnya juga adalah membuang sampah pada tempat dan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. “Kita mengimbau agar masyarakat mematuhi perda nomor 1 tahun 2018 tentang Tramas Tibum yang salah satu pasalnya adalah waktu pembuangan sampah,” imbaunya.
Selain itu, jelasnya, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada TPS juga sangat penting dalam menjaga kebersihan dan estetika lingkungan. “Kecamatan Delta Pawan telah mengadakan penyuluhan masalah sampah ini dan membuat plang himbauan dan larangan. Namun hasilnya belum signifikan.
Kita mengharapkan Satpol PP Ketapang dapat tegas menegakan perda,” harapnya. (afi)

Read Previous

Tujuh Pejabat Eselon II Berganti

Read Next

Akan Digelar Festival Karimata 2020

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *