Dengan Advanced Biodiesel, Klaim Dunia Terhadap Sawit Indonesia Selesai ?

“Dengan menggunakan bahan baku minyak sawit off-spec serta teknologi proses yang adaptif kompetitif akan dihasilkan Advanced Biodiesel, yang selanjutnya akan mendapatkan reward dari masyarakat Eropa dan Amerika berupa bebas dari Bea Masuk Anti Subsidi (0%), insentif harga dan green energy”.

Itu harapan, tetapi bisa jadi masyarakat Eropa dan Amerika makin penasaran dengan program Biodiesel B30 hingga B100 saat ini hingga ke depan yang menjadi program prioritas pemerintah. Sudahkah Biodiesel Indonesia in line dengan program dunia?

Masyarakat dunia masih kesal. Ini tak lain dikarenakan penggunaan minyak sawit (food use) sebagai bahan baku untuk biodiesel di tanah air. Juga pemberian subsidi terhadap produk ini. Masyarakat Eropa sejak Agustus 2019 telah mengenakan Bea Masuk Anti Subsidi 8-18 % untuk Biodiesel Indonesia yang dieksport ke Eropa (CNBC Indonesia).

Program masyarakat Eropa dan Amerika adalah mengurangi penggunaan minyak makan sebagai bahan baku untuk biodiesel, sebaliknya mendorong penggunaan minyak non pangan (non-food use) pengganti sawit dan sebagainya sebagai bahan untuk Advanced Biodiesel.

Saking getolnya akan Advanced Biodiesel, disediakanlah stimulant yang meliputi 0% bea tarif masuk biodiesel ke Eropa dan Amerika, diberi insentif, ditambah quota setiap tahun, diklaim sebagai green energy dan sebagainya.

Hilang nalarnya terhadap Biodiesel Indonesia, sehingga gunakan jurus mabuk (drunken master), tak mendengar cakap, embargo serampangan jadi jurus pamungkas.

Kita diam, tentu tidak. Kitapun paham bahwa ketika terjadi konflik antara sawit untuk pangan (food security) dengan sawit untuk bahan bakar (energy security), maka kitapun sederap selangkah dengan pikiran masyarakat dunia, yaitu food lebih penting. Tetapi mereka harus paham juga ketika surplus sawit dialami oleh kita, so what?

Kampanye Hitam Untuk Sawit

Tidaklah mengatakan telah sempurna dalam mengelola industri sawit di tanah air, tetapi tuduhan yang berlebihan dan cenderung subjektif terhadap komiditas sawit sangatlah tidak rasional untuk dimaklumi.

Sekiranya dapat mengelola industri sawit dengan prinsip nir limbah (zero waste) dengan meningkatkan nilai tambah (added value) untuk semua produk samping hingga limbah dari hasil aktivitas industri sawit. Kemudian, selalu menjaga keseimbangan alam, dan sadar atas bagian orang lain dalam aktivitas industri (corporate social responsibility), maka tak perlu risau dengan celoteh dari masyarakat dunia terhadap kegiatan pembangunan industri sawit di tanah air.

Kebanyakan Industri sawit di tanah air baru sebatas mengekstrak minyak yang terkandung dalam serat bagian luar dari inti buah sawit yang memberikan minyak sawit mentah (CPO). Selanjutnya, diperdagangkan antar pulau atau dieksport. Pengolahan lebih lanjut untuk menghasilkan produk turunan yang bernilai tambah yang tinggi masih terbatas dalam pengembangannya.

Terdapat 93 Pabrik Kelapa Sawit dengan kapasitas total produksi mencapai 3.675 ton/jam dengan target realisasi (1,439 juta Ha) melebihi dari rencana pembangunan perkebunan sawit (1,05 juta Ha) pada tahun 2016 di wilayah Kalimantan Barat, sementara rencana pembangunan kebun sawit pada tahun 2025 seluas 1,5 juta hektar (GAPKI Kalbar, 2020). Hal ini menjadi kekuatan yang luar biasa untuk mem-back up program Pemerintah Indonesia, Sawit untuk Biodiesel. Bahkan dapat dibayangkan cadangan CPO Off-spec yang dapat dihasilkan jika dihitung hanya 1% saja dari kuantitas CPO normal yang diproduksi per jam.

Problematika yang selalu membuntuti dalam industri sawit adalah bagaimana memanfaatkan dan mengolah lingkungan hidup dengan lestari, seolah-olah tak terjadi apa apa dengan lingkungan atau dengan kata lain keadaan semula dan sesudah tak ada perubahan (Etat de lieu). Keseimbangan ekosistem akibat aktivitas industri yang dilakukan tak jejas dan semula jadi.

Limbah Sawit Senjata Kita

Setiap kali proses produksi minyak sawit dilakukan, akan selalu dihasilkan limbah berupa air yang mengandung protein, serat, lumpur dan lolosnya minyak sawit mentah (CPO). Proses alamiah fermentasi aerobik dan semi aerobik dapat menghasilkan senyawa yang lebih sederhana semisal gas methane (CH4), gas karbon dioksida (CO2), asam amino dan sebagainya. Limbah ini tentu saja dapat kita kelola dengan optimal dan pada gilirannya akan dapat digunakan sebagai “senjata” dalam melawan kebijakan yang tidak adil dari masyarakat dunia. Minyak sawit berbahaya untuk jantung dan klaim seolah olah menjadi “produk haram” dengan mencantumkan kalimat  “tidak mengandung minyak sawit” pada produk coklat dari sebuah merek terkenal yang beredar di negara negara masyarakat Eropa seperti Perancis dapat terbantahkan dan digugat balik.

Win-win Solution Biodiesel

Pengembangan Advanced Biodiesel memberikan banyak keunggulan, ibarat sekali mendayung banyak masalah terlewati. Advanced Biodiesel merupakan biodiesel yang diproduksi berbahan baku dari minyak nabati non pangan atau limbah sawit cair. Bahan baku ini dapat berupa CPO reject (ALB tinggi, lebih dari 10%) alias minyak asam, minyak kolam, atau kemandah, minyak kemiri sunan, minyak biji karet, minyak Algae dan sejenisnya. Ketika diproduksi menjadi biodiesel (FAME) dari bahan baku ini maka produk utama tergolong dalam Advanced Biodiesel.

Produksi Advanced Biodiesel tidak bisa hanya mengandalkan proses sintesis yang sederhana. Hal ini dikarena hadirnya minyak (triglyceride) dan asam lemak (fatty acid) dalam satu kesatuan campuran yang homogen. Ketika menggunakan katalisator basa, maka hanya proses transesterifikasi yang berlangsung dengan menyisakan asam lemak. Pada tahap ini, solusi yang diambil untuk proses selanjutnya adalah memisahkan asam lemak tersebut dari media reaksi (FAME,dll). Akibatnya proses menjadi tidak efisien karena terjadi multi step reaction dengan konsekuensi waktu proses yang lama, penggunaan bahan kimia yang boros dan tenaga manusia (upah) yang berlebihan. Namun, ketika memanfaatkan proses yang handal, menggunakan katalisator bifungsional heterogen, maka kedua jenis reaksi (transesterifikasi dan esterifikasi) akan berlangsung secara simultan untuk membentuk biodiesel (FAME). Proses demikian lebih hemat dan murah, sudah dikuasai oleh anak negeri meski masih diproteksi alias dipatenkan.

Bauran bahan baku CPO normal dengan CPO reject (limbah) dapat menjadi salah satu kiat untuk mengurangi klaim negatif dari masyarakat dunia. Besaran presentase bagian bahan baku CPO reject dalam bauran tersebut berbanding langsung dengan besaran insentif dan tarif import yang akan diperoleh. Semakin besar porsi CPO reject semakin besar kuota eksport. Biodiesel dari campuran CPO normal dengan CPO reject dapat menjadi Win-win Solution untuk Biodiesel Indonesia di masyarakat dunia.

Reward Dari Pemerintah

Pemerintah Indonesia mulai dari sekarang harus tidak mengabaikan trend dunia atas Advance Biodiesel dalam rangka mengurangi klaim embargo atas CPO dan produk turunannya. Kepedulian atas dampak terhadap pemanasan global yang bersumber dari limbah aktivitas industri sawit menjadi masalah yang tak bisa dipandang dengan sebelah mata. Kita adalah bagian dari masyarakat dunia, sebaliknya juga mereka adalah bagian dari kita.

Menstimulasi anak bangsa untuk menghadirkan suatu proses yang kompetitif yang mampu memproduksi biodiesel dengan cara dan jalan yang tidak umum dengan menyediakan reward, akan membawa negeri ini “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Selain itu juga, memproklamirkan kepada mereka bahwa kami telah melakukan dan ikut serta dalam mengurangi dampak pemanasan global dengan memanfaatkan CPO reject (limbah industri sawit) serta mengurangi penggunaan bahan pangan sebagai bahan baku produksi energi baru dan terbarukan.

Ketika pada akhirnya aktivitas industri sawit dapat mencegah terbentuknya penyebab global warming seperti peningkatan nilai tambah limbah sawit (CPO reject) menjadi produk yang bernilai tambah, yakni Advanced Biodiesel, maka kita dapat mendeklarasikan diri telah menjalani industri sawit bersih.

Sawit Jadi “Kartu Troop” Indonesia

Mestinya sebagai produsen utama dunia untuk sawit, ditambah lagi keunggulan komparatif dan kompetitif dari komoditas ini, maka sepantasnya sawit menjadi “kartu troop” bangsa ini. Dari sawit, mau pergi kemana saja bisa, dapat dihasilkan produk turun yang variatif. Secara kimia, bila kita bandingkan antara minyak bumi dengan minyak sawit bedanya 11/12, keduanya sama-sama tersusun oleh unsur karbon (C) dan hidrogen (H), dan unsur oksigen (O) dimiliki oleh minyak sawit, tetapi tak mengganggu dalam peruntukannya. Produk turunan apa saja yang bisa dihasilkan dari minyak bumi, sama halnya dengan minyak sawit. Lupakan minyak bumi, ingat selalu minyak sawit.

Prof. Dr. H. Thamrin Usman, DEA

Guru Besar Kimia Agroindustri UNTAN

Rektor UNTAN Periode 2011 – 2019

 

loading...