Deteksi 10 Kasus Varian Baru B177
Tidak Mudik Cara Terbaik Lindungi Keluarga

Siti Nadia Tarmizi

JAKARTA – Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Siti Nadia Tarmizi mengatakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mendeteksi adanya 10 kasus varian baru B 177 di Indonesia. Dia meminta temuan tersebut harus menjadi perhatian bersama karena varian baru tersebut ada yang sudah merupakan transmisi lokal.

Transmisi lokal varian B177 sudah terjadi di Kabupaten Karawang, di Provinsi Sumatera Selatan, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu antisipasi utama untuk mencegah terjadinya lonjakan kasus dan termasuk juga mengatasi penularan varian baru, maka perlu ada pembatasan mobilitas.

“Jadi kembali lagi pembatasan menjadi kunci utama kita untuk mengatasi varian dan penyebaran dari varian baru ini. Kita melihat bahwa mobilitas yang tinggi akan menyebabkan lonjakan kasus sementara mobilitas yang rendah itu akan menekan laju penularan,” ujar Nadia, Sabtu (1/4).

Peningkatan kasus yang terjadi di berbagai negara menjadi kewaspadaan bersama. Kasus di India yang saat ini sudah hampir mencapai angka 18 juta kasus dengan 200 ribu sampai 300 ribu konfirmasi kasus positif setiap hari, serta kematian yang terjadi setiap 4 menit, bisa menjadi pembelajaran untuk Indonesia jangan sampai mengalami hal yang sama.

Ada beberapa negara seperti Turki sudah memasuki kondisi lockdown akibat adanya peningkatan kasus, juga Jepang sudah mencapai 1000 kasus infeksi barunya, kemudian Singapura ada 16 kasus komunitas di Singapura.

“Perlu kembali kami tekankan bahwa negara-negara ini terutama negara-negara yang bertetanggaan dengan kita berada di Asia sudah melakukan kewaspadaan dan sudah memperlihatkan adanya peningkatan kasus Covid-19,” katanya.

Nadia menambahkan walaupun sudah membatasi mobilitas harus tetap melaksanakan protokol kesehatan. Hal itu adalah kunci untuk menekan laju penularan. Nadia mengatakan biasanya jumlah kasus di Indonesia antara di bawah 5 ribu atau 4 ribu, atau paling sedikit 5.500. Bahkan pernah meloncat sebanyak 5.800 kasus artinya ada tambahan sebanyak 600 kasus.

Kalau dilihat grafiknya kasus mulai turun sejak awal Februari terus sampai dengan Maret, di April terlihat ada sedikit kenaikan. “Ini yang tentunya selalu kita harapkan bahwa penurunan kasus betul-betul kita bisa turunkan ke titik yang paling rendah, dan kita tekan supaya tidak ada terjadi lonjakan kasus. Kami ingatkan terjadi penambahan sebanyak 600 yang tentunya harus menjadi kewaspadaan,” tegas Nadia.

Terkait meningkatnya mobilitas penduduk berdampak pada peningkatan jumlah kasus aktif Covid-19. Untuk itu masyarakat diingatkan untuk mengambil keputusan bijak dalam menyambut libur Idul Fitri tahun ini karena Indonesia masih dalam masa pandemi.

Lebih Baik Tidak Mudik

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito mengatakan tidak mudik adalah cara terbaik untuk melindungi keluarga dari Covid-19. Ia mengaku mengerti bahwa mudik merupakan sarana pelepas rindu yang sangat dinantikan masyarakat setiap tahunnya.

“Ada risiko yang lebih besar, utamanya risiko kehilangan orang terdekat apabila memaksakan diri mudik dalam situasi pandemi seperti ini,” ujar Wiku, Sabtu (1/5). Tradisi mudik memang adalah cara menunjukkan kasih sayang kepada keluarga di kampung halaman. Namun, cara ini bukanlah satu-satunya. Karena di tengah situasi pandemi ini, cara bijaksana menunjukkan kasih sayang adalah dengan melindungi sanak saudara, utamanya yang berusia lanjut dari risiko tertular Covid-19.

“Sekali lagi, Satgas sangat memahami keputusan untuk tidak mudik adalah keputusan yang berat. Tetapi Satgas optimis masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cukup dewasa dan mampu mengambil keputusan terbaik, untuk sama-sama melindungi keluarga dan orang-orang di sekitar kita,” ungkapnya.

Prof Wiku juga meminta pemerintah daerah melakukan sosialisasi kebijkan peniadaan mudik lebaran tahun ini. Pemerintah daerah diharapkan segera membuat landasan hukum yang kuat terkait kebijakan mudik di wilayahnya masing-masing. Dia menegaskan bahwa pemerintah sudah melakukan rapat koordinasi bersama pemerintah daerah terkait hal ini untuk persiapan pelaksanaan kebijakan peniadaan mudik lebaran.

“Pemerintah daerah harus mensosialisasikan secara jelas, antara periode pengetatan mobilitas dan peniadaan kegiatan mudik. Sosialisasi harus dilakukan hingga ke akar rumput hingga masyarakat dapat memahami dengan baik kebijakan mudik yang dikeluarkan pemerintah,” ungkapnya.

Selama periode 22 April-5 Mei 2021, semua kegiatan perjalanan masih diperbolehkan dengan pengetatan mobilitas melalui syarat hasil negatif Covid-19 yang berlaku 1×24 jam. Lalu, pada tanggal 6-17 Mei 2021, kegiatan perjalanan yang diperbolehkan hanya untuk kepentingan pekerjaan, urusan mendesak, dan keperluan nonmudik lainnya. Untuk pengecualian ini harus tetap mematuhi syarat wajib yaitu menyertakan surat negatif Covid-19 dan surat izin bepergian dari pihak berwenang terkait.

“Kedua dokumen ini akan diperiksa petugas di lapangan. Dalam periode ini, perjalanan mudik dilarang,” ungkapnya.  Selanjutnya, pada periode 18-24 Mei 2021, kembali diberlakukan peraturan pengetatan mobilitas yang persyaratannya sesuai dengan periode sebelum peniadaan mudik.(jp)

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!