Deteksi Dini Autisme

Mendeteksi autisme sedini mungkin pada anak penting untuk dilakukan. Hal itu agar segera mendapat penanganan yang tepat, dan untuk mencegah permasalahan lainnya ketika anak tumbuh dewasa.

Oleh : Siti Sulbiyah

Autisme adalah gangguan perkembangan pada anak yang menyebabkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi anak terganggu sebelum usia 3 tahun. Konselor Anak Berkebutuhan Khusus, Tri Gunadi mengatakan, meski merupakan gangguan perkembangan, namun autisme bukanlah sebuah penyakit.

“Autisme bukan penyakit jadi jangan mengatakan, kapan anak saya sembuh? Tapi katakan kapan anak saya mampu mengejar ketertinggalan perkembangan?” ungkapnya, dalam kegiatan Kupas Tuntas Mendeteksi dan Cara Penanganan Autisme di 1000 HPK, MInggu (14/11).

Tugas orangtua ketika anaknya diketahui mengalami autisme adalah membantu mereka agar dapat mengejar ketertinggalan perkembangan sesuai dengan umur anak. Karena itulah, deteksi dini perlu dilakukan terhadap anak dengan melihat gejala-gejala yang tampak.

Tri Gunadi

“Anak autis adalah anak yang mempunyai ciri utama senang dengan kesendirian, cuek, serta tidak peduli dengan lingkungan,” ucapnya.

Autis juga disebut Autisme Spectrum Disorder (ASD). Tri mengatakan, ada ciri autis dapat terlihat sejak awal anak lahir, yang disebut progresi. Ada pula yag disebut dengan regresi, yang mana anak pernah mencapai perkembangan normal, tapi mendekati usia 2-3 tahun baru memunculkan ciri-ciri autis.

“Jadi jangan menunggu sampai usia 3 tahun, karena kenapa? Karena ciri-ciri itu sudah bisa disadari sejak bayi,” ucap Direktur Pusat Yamet Indonesia ini.

Dia mengatakan penyebab autisme tidak diketahui secara pasti. Namun, risiko terjadinya gangguan ini dapat meningkat apabila terdapat faktor yang mempengaruhinya. Seperti faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan itu seperti paparan racun, asap rokok, infeksi, efek samping obat-obatan, dan gaya hidup tidak sehat selama hamil.

“Serta gagalnya fase attachment di fase 1000 HPK (Hari Pertama kelahiran) satu atau dua tahun pertama,” ucapnya.

Attachment adalah ikatan jangka panjang yang sangat kuat yang berkembang antara bayi dan orang tua atau pengasuhnya. Dia menilai, gagalnya fase ini pada anak usia 0-2 tahun, maka anak akan cuek dengan orang. Saat ini banyak terjadi gangguan ASD, karena gagalnya fase attachment anak di usia 0-2 tahun tersebut.

“Mengapa? Salah satunya mungkin karena ayah dan bunda sibuk, dan karena WFH (Work From Home), yang awalnya terbagi ke beberapa lingkungan, kayak misalnya playgroup, dan bundanya kualahan akhirnya dikasi gadget sama TV. Akhirnya, anaknya gagal mencapai emotional bonding-nya di 1000 HPK,” paparnya.

Dia melanjutkan berdasarkan penelitian dari Bristol University tahun 2010, yang menyebutkan bahwa apabila emotional bonding gagal terbentuk pada usia 0-2 tahun lantaran pola pengasuhan yang mengandalkan gadget dan TV, maka ada beberapa faktor-faktor risiko ASD, seperti kecanduan, fokus konsentrasi minim, tumpul kemampuan sosialnya, serta agresif.

“Anak-anak yang sudah keracunan gadget ini akan ngamuk dan bahkan tantrumnya tidak normal, tantrumnya sudah menjadi patologis. Selain itu anak juga cuek dengan orang, kurang tidur, dan terpapar radiasi,” jelasnya.

Ada beberapa ciri autisme yang tampak jelas, antara lain, minim bahkan tidak ada kontak mata, tidak bisa bersosialisasi, tidak mampu dua arah komunikasi, tiba-tiba tertawa pada situasi yang tidak tepat, serta tidak bermain sebagaimana mestinya.

“Misalnya bermain mobil, rodanya saja yang diputar-putar. Jadi seperti memainkan barang yang tidak semestinya,” ucapnya.

Ciri lainnya, tambah dia, adalah anak autis kerap membeo atau echolalia, maunya tetap/rigid/stereotipik atau benci perubahan. Komunikasi dilakukan dengan bahasa verbal seperti lebih sering menunjuk atau menarik tangan, serta mengucapkan kata-kata berulang yang itu-itu saja.

Tri mengingatkan untuk tidak keliru dalam menangani anak autis. Selain membutuhkan terapi dari profesional, orangtua juga perlu mempersiapkan sistem yang mendukung tumbuh kembang anak. “Siapkan sistem, jauhkan dari TV dan gedget agar terbentuk emosional bonding anak,” pungkasnya.**

error: Content is protected !!
Hubungi Kami!