Diabetes, Komorbid Covid-19 yang Berisiko Fatal

PONTIANAK – Covid-19 dapat menjadi ancaman bagi semua orang, terlebih bagi mereka pengidap diabetes. Penyakit yang disebabkan oleh lonjakan gula darah ini membuat risiko komplikasi infeksi virus corona semakin parah. Pasien covid-19 dengan penyakit penyerta atau komorbid diabetes memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami dampak yang fatal.

“Memang banyak data yang memperlihatkan bahwa infeksi virus covid-19 sedikit banyak dipengaruhi komorbid, salah satunya diabetes  ini,” ungkap dr. Amanda Trixie, dokter di RS Sultan Syarif Mohamad Alkadri, saat kegiatan Talkshow Awam bertema ‘Diabetes Mellitus di Masa Pandemi’ yang digelar oleh Indrakita secara virtual, Sabtu (14/11).

Menuruntya, diabetes menjadi salah satu komorbid yang paling banyak ditemukan pada pasien Covid-19, setelah hipertensi. Disusul setelahnya penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronis, gangguan pernapasan lain, dan beberapa kondisi medis lainnya. Diabetes sendiri merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi akibat gangguan kerja insulin.

Dari sisi kerentanan tertular, lanjut dia, pengidap diabetes sama saja dengan orang pada umumnya. Setiap orang menurutnya punya potensi yang sama tertular yang sama. Namun yang membedakan antara diabetesi dengan orang biasa adalah ketika telah tertular. “Tapi kalau tertular, tingkat keparahannya tentu berbeda,” tutur dia.

Kondisi ini yang menurutnya membuat pasien diabetes enggan memeriksakan diri selama pandemi. Dia melihat saat ini ada penurunan diabetesi yang datang untuk kontrol secara rutin. Hal ini dinilainya justru membuat masalah baru, karena pasien diabetes tidak memerikasakan dirinya.

“Jadinya mereka gak minum obat. Pada beberapa pasien memang masih ada inisiatif, tapi beberapa yang lain tidak melanjutkan obat. Kontrol gula darah jadi kurang baik,” tutur dia.

Lantas bagaimana diabetesi dapat melakukan kontrol di rumah sakit? Menurut Amanda, pada prinsipnya, di mana pun berada penerapan protokol kesehatan menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko tertular virus. Bahkan, kata dia, tak hanya protokol kesehatan ketika ke rumah sakit atau berjalan jauh, bertamu ke tempat tetangga pun juga harus menerapkan protokol kesehatan ini.

Adapun saat ini, lanjut dia, di rumah sakit sudah menyiapkan berbagai fasilitas yang mendukung penerapan protokol kesehatan. Selain itu, banyak rumah sakit juga telah membuka layanan telekonsultasi, yang membuat pasien dapat berkonsultasi dengan dokter via sambungan telepon.

“Apalagi kalau rumah sakitnya ada telekonsultasi, ini tentu bisa dilakukan terutama untuk pasien lama yang rutin konsultasi. Kecuali untuk pasien baru, tentu harus ketemu,” tutur dia. (sti)

error: Content is protected !!