Diet Karbohidrat Turunkan Berat Badan

Banyak cara yang dilakukan untuk menurunkan berat badan. Diet karbohidrat salah satunya. Sebagian orang beranggapan dengan cara ini berat badan mudah turun.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Kini, diet karbohidrat mulai banyak dilakukan.  Kebanyakan menganggap diet ini sama sekali tidak mengonsumsi karbohidrat. Ahli Gizi Edy Waluyo mengatakan setiap orang bebas memilih jenis diet yang ingin dilakukan, baik itu untuk menurunkan berat badan atau mendapatkan bentuk tubuh ideal. Namun, tetap harus mempertimbangkan baik dan buruk, serta kondisi tubuh sebelum menjalani diet, termasuk ketika memilih untuk menjalankan diet karbohidrat ini.

Karbohidrat termasuk kebutuhan zat gizi yang harus dipenuhi untuk menjaga kesehatan tubuh, disamping protein, lemak, vitamin dan mineral. Komposisi karbohidrat cukup besar, yakni 60 persen sampai 70 persen dari kebutuhan.

Edy menjelaskan karbohidrat yang dikonsumsi akan diabsorbsi dalam bentuk glukosa. Selain sebagai sumber energi, glukosa juga berperan penting bagi sel darah merah, yakni sebagai sumber untuk disosiasi antara hemoglobin dan oksigen agar terikat dengan kuat.

Edy menuturkan sebelum memutuskan menjalani diet karbohidrat, ada dua jenis karbohidrat yang harus dipahami, yakni karbohidrat kompleks dan karbohidrat sederhana. Meski sama-sama karbohidrat, tapi fungsi keduanya ini berbeda jauh.

Karbohidrat kompleks adalah jenis karbohidrat yang dihasilkan dari olahan gandum utuh seperti oatmeal dan beras cokelat atau beras merah. Karbohidrat kompleks sangat sehat dan mengandung banyak nutrisi.

Karbohidrat sederhana adalah jenis karbohidrat seperti nasi, roti, dan pasta. Karbohidrat ini cenderung mengandung indeks glikemik tinggi, sehingga bisa meningkatkan kadar gula darah secara signifikan.

Edy mengungkapkan sah-sah saja menjalankan diet karbohidrat. Tetapi, bukan berarti pelaku diet tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali demi menurunkan berat badan dan mendapatkan bentuk tubuh ideal.

“Anggapan bahwa diet karbohidrat tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali itu adalah salah. Karena tubuh tetap membutuhkan karbohidrat untuk menghasilkan energi,” ungkapnya.

Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menyatakan pelaku diet bisa memulai dengan mengurangi takaran asupan karbohidrat.

Misalnya, ia mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti nasi, maka nasi yang dikonsumsi bisa dibatasi sebesar 10 persen dari total kebutuhan tubuh. Namun, jika tidak ingin menjadikan nasi sebagai sumber utama karbohidrat, karena dirasa bisa meningkatkan kadar gula darah secara signifikan. Pelaku diet bisa mencari alternatif lain, yakni mengonsumsi olahan karbohidrat sederhana, seperti nasi merah atau oatmeal.

Beras merah dan oatmeal memiliki kadar kalori lebih rendah sehingga aman untuk dikonsumsi. Pelaku diet juga bisa mengonsumsi sayur dan buah. Sayur dan buah termasuk karbohidrat yang kaya serat.

“Terpenting, jangan sampai menghilangkan pemenuhan karbohidrat sebagai zat gizi tubuh,” saran Edy.

Meski telah menemukan pengganti untuk pemenuhan karbohidrat, kata Edy, bukan berarti bebas mengonsumsinya secara berlebihan. Pelaku diet tetap harus memperhatikan kalori dari karbohidrat tersebut agar program berjalan lancar.**

error: Content is protected !!