Digeber di Lanjak, 14-15 September

TAK PAKAI KOMPOR: Salah satu yang disyaratkan dalam Festival Makanan Tradisional 2019 adalah bahwa peserta dilarang menggunakan kompor. KUMPARAN.COM

Festival Makanan Tradisional 2019

PUTUSSIBAU – Yayasan Riak Bumi bersama lembaga lain akan menggelar Festival Makanan Tradisional 2019 di Lanjak, Kacamatan Batang Lupar. Event tahunan ini rencananya akan diselenggarakan sepanjang 14 – 15 September.

Penitia Festival Kuliner Deasy Rinayanti Pelealu menjelaskan bahwa festival kuliner ini bertujuan untuk mempromosikan praktik terbaik masyarakat setempat. Mereka yang datang ke festival diharapkan dia, dapat menyaksikan langsung bagaimana membuat olahan makanan, dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan, serta pemanfaatan bahan baku dari hutan yang alami, higienis, dan sehat.

“Festival ini akan membuat bangga masyarakat atas makanan tradisional yang berasal dari hutan dan juga terhadap kearifan tradisi budayanya,” kata Deasy, kemarin, di Putussibau.
Setelah mendapatkan promosi, diharapkan dia pendapatan masyarakat setempat akan meningkat. Dia menambahkan, akan ada identifikasi makanan khusus, yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan nilainya dan dikomersialkan di masa mendatang.

Deasy menceritakan, Festival Makanan Tradisional sudah berlangsung beberapa tahun belakangan ini di Lanjak. Idenya, sebut dia, dimulai dari beberapa orang di Yayasan Riak Bumi, yang berkeinginan untuk kembali mengenalkan makanan-makanan tradisional. Makanan-makanan tradisional yang dimaksud, menurut dia, dulunya sering mereka makan sehari-hari, tapi mulai jarang disuguhkan, karena tergerus dengan makanan yang serba instan. Padahal, dia menambahkan, makanan yang bersumber dari alam, hutan, sungai, dan kebun sekitar mereka, memiliki cita rasa dan nilai kesehatan yang baik, karena diolah dari bahan alami.

“Dalam festival ini, persyaratan utama tentunya bahan makanan yang digunakan harus berasal dari lingkungan sekitar mereka. Selain itu tidak diperbolehkan menggunakan bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan,” ucapnya.

Nantinya, dijelaskan dia, satu kelompok terdiri dari 3 – 4 orang. Kelompok ini, yang menurut dia, menentukan menu makan yang nantinya akan mereka persiapkan. Dia juga menjelaskan bahwa menu makan terdiri dari beberapa macam, di mana ada menu makanan utama, makanan pembuka, makanan penutup, dan minuman tradisional. “Masing-masing kelompok akan mencoba menyuguhkan menu makanan terbaik mereka. Sehari sebelumnya mereka pergi ke hutan dan ke sungai untuk mencari bahan-bahan makanan yang mereka butuhkan,” paparnya.

Bahan-bahan makanan yang dimaksud dia adalah yang sejak dulu masyarakat manfaatkan, baik untuk makanan pokok seperti rebung, singkong, ubi jalar. Atau, lanjut dia, sebagai campuran makanan seperti umbut asam kecala untuk campuran makanan ikan. “Bahkan ada ulat sagu gemuk berwarna putih penuh protein dimasak dengan bumbu bumbu tradisional,” tuturnya.

Setelah selesai diramu, masakan itu, menurut dia, akan dinilai oleh juri kuliner. Pengunjung pun akan dipersilakan mereka untuk menyantap makanan-makanan yang terhidang. “Alam sebenarnya sudah menyediakan kekayaan alam yang melimpah. Tinggal bagaimanan kita semua bersama menjaga supaya alam tetap lestari, dan sumber makanan terjaga,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Riak Bumi Valentinus Heri mengatakan, sejak dahulu, potensi sumber daya alam di Kapuas Hulu ini telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai pendukung ketersediaan pangan. “Beragam bahan baku tersebut diolah sedemikian rupa menjadi sebuah kuliner tradisional yang khas dan dapat dinikmati banyak orang,” ucapnya.

Selain memiliki keunggulan khusus, makanan dari hutan, menurut dia, memiliki cita rasa dan nilai kesehatan yang baik, karena diolah dari bahan alami. Pada saat yang sama, dia menambahkan, pada zaman sekarang, promosi makanan instan sangat gencar, hingga ke pelosok tanah air bahkan didesa-desa terpencil.

Diakui dia, banyak sekali makanan dari luar yang menawarkan makanan cepat saji yang bahan makanan yang kadang kala tidak jelas asalnya. Bahkan, dikhawatirkan dia, beberapa di antaranya menggunakan bahan pewarna dan pengawet berbahaya, yang tentunya ke depan akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. “Selain itu, untuk mendapatkannya harus mengeluarkan uang yang sebetulnya tidak perlu bagi masyarakat yang tidak sedikit,” ucapnya.

Padahal, menurut dia, masyarakat yang hidup di sekitar hutan memiliki kekayaan sumber makanan dari alam yang bisa diperoleh secara gratis. Oleh karena itu, dia menambahkan, perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat merasa bangga akan makanan dari hutan yang lebih sehat. Dorongan serupa juga dimaksudkan dia, bagaimana masyarakat kembali kepada makanan yang alami atau back to nature. “Ini juga dalam upaya mempromosikan dan berbagi pengetahuan dalam pemanfaatan serta pengelolaan sumber daya berkelanjutan berbasis kearifan tradisi,” tutupnya. (arf)

Read Previous

Menanti Kejutan Lainnya

Read Next

Sepauk Miliki Dua Puskesmas

Tinggalkan Balasan

Most Popular