Dikala Harapan Tak Sesuai Kenyataan

opini pontianak post

Oleh : Harjani Hefni, Lc

RASULULLAH saw dianugerahi oleh Allah enam keistimewaan yang tidak diberikan kepada Nabi sebelumnya. Enam keistimewaan itu Beliau sebutkan sendiri dalam sabdanya: “ Aku dikaruniai enam keistimewaan yang tidak diberikan kepada para nabi yang lain: aku diberi jawami’ alkalim, aku dimenangkan dengan ketakutan yang menggelayuti perasaan musuh, ghanimah dihalalkan untukku, bumi buatku dijadikan suci dan bisa dijadikan tempat sujud, aku diutus untuk seluruh makhluk, dan kenabian ditutup dengan kehadiranku.” (HR. Muslim).

Tulisan ini fokus membahas keistimewaan pertama Rasulullah saw. yaitu anugerah jawami’ al kalim. Jawami’ al kalim dapat diartikan sebagai kalimat yang mampu menjelaskan secara gamblang apa yang dimaksud oleh pembicara dengan kata-kata yang singkat.

Tulisan ini mengangkat satu hadis Rasul yang cukup singkat tapi mengandung makna yang sangat padat tentang bagaimana menjalani kehidupan sehingga berkualitas dan bagaimana menghadapi kondisi yang tidak kita harapkan.

Hadis ini di riwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahuanhu ,beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda:  “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azzawa Jalla dari pada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan. (HR. Muslim).

 

Pelajaran dari Hadis

Di antara pelajaran penting dari hadis di atas, pertama, orang yang beriman memiliki dua kriteria, mukmin qawiyy (mukmin yang kuat) dan mukmin dhaif (mukmin yang lemah).

Menurut Rasulullah, mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Hadis ini menyiratkan pesan, kalau ingin menjadi lebih baik dan lebih dicintai Allah, maka harus berpindah dari lajur lemah kelajur kuat. Tapi, hadis ini juga tetap memberikan apresiasi kepada semua orang yang beriman, bahwa mereka tetap baik.

Dalam Alquran, kualitas seorang mukmin dibagi tiga: pertama dan paling tinggi ialah mukmin sabiqun bilkhairat bi-iznillah; kedua, mukmin muqtashid; ketiga, mukmin dzalimun linafsih. Mukmin sabiqun bilkhairat adalah mukmin yang selalu haus dengan kebaikan, jika ada peluang kebaikan dia selalu terdepan untuk melakukannya. Mukmin level ini tidak hanya melaksanakan kewajiban, bahkan hal-hal yang di anggap sepele sekali pun dilakukan, seperti melepas senyum kepada saudaranya ketika bertemu, atau bersedekah dengan separoh kurma karena tidak mampu bersedekah dengan satu biji kurma.

Adapun mukmin muqtashid ialah mukmin pertengahan. Mukmin level tengah ini tidak lalai dengan kewajiban, tetapi belum bersemangat untuk melakukan amalan-amalan sunnah. Banyak amal sunnah yang seharusnya bisa menambah pahala, tetapi terlewat begitu saja.

Sedangkan mukmin dzalimun linafsih ialah mukmin yang menggabungkan antara ibadah dengan maksiat, dan maksiatnya lebih banyak dari amal baiknya. Dua pendekatan ini tidak bertentangan, bahkan cenderung saling menyempurnakan. Jika mengikuti pembagian hadis, maka mukmin yang kuat adalah mukmin sabiqun bilkhairat serta mukmin muqtashid, mereka lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dibandingkan mukmin yang lemah atau mukmin dzalimun linafsih. Meskipun bertingkat seperti kriteria di atas, sepanjang dia beriman, maka mereka memiliki kebaikan.

Pelajaran kedua, agar kehidupan mukmin berkualitas, Rasulullah memerintahkan ummatnya untuk bersungguh-sungguh memanfaatkan peluang apapun yang ada di hadapannya (ihrish ‘ala ma yanfauka), meminta tolong kepada Allah (wastainbillah) dan tidak boleh merasa lemah (walata’jaz).

Pesan kedua ini adalah Mutiara. Pesan ini menginstruksikan semua mukmin agar bersemangat melakukan apa saja yang bermanfaat untuknya dan tidak menyia-nyiakan peluang yang ada. Agar peluang itu berubah menjadi manfaat maka hendaklah meminta tolong kepada Allah dan tidak merasa lemah untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan, karena hal itu akan melemahkan motivas untuk berprestasi.

Lewat pesan singkat ini juga Rasulullah mengirimkan pesan kepada kita agar meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat atau kurang manfaatnya. Pesan singkat ini kalau dipraktikkan akan mendongkrak produktivitas yang luar biasa di tubuh umat Islam.

Pelajaran ketiga, bagaimana menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan permintaan kita. Beliau menyatakan, jika kamu ditimpa suatu musibah, jangan kamu mengatakan seandainya aku melakukan hal ini dan itu, pasti yang terjadi adalah ini dan itu.

Pelajaran ketiga ini juga sangat mahal. Hidup ini selalu berhadapan dengan sesuatu yang diharapkan atau tidak diharapkan. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang diharapkan, mungkin mudah bagi kita untuk mengucapkan alhamdulillah, bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Namun demikian, tidak sedikit juga orang  yang tidak lulus dalam ujian kemudahan ini, lalu dia menyombongkan diri atas prestasinya, seolah-olah prestasinya itu murni usaha dan perjuangannya. Ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan, banyak orang salah memilih kata, lalu mengucapkan hal-hal yang tidak pantas untuk diucapkan. Di antara yang paling sering terlontar adalah kata seandainya, andaikata, atau coba kalau saya melakukan hal ini…tidak mungkin seperti ini…. Ternyata Rasulullah melarang hal ini diucapkan oleh ummatnya. Rasulullah saw tidak sekedar melarang, tetapi menjelaskan kenapa pernyataan ini tidak boleh dibudayakan. Rahasianya ternyata pernyataan ini adalah password pembuka amal setan untuk merusak manusia.

Orang yang berandai-andai dengan peristiwa yang sudah terjadi ini akan dipermainkan perasaannya. Semakin dia ungkapkan kekecewaan dan penyesalannya semakin dalam lukanya dan semakin terasa sakitnya. Padahal kecewa terhadap kegagalan atau menyesali kejadian itu tidak akan menjadikan kejadian tersebut kasihan dengannya lalu dia menyapa dan menghiburnya….tidak…tidak mungk ini terjadi. Bahkan setan bisa lebih dalam merusak manusia, tidak mustahil ada orang yang sampai memprotes keadilan dan kasih sayang Allah.

Agar hal itu tidak terjadi, Rasulullah mengajarkan kita untuk menggunakan password ‘qodarullah, wamasya-a, fa’ala (semua kejadian adalah sudah ketentuan dari Allah, apapun yang Dia kehendaki pasti akan terjadi).  Kalimat ini mengajarkan kepada kita hakikat kehidupan. Kita semua memang diberikan kehendak dan kebebasan, tetapi kehendak kita tidak akan terwujud kalau Allah tidak berkehendak. Tapi kalau kehendak kita bersesuaian dengan kehendak Allah, maka tidak ada yang mustahil di dunia ini, pasti akan terjadi.

Takdir adalah kata kunci ketenangan. Takdir adalah pembangkit optimisme. Dan takdir juga adalah senjata untuk merontokkan kepongahan dan kesombongan manusia. Disaat menghadapi musibah, lalu mengucapkan qodarullah, wamasya-a fa’ala, kita yakinkan diri bahwa kejadian yang menimpa kita sudah dalam hitungan Allah Yang Maha Kasih. Dia pasti lebih tahu apa rahasia dibalik ujian itu. Dengan kata itu juga kita mengakui betapa lemahnya manusia di hadapan Allah, karena tidak semua kehendak kita bisa wujudkan. Tapi dengan kata itu juga kita menjdi optimis, apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.

 

Kesimpulan

Tiga perkara untuk menjadi mukmin yang kuat: pertama, memiliki semangat untuk meraih kebaikan dan cinta Allah; kedua, bersungguh-sungguh melakukan yang bermanfaat; dan ketiga, hadapi kenyataan hidup dengan password takdir. Semoga kita menjadi yang terbaik dan paling dicintai Allah.

 

*) Penulis adalah Dosen IAIN Pontianak

loading...