Dilema Pekerjaan dan Sekolah Daring

Distance learning online education. A schoolboy boy studies at home and does school homework. A home distance learning.

Masa pandemi Covid-19 membuat para ibu yang bekerja harus bisa membagi waktu.  Selain menjalani pekerjaan di kantor, juga harus bisa mendampingi anak sekolah daring. Ditambah lagi mengurus rumah tangga. Semua harus terlaksana dengan baik.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Sekolah daring yang diterapkan pemerintah sejak Maret 2020 membawa perubahan besar. Tidak hanya bagi anak didik, tapi juga orang tua. Baik ayah maupun ibu turut terlibat dalam proses belajar mengajar. Namun, kebanyakan sosok ibu yang menemani sang buah hati sekolah secara daring.

Tentu saja ibu harus menyiapkan waktu secara fulltime saat buah hati mengikuti sekolah daring. Hadir secara fisik, duduk di samping anaknya, menemani, membantu dan mengantikan peran guru di sekolah untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah yang diberikan melalui media daring.

Meski repot, aktivitas mendampingi buah hati sekolah daring ini masih tetap bisa dilakukan bagi ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja dari rumah. Sedangkan bagi ibu yang masih bekerja di kantor tentu sulit melakukan hal tersebut, karena ia memiliki tanggung jawab lain di luar perannya sebagai ibu.

Psikolog Desni Yuniarni, M.Psi mengatakan ibu pekerja harus bisa melakukan penyesuaian. Tentunya, berkaitan dengan ritme kerja yang dilakukan dan proses belajar mengajar buah hati. Penyesuaìan ini harus ditanggapi dan dimaknai secara positif.

Hal pertama yang harus dipersiapkan ibu pekerja adalah mental dan cara berpikir positif. Desni menyatakan tentu sangat berat untuk bisa melakukan semua peran. Di satu sisi ibu harus mengerjakan tugas kantor yang terasa berat karena adanya pembatasan yang dilakukan di tempatnya bekerja.

“Belum hilang rasa lelah dan penat, saat sampai di rumah ia sudah harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Serta, mendampingi dan mengajar buah hati,” katanya.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ibu pekerja yang kebetulan waktu kerjanya bersamaan dengan sekolah daring anak. Jika memang tidak memungkinkan untuk melakukan seluruhnya secara bersamaan, orang tua baik ibu dan ayah bisa mencari solusi terbaik untuk menyikapi kondisi ini.

Pemilik Biro Psikologi Indigrow Pontianak ini menuturkan bisa saja keputusan yang diambil adalah mencari pengganti untuk mendampingi buah hati saat sekolah daring berlangsung. Bisa dari keluarga seperti om, tante, kakek dan nenek. Maupun orang lain yang sudah dipercaya, seperti guru les.

“Tentunya, keputusan ini harus disepakati oleh seluruh keluarga,” tutur Desni.

Walaupun sudah mengambil keputusan ini sebagai jalan terbaik, tetap saja orang tua harus memberikan aturan dan rambu pada sosok pengganti. Misalnya, wajib mendampingi anak dari awal hingga akhir sekolah daring. Kemudian tidak boleh membantu mengerjakan tugas anak.

“Jika yang bersangkutan membantu mengerjakan tugas anak, kapan anak bisa belajar? Intinya, fungsi sosok pengganti ini mendampingi dan mengawasi, serta memberikan pengarahan,” ujar ibu dua anak ini.

Tidak lupa untuk menyamakan presepsi antara orang tua dan sosok pengganti. Apa saja tugas dan tanggung jawab selama anak sekolah daring. Tujuannya untuk meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Dikhawatirkan pada saat ada keluhan dari guru, orang tua langsung menyalahkan sosok pengganti.

“Tentu hal ini tidak adil,” sambung Desni.

Disamping itu, orang tua juga harus menjelaskan kepada anak mengenai sosok pengganti. Karena tidak jarang ada anak yang menolak. Dosen program studi PG-PAUD, FKIP Untan ini menyarankan ibu bisa mengajak anak berbicara empat mata. Berikan pemahaman bahwa setiap keluarga itu berbeda-beda. Ada temannya yang bisa didampingi karena ibunya tidak bekerja di kantoran. Tetapi, ada juga teman yang bernasib sama tidak bisa didampingi karena ibunya bekerja. Tetapi, yang paling penting bekerja atau tidak semua ibu pasti sayang sama anaknya. Bedanya, saat ini ibu bekerja tidak bisa mendampingi.

“Ibu tetap bisa mendampingi jika ada mendapatkan tugas dan pekerjaan rumah di luar sekolah daring,” ucap Desni.

Membuat anak memahami kondisi yang ada memang tidak mudah.

“Orang tua harus bisa menyakinkan anak bahwa rasa sayang, perhatian dan tanggung jawab sebagai ibu tidak akan berkurang, meski ia tidak bisa mendampingi anaknya saat sekolah daring, seperti ibu teman-temannya di sekolah,” kata Desni.**

error: Content is protected !!