Dimulai dari Majalah Borneo Barat Bergerak

borneo bergerak
100 TAHUN: Surat Kabar Borneo Barat Bergerak (BBB) menjadi pionir munculnya media pers di masa kolonial Belanda di Kalbar. Koran ini terbit pada 1 Oktober 1919. ist

1 Oktober 2019 menjadi hari bersejarah untuk memperingati peran dan keberadaan pers di Kalimantan Barat. Tepat satu abad lalu, untuk kali pertama pers terbit di daerah ini.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

ADALAH majalah bernama Borneo Barat Bergerak (BBB) yang menjadi pionir munculnya media pers di masa kolonial Belanda. Tepat 100 tahun lalu, majalah yang terbit seminggu sekali ini muncul, karena para pendirinya melihat pendidikan di Kalbar belum tumbuh. Sehingga dengan adanya pers, rakyat di Kalbar diharapkan bisa memperoleh pengetahuan yang faktual.

Peneliti Sejarah Syafaruddin Usman mengungkapkan, tokoh pers Kalbar yang menonjol saat itu diantaranya Gusti Sulung Lelanang dan Sarman bin Sariban. Duet kedunya yang membuka wacana bermedia massa ketika itu.

Gusti Sulung Lelanang sebagai salah satu aktivis Syarikat Islam yang baru pulang dari Jakarta bertemu dengan teman-teman mudanya yang sehaluan di Pontianak. Selain Sarman bin Sariban ada juga nama Soetan Lembaq Toeah sebagai pemilik modal. Lalu Soetan Muhammad Anwar serta Hadji Zoebir.

“Mereka ini yang mengusahakan penerbitan (BBB) itu. Daerah percetakannya itu sekarang Jalan Tanjungpura sekitar Rumah Makan Sahara. Terbit pertama kali pada 1 Oktober 1919,” ungkapnya.
Mengenai penerbitannya yang hanya mampu terbit tujuh hari sekali, disebabkan keterbatasan sarana dan prasarana pada masa itu. Seperti ketersediaan kertas, mesin cetak, termasuk ongkos produksinya. Selain itu jumlah pelanggannya pun masih terbatas dari kalangan tertentu yang mempunya minat baca.

Susunan redaksinya yakni Soetan Lembaq Toeah sebagai redaktur utama. Sarman bin Sariban sebagai wartawan, biasanya menggunakan inisial SBS, kerap menuliskan tentang kritik sosialnya yang tajam. Lalu Gusti Abdul Azis yang juga Presiden National Indische Partij (NIP) dan M Noerdin sebagai redaktur pembantunya.

Administrasi pelanggan dan periklanan dikelola Hadji Zoebir dan Tjia Tjeng Khe. Tugas redaktur membuat berita atau tulisan yang akan dimuat dalam BBB. Selain juga menyeleksi tulisan atau berita, baik yang ditulis para redaktur pembantu, wartawan, maupun masyarakat pembaca yang menyampaikan maksud dan gagasannya untuk dimuat di BBB.

Majalah BBB setiap terbitnya antara 12 sampai 16 lembar. Dengan mengusung motto “Pembatjaan, Pemimpin dan Penolong Anak Negeri”. Selain juga menuliskan motto lain, “Berani Karna Benar, Takoet Karna Salah” dan juga “Radja Adil Radja Disembah, Radja Lalim Radja Disanggah”.

Menurut Syafaruddin, sebelum terbitnya BBB, rakyat di Kalbar sangat sulit mendapatkan informasi yang akurat atas berbagai peristiwa atau kejadian yang terjadi di sekitar. Maka dengan adanya BBB, rakyat mulai mendapatkan informasi melalui tulisan-tulisan yang dimuat.

Majalah BBB dalam isinya memuat berbagai macam rubrik. Seperti rubrik redaksi, berita, artikel, surat pembaca dan kolom iklan. Rubrik redaksi ditulis khusus oleh redaksi yang memuat pemikiran dari redaksi.

Rubrik berita berisi peristiwa atau kejadian di masyarakat. Sedangkan rubrik artikel berisi tulisan-tulisan yang diambil dari kutipan atau tulisan para ahli atau ilmuwan. Sementara rubrik surat pembaca isinya tulisan dari masyarakat yang menyampaikan keluhan atau pertanyaan menyangkut persoalan sosial.

Sarman bin Sariban melalui tulisannnya saat itu berharap kepada kaum hartawan di daerah ini peduli terhadap nasib sesamanya. Dengan cara kaum hartawan tidak rakus terhadap hartanya, namun bersedia membantu kesusahan penduduk di Kalbar. Dengan demikian maka muncul sedikit demi sedikit kepedulian dan kesadaran dari kaum hartawan kepada bangsa dan tanah airnya.

Dalam BBB rubrik surat pembaca, ada beberapa pelanggan BBB yang menyampaikan pikirannya dalam rubrik tersebut. Seperti tulisan Oeraij Moeslimoen Nalaprana (OMN) yang menyampaikan unek-uneknya mengenai nasib lulusan Hollandsch-Inlandsche School (HIS) di Sambas. Dimana sejak 1915 para murid lulusan sekolah itu sangat jarang diterima masuk ke jenjang yang lebih tinggi.
Selain itu, berita-berita mengenai mirisnya dunia pendidikan di Mempawah juga disuarakan dalam kiriman pembaca. Salah satu pengirim tulisan yang menuliskan namanya Koembang  Mempawah misalnyya, menyampaikan berita tentang usaha dari guru sekolah di Mempawah dalam  mencari anak-anak yang mau bersekolah.

Sementara dari sisi iklan, beberapa usaha sudah mengisi majalah BBB. Seperti usaha jasa penjahit pakaian, penjualan topi serta dasi dari seorang bernama Ban Soen. Termasuk juga iklan dari Toko Fuku yang menawarkan barang dagangannya berupa sepatu, kemeja, payung, mantel hujan dan lainnya. Sarman bin Sariban sebagai salah satu golongan yang pandai saat itu juga menawarkan jasa untuk mengalihbahasakan dari bahasa Belanda ke bahasa Melayu atau sebaliknya.

Di samping itu, terdapat juga orang asing yang menawarkan jasanya dalam iklan di BBB, seperti Honda, seorang berkebangsaan Jepang yang menawarkan jasa tukang gambar atau lukis dan fotografer. Honda beralamat di Roemah Gambar sebelah Toko Fuku.

Namun sayang, majalah BBB hanya terbit selama 1919-1920. Atau hanya sekitar enam bulan mulai Oktober 1919 sampai Maret 1920. Dengan hanya menerbitkan 12 nomor atau seri.

Syafaruddin Usman menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat BBB tidak mampu bertahan lama. Pertama karena banyak tekanan oleh Pokrol atau Polisi di zaman Belanda. Kedua sensor yang terlalu ketat dan percetakaan yang sering mendapat intimidasi saat akan melakukan penerbitan. Lalu yang ketiga, BBB juga kehabisan biaya atau modal. Itu dikarenakan pelanggan yang masih sedikit, serta juga mendapat intimidasi karena kuatnya kekuasaan kolonial Belanda saat itu.

“Memang nantinya semua wartawan pengelola BBB ini, kemudian menerbitkan koran-koran berikutnya, seperti koran Halilintar, Berani yang dibuat oleh orang-orang yang sama,” terangnya.
Setelah BBB tutup, beberapa waktu kemudian muncul surat kabar harian pertama bernama Halilintar.

Yang menggerakkannya adalah tokoh muda yakni H Rais A Rahman. Dibantu orang-orang yang sama sebelumnya, seperti Gusti Sulung Lelanang sebagai salah satu motor penulis tetap di sana. “Tidak sampai setahun umurnya (Halilintar). Lalu terbit lagi surat kabar Berani, hanya lima bulan. Masalah yang dihadapi sama dan bahkan lebih parah,” katanya.

Wartawan-wartawan surat kabar Berani sempat ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel. Diantaranya Gusti Sulung Lelanang, Gusti Situt Mahmud, Gusti Johan Idrus, Muhammad Hambal, Muhammad Sood, Muhammad Sohor dan Ahmad Marzuki. “Fotografernya Ahmad Marzuki. Lalu Jeranding Abdurrahman juga tokoh pers yang menjadi wartawan di era itu,” paparnya.

Masa tenang pers di Kalbar mulai dirasakan setelah adanya politik etis di Indonesia. Yakni sejak 1930-an ke atas. Saat itu munculah tokoh-tokoh pers Kalbar seperti Ismail Usman ayahnya Rahadi Usman. Sampai kemudian masuk ke zaman penjajahan Jepang, para tokoh pers kembali tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itu sensor sangat ketat dan yang hanya boleh terbit adalah koran milik jepang bernama Borneo Shinbun. “Tahun 1944 banyak tokoh dibunuh Jepang, termasuk tokoh pers Kalbar tadi, maka tahun 1945 awal, pers mati suri. Tahun 1945-1946 Kalbar tidak memiliki koran,” paparnya.

Barulah di tahun 1947 didirikan surat kabar Suasana oleh dua bersaudara Ibrahim Saleh dan Ali Aswad Saleh. Lalu ada lagi koran bernama Terompet yang dipimpin Tan Husni dan Tan Djalil Abdullah yang juga dua bersaudara. “Baru muncul media pers lainnya seperti Kalbar Bergolak, Varia Pantai Utara, dengan tokohnya yang nantinya menjadi wartawan Akcaya senior bernama Samiri Haji Nalo,” terangnya.

Dari 1919 sampai 1949 dikatakan Syafaruddin Usman merupakan masa pers di zaman perjuangan. Setelah itu di tahun 1950 ke atas sampai saat ini, barulah masuk masa pers modern. “Sekarang usia pers kita (Kalbar) sudah 100 tahun, sayangnya surat kabar itu (lama) di Kalbar tidak ada, kecuali di Arsip Nasional RI (ANRI) yang menyimpan. Di Kalbar nyaris tidak ada, saya berani jamin yang lengkap itu ada di saya,” pungkasnya.

Terpisah Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR) Ahmad Sofian mengungkapkan, Oktober 2019 memiliki salah satu momen penting yakni satu abad penerbitan pertama kalinya surat kabar di di Kalimantan Barat atau Borneo Barat. Untuk itu ia dan sejumlah pegiat sejarah, jurnalis, pegiat kajian budaya, pegiat literasi, seniman, cineas, fotografi, mahasiswa dan unsur lainnya bekal mengadakan agenda kegiatan 100 tahun terbitnya surat kabar.

Tujuannya adalah agar masyarakat Kalbar secara umum mengetahui dan tidak lupa akan sejarah penerbitan surat kabar. Khususnya juga para praktisi, karena tidak hanya menyajikan cerita/berita, namun sesungguhnya juga mengungkap serta menyajikan fenomena sosial, ekonomi, budaya, politik, hankam dan lain sebaginya.

“100 tahun surat kabar di Kalbar juga bertepatan dengan Harjad Kota Pontianak yang ke-248. Kami akan menggabungkan dua moment tesebut. Ada kegiatan pameran koran langka dan pameran buku lokal,” ungkapnya.

Penulis buku Pontianak Heritage itu menjelaskan, dinamika perkembangan surat kabar di Kalbar sangat berpengaruhi dengan kondisi politik di daerah. Serta juga perkembangan zaman secara umum.
Dari surat-surat kabar yang pernah ada di daerah ini, setidaknya ada beberapa periodesasi. Pertama zaman Hindia-Belanda, sudah setidaknya 12 koran yang terbit, zaman pendudukan jepang satu koran, zaman kemerdekaan ada 20 koran, orde lama 26 plus 3 koran dan orde baru ada sebanyak 21 koran.

“Tapi data itu masih bersifat sementara, karen proses penelitian juga sedang berlangsung,” tutupnya. (*)

loading...