Dipukul di Telinga, Ditendang di Kaki

TEWAS: Rekonstruksi tewasnya siswa SMA Taruna Indonesia saat masa orientasi sekolah (MOS), kemarin, di Palembang. JAWA POS PHOTO

Korban Lain Dugaan Penganiayaan SMA Taruna Indonesia Depresi

PALEMBANG – Di pinggir jalan, Delwyn Berli Juliandro duduk kepayahan. Maklum, remaja laki-laki 14 tahun itu baru saja berjalan kaki 13 kilometer sebagai bagian dari prosesi Masa Dasar Bimbingan Fisik dan Mental (MDBFM) SMA Taruna Indonesia, Palembang.

Namun, Obby Frisman Arkataku, 24, salah seorang pembina, rupanya tak percaya. Dia menganggap Delwyn hanya pura-pura lelah.

”Tersangka mengakui melakukan kekerasan terhadap korban dengan cara memukul ke arah telinga sebelah kanan korban serta menendang dan memukul kaki korban,” ucap Kapolresta Palembang Kombespol Didi Hayamansyah dalam gelar perkara di Polresta Palembang, Sumatera Selatan, kemarin (16/7).

Delwyn yang sempat mengalami kejang-kejang di sekolah diketahui meninggal dalam perjalanan ke RS Myria, Palembang, pada Sabtu dini hari (13/7). Obby sudah ditetapkan sebagai tersangka. Pasal yang dikenakan pasal 80 ayat (3) jo pasal 76 huruf (C) UURI No 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. ”Ancaman pidana 15 tahun penjara,” katanya.

Mengenai motif, Didi menjelaskan, tersangka melakukan kekerasan karena menganggap korban berpura-pura saat melakukan kegiatan. ”Tersangka merasa kesal dan tersinggung karena kata-kata yang diucapkan korban. Selain itu, bisa juga faktor kelelahan karena jalan kaki sekitar 13 km,” lanjutnya.
Polisi sudah memeriksa 21 saksi sampai dengan kemarin. ”Tidak menutup kemungkinan bisa saja nanti ada tersangka lain,” lanjut Didi seperti dilansir Sumatera Ekspres (Jaringan Pontianak Post).

Apalagi memang ada korban selain Delwyn. Wiko Jerianda, 14, juga peserta MDBFM di SMA Taruna Indonesia, saat ini dirawat di RS Karya Asih Cabang Charitas, Palembang.

Sang ayah, Suwito, didampingi pengacara Firli Darta sudah melaporkan dugaan penganiayaan yang dialami Wiko saat MDBFM ke Polresta Palembang. Menurut pria 44 tahun itu, dirinya mendapat kabar dari pihak sekolah tentang kondisi sang anak pada Sabtu (13/7) sekitar pukul 14.00 WIB.
”Itu hari terakhir MOS (masa orientasi sekolah, di SMA Taruna Indonesia disebut MDBFM, Red). Kata yang menelepon, anak saya dibawa ke RS Karya Asih,” jelasnya kepada Sumatera Ekspres pada Senin lalu (15/7).

Read Previous

Cegah si Manis Berujung Kronis Masuk Top 99 Inovasi Terbaik 

Read Next

Penipuan Pinjol Traveloka Terbongkar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *